Latest update :
Recent Updates

Basukarna

BASUKARNA, yang lebih terkenal dengan sebutan Adipati Karna adalah lawan utama Arjuna dalam Baratayuda. Padahal kedua ksatria itu samasama putra Dewi Kunti. Basukarna adalah putra sulung, sedangkan Arjuna anak yang ketiga. Dalam dunia pewayangan Basukarna merupakan profil tokoh wayang yang otodidak, berjuang sendiri tanpa mengandalkan bantuan keluarga. Ia juga menjadi perlambang bagi karakter manusia yang tabu membalas budi, sekaligus rela berkorban bagi menangnya kebenaran, walaupun untuk itu ia harus mengorbankan jiwa dan bahkan juga nama baiknya. Basukarna adalah anak buangan. Ibunya adalah Dewi Kunti alias Dewi Prita, putri bungsu raja Mandura, Prabu Basukunti. Waktu masih berusia remaja, Dewi Kunti mencoba-coba menggunakan Aji Adityarhedaya, yakni ilmu untuk mendatangkan seorang dewa yang dikehendakinya. Ilmu dipelajarinya dari gurunya, Resi Druwasa, yang sengaja didatangkan Prabu Basukunti ke Keraton Mandura untuk mendidik Dewi Kunti.

Ternyata ilmu ajaran Resi Druwasa itu benar-benar ampuh. Dengan membaca mantra Aji Adityarhedaya, Dewi Prita alias Kunti berhasil mendatangkan Batara Surya. Tetapi kedatangan Batara Surya yang tampan itu membuat Dewi Kunti mengandung, padahal ia masih gadis. Setelah Prabu Kuntiboja mengetahui perihal musibah yang menimpa putrinya, ia amat marah dan segera memanggil Resi Druwasa. Guru Besar itu dipersalahkan telah mengajarkan ilmu tingkat tinggi pada gadis yang belum dewasa. Resi Druwasa mengaku bersalah dan bersedia menjamin keperawanan Dewi Kunti. Tetapi pertapa itu juga menjelaskan, bahwa kelak Dewi Kunti akan memerlukan ilmu itu.

Dengan ilmunya yang tinggi, sesudah masa kehamilannya cukup, Druwasa mengeluarkan jabang bayi yang dikandung melalui telinga Dewi Kunti. Alasannya, ilmu itu masuk dan diresapi oleh Kunti melalui telinganya. Itulah sebabnya, ia diberi nama Karna — yang artinya telinga. Nama lain baginya adalah Talingasmara. Dalam pewayangan ia juga disebut Suryaputra, atau Suryatmaja, karena anak Kunti itu memang benar hasil pertemuan ibunya dengan Batara Surya. Dua nama yang terakhir ini digunakan oleh sebagian besar dalang untuk menyebut Karna sewaktu masih muda. Setelah lahir, Prabu Basukunti segera memerintahkan agar bayi itu dibuang. Maka, bayi Karna pun ditaruh dalam sebuah peti dan dihanyutkan di Sungai Gangga. Sebelum bayinya dibuang Dewi Prita alias Kunti sempat memperhatikan, di telinga bayi itu terdapat Anting Mustika yang memancarkan sinar kemilau.

Bayi yang malang itu kemudian ditemukan dan dirawat dengan baik oleh Adirata, seorang sais kereta kerajaan di Keraton Astina. Yang memerintah Astina saat itu adalah Prabu Krisna Dwipayana. Bayi itu lalu diaku anak dan dipelihara, dengan penuh kasih sayang oleh Adirata dan istrinya yang bernama Nyai Nanda (Dalam Mahabarata Nyai Nanda disebut Radha. Itulah sebabnya, Basukarna juga disebut Radhea atau Aradea). Kebetulan mereka memang tidak punya anak.

Tahun berganti tahun, dan takhta Astina diduduki oleh Prabu Pandu Dewanata, menggantikan Prabu Krisna Dwipayana yang mengundurkan diri karena hendak menjadi pertapa. Ketika Prabu Pandu meninggal dalam usia muda, Drestarastra menggantikannya untuk sementara waktu, sebagai wali para Pandawa yang saat itu masih kecil-kecil. Menjelang masa remaja, Basukarna sering ikut ayah angkatnya ke Keraton Astina. Di sana ia selalu mengintip dan mencuri dengar dengan penuh perhatian segala yang diajarkan oleh Resi Krepa dan Begawan Drona kepada murid-muridnya, yaitu para Kurawa dan para Pandawa. Dengan demikian segala sesuatu yang diajarkan oleh kedua mahaguru itu diketahui dan dipahami dengan baik oleh Karna.
Minat dan semangat Basukama untuk belajar amat tinggi. Suatu hari ia memberanikan diri menjumpai Begawan Drona dan minta agar guru besar itu mau menerima dirinya sebagai murid. Namun permohonan itu ditolak, karena Drona terikat aturan istana: hanya boleh mengajar para pangeran, yakni putra-putra Drestarastra, Pandu, dan Yama Widura. Resi Krepa guru besar lainnya juga bersikap sama dengan Begawan Drona. Dengan penolakan itu Basukarna tetap hanya bisa belajar dengan cara mengintip dan mencuri dengar.

Untuk mengetahui sampai di mana tingkat kemajuan ilmu dan keterampilan para Pandawa dan Kurawa, secara berkala Begawan Drona dan Resi Krepa njengadakan uji keterampilan bagi mereka. Pada acara ujian seperti itu ternyata Pandawa selalu unggul. Lebih-lebih Arjuna. Pada setiap pertandingan ksatria remaja yang tampan ini selalu mendapat angka tertinggi. Keunggulan ini membuat Arjuna lalu bersikap sombong. Basukarna yang sejak semula menyaksikan acara itu, merasa panas hati melihat kesombongan dan keangkuhan Arjuna. Walaupun ayah angkatnya telah berusaha mencegah, dengan nekad Karna lalu menantang Arjuna untuk adu tanding dalam ketrampilan keprajuritan dengan dirinya. Tantapgan Karna ini ditolak Arjuna, karena sebagai seorang putra raja Arjuna merasa dirinya tidak pantas melayani tantangan Karna yang hanya anak seorang sais kereta. Tantangan Karna itu memang mengejutki semua orang, termasuk para Kurawa. Duryudana, ia Sulung dalam keluarga Kurawa segera memanfaatkan peristiwa itu. Dengan pengaruh yang dimilikinya selaku putra Prabu Drestarastra, saat itu juga Duryudana mengangkat Basukarna sebagai adipati di Kadipaten Awangga. Dengan kedudukan Karna sebagai seorang adipati, tidak ada lagi alasan bagi Arjuna untuk menolak tantangan itu. Adu tanding pun dimulai. Dan ternyata keduanya sama kuat dan sama mahirnya. Resi Krepa dan Begawan Drona akhirnya memberikan penilaian tidak ada yang kalah dan tak ada yang menang. Keduanya seimbang sama kuat.

Dewi Kunti yang menyaksikan acara pertandingan itu, saat itu sudah yakin benar bahwa Karna sesungguhnya adalah anak sulungnya, yang belasan tahun sebelumnya dihanyutkan di sungai. Selain wajahnya yang amat mirip dengan Arjuna, gerak-gerik Karna boleh dibilang sama dengan Ksatria Panengah Pandawa itu. Lagi pula dari telinga Karna memancar sinar kemilau Anting Mustika yang telah menempel sejak dilahirkan. Namun untuk segera mengakuinya sebagai anak, Dewi Kunti merasa tidak menemukan alasan yang tepat. Dewi Kunti tercekam oleh perasaan antara yakin dan ragu. Yakin, karena baik raut wajah maupun bentuk tubuh Karna seolah bayangan Arjuna, dan Anting Mustika itu pernah dilihatnya belasan tahun yang lalu. Namun Kunti juga ragu, apakah jika ia tiba-tiba mengakui Karna sebagai anak akan membuat situasi menjadi baik, ataukah sebaliknya.

Selain berguru secara tidak langsung pada Begawan Drona dan Resi Krepa yakni hanya dengan mendengar dan melihat dari kejauhan, Karna sempat pula berguru pada seorang brahmana sakti bernama Rama Parasu alias Rama Bargawa. Ini dilakukan setelah permohonan Karna untuk diterima menjadi murid resmi Begawan Drona dan Resi Krepa, ditolak.

Untuk dapat berguru pada brahmana yang kesaktiannya tidak tertandingi siapa pun di dunia ini, Karna harus menyamar sebagai brahmana. Penyamaran itu terpaksa dilakukan karena Rama Bargawa amat membenci golongan ksatria. Dari gurunya yang ini Basukarna antara lain mendapat ilmu Bramastra, yakni ilmu ketrampilan memanah. Sesudah mewariskan berbagai ilmunya, barulah Rama Bargawa sadar bahwa Karna sebenarnya bukan dari golongan brahmana, melainkan seorang ksatria.

Penyamaran Basukarna ini terbongkar manakala Rama Bargawa tidur berbantal paha muridnya. Saat itu seekor ketonggeng, sejenis kalajengking berbisa, menyengat paha Basukarna. Namun untuk menjaga jangan sampai gurunya terbangun, dengan sekuat tenaga Karna menahan rasa sakit yang alang kepalang itu, sehingga keringatnya bercucuran. Rama Bargawa justru terbangun ketika peluh Karna menetes ke wajahnya. Sewaktu tahu apa yang terjadi, sadarlah Sang Guru bahwa muridnya itu tentu berasal dari golongan ksatria. Hanya seorang ksatria yang tangguh sanggup menahan rasa sakit yang demikian hebat. Karena merasa ditipu, dengan marah Rama Bargawa mengucapkan kutukannya: -Kelak dalam Baratayuda, pada saat yang genting - yang menentukan hidup atau mati, Karna akan lupa bunyi mantera ilmu Bramastra. Dan, kelak ternyata, kutukan itu akan terbukti.

Basukarna menikah dengan Dewi Surtikanti, putri Prabu Salya, raja Mandraka. Pernikahan ini sebenarnya tidak disetujui oleh Prabu Salya, yang telah merencanakan akan menikahkan Surtikanti dengan Duryudana. Saat itu Duryudana sudah berkedudukan sebagai Prabu Anom, atau raja muda. Oleh sebab itu Karna diam-diam lalu sering masuk ke Istana Mandraka dan secara sembunyi-sembunyi memadu kasih dengan sang Dewi, bahkan kemudian melarikan Dewi Surtikanti, sehingga mereka terpaksa dinikahkan. Sejak itu timbullah kebencian Prabu Salya terhadap Karna, walaupun telah menjadi menantunya. Prabu Anom Duryudana sendiri sebenamya amat sakit hati pada tindakan Karna melarikan Dewi Surtikanti, justru pada saat raja muda Astina itu sedang menyiapkan lamarannya pada Prabu Salya. Namun karena keluarga Kurawa sangat memerlukan tenaga Basukarna, terutama pada saat menghadapi Baratayuda kelak, masalah Dewi Surtikanti itu tidak diperpanjang lagi. Apalagi kemudian Prabu Salya menjanjikan akan menikahkan Duryudana dengan Dewi Banowati, adik Surtikanti. Karena perkawinannya dengan Dewi Surtikanti itu, Karna mempunyai dua orang raja besar sebagai ipar, yakni Prabu Anom Duryudana, dan Prabu Baladewa yang sebelumnya telah menikahi Dewi Erawati, putri sulung Prabu Salya.

Adipati Awangga itu memiliki sifat pantang berkhianat, tahu membalas budi, percaya diri, teguh dalam pendirian, dan membenci orang yang terlalu mengagung-agungkan kebangsawanannya. Karena selalu diperlakukan dengan baik dan dihargai oleh Kurawa, Adipati Kama merasa berhutang budi pada Duryudana dan adik-adiknya. Itu pula yang menyebabkan ada sebagian pecinta wayang menggolongkan Basukama sebagai tokoh yang berpihak pada kejahatan dan mabuk akan derajat serta kedudukan.

Selain seimbang kesaktiannya, penampilan dan wajah Basukarna amat mirip dengan Arjuna. Itulah sebabnya Batara Narada pernah keliru menganggap Arjuna tatkala akan memberikan senjata Kunta Wijayandanu. Senjata pusaka pemberian dewa itu seharusnya diberikan kepada Arjuna untuk memotong tali pusar Gatotkaca yang baru lahir. Dalam perjalanannya mencari Arjuna, Batara Narada yang secara kebetulan berjumpa dengan Basukarna, salah lihat, mengira bertemu Arjuna dan memberikan senjata Kunta Wijayandanu pada Karna. Arjuna kemudian berusaha merebut kembah senjata pusaka itu, tetapi gagal. Yang berhasil direbut hanyalah warangkanya (sarung) saja.

Dalam pewayangan, kisah mengenai senjata Kunta ini diceritakan dalam lakon Lahimya Gatotkaca. Meskipun sebelumnya telah tahu, tetapi baru tiga hari sebelum pecah Baratayuda, Basukama yakin benar bahwa ia sesungguhnya adalah putra sulung Dewi Kunti. Berarti ia adalah saudara tua yang seibu dengan Yudistira, Bima, dan Arjuna. Yang meyakinkan adalah penjelasan yang diberikan oleh ayahnya sendiri, yaitu Batara Surya. Waktu itu Batara Surya datang menjumpainya dan menceritakan siapa sebenarnya Basukarna sesungguhnya. Batara Surya juga memperingatkan agar Karna waspada, sebab Batara Endra, ayah Arjuna akan datang menemuinya dan membujuknya dengan berbagai cara guna melemahkan Karna. "Ingatlah Karna, dari aku sejak lahir engkau telah kuwarisi Anting Mustika dan Kotang Kerei Kaswargan. Anting Mustika berkhasiat akan mengingatkan engkau bilamana ada bahaya mengancam, sedangkan dengan Kotang Kerei Kaswargan engkau akan kebal terhadap senjata apa pun. Jangan sampai kedua pusaka itu lepas dari tanganmu, siapa pun yang memintanya."

Ketika itu Basukarna menjawab: "Ayahanda, itu tergantung pada siapa yang memintanya. Jika seorang brahmana datang meminta, sebagai seorang ksatria tentu pantang bagi hamba untuk menolaknya, walaupun yang diminta itu langsung menyangkut keamanan jiwa hamba". Apa yang diperingatkan oleh Batara Surya memang terjadi. Esok harinya, dua hari menjelang Baratayuda berlangsung Batara Endra datang menjumpainya dalam ujud seorang brahmana tua. Seperti yang diduga oleh Batara Surya, saat itu brahmana tua yang sebenarnya penjelmaan Batara Endra meminta Anting Mustika dan Kotang Kerei Kaswargan. Tanpa menanyakan, apa alasan brahmana itu memintanya, dengan hati teguh dan ikhlas Karna menjawab: "Bilamana Bapa Brahmana memang menginginkan, ambillah. Namun hamba tidak memiliki kemampuan melepaskan kedua pusaka pemberian Ayahanda Batara Surya ini dari tubuh hamba. Hanya seorang dewa saja yang akan sanggup melepaskannya ..."

Brahmana tua itu menjawab: "Jangan khawatir, ksatria mulia. Hamba sendiri yang akan melepaskannya." Karena brahmana itu memang penjelmaan dewa, dengan mudah ia melepaskan kedua pusaka andalan Basukarna. Namun, pada saat itu sebenarnya hati kecil Endra terharu dan heran menyaksikan ketulusan hati Karna. Rasa simpati itu menyebabkan Batara Endra — yang masih dalam ujud brahmana, berkata: "Karna, engkau sungguh seorang ksatria sejati yang berbudi luhur. Sudah sepantasnya jika ksatria agung seperti Tuanku memiliki senjata pamungkas yang ampuh. Karenanya, sebagai ganti barang yang hamba ambil, terimalah pemberian hamba berupa anak panah Wijayacapa."

Basukarna: "Hamba telah menyerahkan dengan ikhlas kedua barang yang Bapa Brahmana minta. Bilamana Bapa Brahmana juga memberikan senjata pamungkas itu dengan ikhlas, dengan senang hati hamba akan menerimanya."

Demikianlah, hari itu Karna kehilangan dua pusaka yang merupakan perisai dirinya, tetapi mendapat pusaka pengganti sebuah senjata pamungkas. Sehari menjelang Baratayuda, beberapa saat setelah Prabu Kresna sebagai duta yang gagal kemudian dikroyok para Kurawa sehingga terpaksa melakukan triwikrama, terjadi peristiwa sebagai berikut:

Sebelum pulang ke Kerajaan Wirata untuk melaporkan basil perundingannya pada pihak Pandawa. Kresna secara khusus datang menemui Karna. Pada pertemuan empat mata, raja Dwarawati itu berusaha membujuk Karna agar bersedia menyeberang ke pihak Pandawa. Saat itulah terjadi perdebatan dan adu pendapat di antara mereka. Karna menolak bujukan itu dengan alasan, bahwa sebagai ksatria sudah selayaknya ia harus tabu membalas budi. Kurawa telah memberikan kemuliaan duniawi dan derajat kepangkatan kepadanya. Kini, tibalah saatnya bagi Kama untuk membalas budi baik para Kurawa.

Kresna: "Dinda Karna, Baratayuda yang akan dimulai esok hari, bukan perang kecil. Perang itu merupakan pertarungan antara pihak yang benar dengan pihak yang salah. Antara kebaikan dan keadilan melawan keserakahan kebatilan. Jadi, dalam hal ini soal balas budi bukanlah hal yang mutlak harus dilakukan. karena membela kebenaran bagi seorang ksatria lebih mutlak harus dilaksanakan."

Karna: "Kakanda Kresna, sebagai seorang titisan Wisnu mestinya kakanda maklum, jika Adinda berpihak pada para Kurawa dan berperang melawan adik-adikku para Pandawa, bukan berarti Adinda berpihak pada keangkaramurkaan. Adinda berperang di pihak mereka semata-mata hanya-menjalani darma ksatria, membalas kebaikan dengan kebaikan pula. Itu adalah kewajiban Adinda. Jika Adinda harus berperang melawan adik-adik para Pandawa, bukan berarti Adinda berperang melawan kebaikan dan kebenaran, melainkan juga hanya karena menjalani darma ksatria. Soal kalah atau menang bagi Adinda bukan lagi mempakan hal yang penting. Yang penting, sebagai ksatria Adinda harus menjalankan kewajiban sebagai prajurit menghadapi lawannya."

Kresna: "Tetapi, Dinda Kama. Dengan adanya Adinda di pihak Kurawa, tentu akan menyulitkan para Pandawa untuk memenangkan Baratayuda."

Karna: "Kakanda Kresna. Adinda tabu benar, adik-adikku para Pandawa bukan ksatria yang takut dan enggan menghadapi kesulitan."

Kresna: "Saya memahami hal itu. Namun, jika Adinda Karna mau menyeberang ke pihak Pandawa, tentu Kurawa tidak akan meneruskan niatnya menempuh jalan perang, sehingga Baratayuda dapat dicegah."

Karna: "Justru Adinda yang sebenarnya sangat menginginkan Baratayuda segera terjadi."

Kresna: "Mengapa? Peperangan akan selalu membawa penderitaan bagi banyak orang. Bilamana Adinda Karna dapat mencegahnya, mengapa itu tidak Adinda lakukan? Apa alasannya?"

Karna: "Kakanda Kresna yang bijaksana, Adinda telah mengenal para Kurawa, satu persatu secara pribadi sejak mereka masih kecil, sejak masih remaja. Adinda mengenal benar tabiat dan watak mereka, pendirian mereka. Adinda tahu benar akan keserakahan mereka, sifat iri, culas, dan dengki mereka. Rasanya, mereka memang dilahirkan sebagai manusia-manusia pembawa sifat buruk yang tidak lagi dapat diperbaiki. Bahkan Maharesi Bisma, Kakek Abiyasa, Begawan Drona, Resi Krepa, yang tinggi wibawanya pun tidak sanggup memperbaiki sifat-sifat buruk mereka. Tidak satu pun saran dan nasihat baik dari para pinisepuh Astina yang mereka dengar. Mereka hanya mengikuti hasutan jahat dari Paman Sengkuni dan Ibunda Dewi Gendari.
Kakanda Kresna, Adinda berpendapat tidak ada cara lain untuk memberantas keangkaramurkaan dan kebatilan yang telah belasan tahun terjadi di Astina, kecuali dengan meniadakan keberadaan mereka di dunia ini. Itulah sebabnya, bagaimana pun, Baratayuda harus segera terjadi. Saya berketetapan hati untuk memihak Kurawa, saya sengaja membakar-bakar semangat Adinda Duryudana, saya bujuk mereka agar jangan takut berperang, ... itu semua agar Baratayuda dapat segera terjadi sebagaimana seharusnya."

Kresna: "Adinda Karna. Kakanda benar-benar menaruh hormat akan pendirian Adinda yang teguh itu. Namun dengan adanya Dinda Basukarna di pihak Kurawa, bagaimana pun, Baratayuda tentu akan berlangsung lebih lama dan korban di kedua pihak akan lebih banyak. Tidakkah hal ini Dinda pertimbangkan?"

Karna: "Adinda memahami hal itu. Namun, bukankah jer basuki mawa beya? Kakanda Prabu Kresna tentu sudah faham benar, Baratayuda adalah peristiwa yang menjadi sarana untuk memusnahkan segala yang jahat dan yang angkara. Untuk mencapai masyarakat dunia yang tenteram dan damai, selalu harus ada yang menjadi korban, dan selalu harus ada yang dikorbankan. Itu sudah merupakan hukum alam yang berlaku pada zaman apa pun. Adinda tahu, bahwa menurut takdir pada Baratayuda nanti Adinda harus berhadapan dengan Arjuna. Entah siapa yang akan kalah, dan siapa yang akan unggul, kita semua belum tahu. Seandainya Adinda yang gugur, maka Adinda ikhlas sebab pengorbanan Adinda adalah untuk kemenangan adik-adik para Pandawa dan itu berarti pengorbanan Adinda adalah untuk tegaknya kebenaran dan keadilan. Demikian pula, seandainya Adinda yang menang, Arjuna pun sebagai ksatria harus ikhlas karena pengorbanannya tentu tidak sia-sia."

Kresna: "Adinda Karna, cobalah Adinda renungkan sekah lagi. Pengorbanan Adinda Karna dengan pengorbanan Adinda Arjuna, jelas berbeda. Jika Adinda Basukarna gugur dalam Baratayuda nanti, sejarah akan mencatat Adinda Kama gugur karena berperang di pihak yang salah. Adinda Basukarna tewas karena membela pihak angkara. Sedangkan jika Dinda Arjuna yang gugur, maka ia akan dianggap sebagai pahlawan pembela kebenaran. Coba renungkan hal itu."

Karna: "Itu pun Adinda pahami. Namun, bukankah sebagai ksatria kita tidak boleh memperhitungkan untung rugi dalam menjalankan darmanya? Adinda berperang di pihak Kurawa karena menjalankan darma Adinda sebagai ksatria. Hamba tidak peduli lagi tentang bagaimana sejarah akan mencatat nama Adinda. Biarlah sejarah mencatat Adinda sebagai pembela nafsu angkara pihak Kurawa. Biarlah nama baik Adinda hancur karena sikap Adinda dalam menjalankan darma. Karena nama baik itu pun telah Dinda ikhlaskan sebagai pengorbanan demi tegaknya kebenaran dan keadilan ...."

Prabu Kresna tidak bisa berkata-kata lagi. Dengan penuh haru dipeluknya putra sulung Kunti itu erat-erat.
"Semoga Yang Maha Mengetahui selalu memberikan berkah kepadamu, Dinda Basukarna ..." kata titisan Wisnu itu.

Setelah pertemuannya dengan Prabu Kresna, lewat tengah hari, Adipati Karna pergi ke Sungai Gangga hendak mensucikan dirinya. Hati kecilnya merasa, ia akan gugur dalam perang benar antarke-luarga Barata itu. Karenanya, sebelum menghadap pada Sang Pencipta, anak pungut Sais Adirata itu ingin lebih dahulu mensucikan tubuhnya. Di tepi sungai yang dianggap suci itu, secara kebetulan Karna bertemu dengan Dewi Kunti yang juga baru saja selesai mensucikan tubuhnya. Sekali lagi, sebagaimana perjumpaanya dengan Prabu Kresna, kali ini Dewi Kunti juga berusaha membujuk Adipati Karna agar man menyeberang ke pihak Pandawa.

"Basukarna anakku, sebenar-benarnyalah bahwa engkau itu anak sulungku. Para dewa dapat menjadi saksi. Hanya karena keadaan, engkau terpaksa berpisah dengan adik-adikmu para Pandawa. Hanya karena keadaan yang membuatmu terpaksa bergabung dengan pihak Kurawa. Namun, perang besar akan terjadi esok hari. Aku, ibumu ini, sangat berharap engkau tidak berdiri di pihak yang berlawanan dengan adik-adikmu. Bergabunglah engkau bersama kelima adikmu. Jika harapanku ini engkau kabulkan, berarti engkau membahagiakan wanita yang pernah melahirkanmu."

Dengan penuh hormat Karna menjawab: "Ibunda Dewi Kunti yang amat hamba hormati. Hamba mengerti, keadaan telah membuat hamba terpaksa berpisah dengan adik-adik hamba. Hamba juga mengerti bahwa karena keadaan pula hamba sekarang berdiri di pihak Kurawa yang merupakan lawan para Pandawa, adik-adik hamba. Namun, bukankah kita tidak dapat hanya menyalahkan keadaan? Bilamana Ibunda Dewi Kunti mengharapkan agar hamba menyeberang ke pihak Pandawa dan meninggalkan Kurawa, maka itu berarti hamba menyalahi darma hamba sebagai seorang ksatria. Hamba akan menjadi pengkhianat bagi Kurawa yang selama ini telah memberikan derajat dan kemuliaan pada hamba. Hamba akan menjadi manusia yang tidak tahu membalas budi, yang membalas kebaikan orang dengan pengkhianatan. Baratayuda yang akan dimulai esok hari, bukan alasan bagi hamba untuk mengecewakan harapan para Kurawa yang mengandalkan kekuatan hamba ..."

Kunti: "Karna, Anakku. Ibunda mengerti, engkau adalah prajurit sejati. Engkau seorang ksatria utama. Namun, cobalah engkau renungkan barang sejenak. Selain harus menjalani darmamu sebagai seorang ksatria, engkau pun mempunyai kewajiban menjalankan darmamu sebagai seorang putra terhadap ibumu. Tidak adakah keinginanmu untuk membahagiakan wanita yang telah melahirkanmu?"

Karna: "Ibunda Dewi Kunti, junjungan hamba. Tentu saja hamba ingin membahagiakan Ibunda Dewi menjalankan darma hamba sebagai seorang ksatria:"

Kunti: "Tetapi ..., Karna Anakku. Engkau tentu juga tahu, dalam Baratayuda nanti besar kemungkinan engkau akan berhadapan dengan adikmu, Arjuna.
Tidak bisa tidak, salah sate dari kalian berdua akan menjadi korban kekejaman perang besar itu. Dapatkah engkau membayangkan, betapa remuknya hati seorang ibu, manakala ia tahu dua orang putranya saling berhadapan di medan perang dengan tekad akan saling membunuh? Dapatkah kau bayangkan itu, anakku?".

Kunti tidak lagi dapat menahan air matanya. Basukarna pun terharu mendengar kata-kata yang diucapkan oleh wanita yang dulu melahirkannya itu.

Namun, dengan menguatkan hati, Basukarna berkata dengan lembut: "Ibunda Dewi Kunti yang hamba hormati. Hamba yang hina ini memahami benar kepedihan hati Ibunda Dewi. Namun hamba mohon, .... anggaplah kepedihan itu sebagai pengorbanan Ibunda untuk ketentraman dan kedamaian masyarakat
banyak. Ibunda tentu juga tahu, bahwa Baratayuda adalah salah satu sarana dan jalan untuk membebaskan dunia dari keangkaramurkaan yang selama ini dilakukan oleh para Kurawa. Semua orang yang melangkah pada jalan darmanya harus ikut berkorban demi ketentraman dunia. Ada yang ditakdirkan harus mengorbankan jiwanya, ada yang harus mengorbankan suaminya, mengorbankan orang yang disayanginya, dan ... tentunya tidak terkecuali Ibunda Dewi.
Bilamana ternyata dalam Baratayuda nanti Adinda Arjuna yang terpaksa menjadi korban, maka ia akan gugur sebagai pahlawan. Ibunda Dewi dapat membanggakannya, walaupun tentu dalam kesedihan seorang ibu yang kehilangan putra. Demikian pula, bilamana hamba yang tewas dalam perang tanding itu, Ibunda Dewi pun boleh merasa bangga karena hamba tewas dalam menjalankan darma hamba sebagai seorang prajurit, sebagai ksatria. Jika hamba gugur, maka hamba bukan mati sebagai pengkhianat"

Kunti merasa, tidak akan ada manfaatnya ia membujuk Karna lebih lanjut. Sekarang ibu para Pandawa itu tahu benar keteguhan hati anak sulungnya itu. Karena itu, Kunti lalu berkata: "Anakku, Karna. Aku tidak lagi dapat merangkai kata-kata. Kesedihanku sebagai seorang ibu, membuat tenggorokanku serasa tersumbuat. Tetapi, ... kumohon kepadamu, izinkan aku memelukmu, anakku. Puluhan tahun, sejak engkau masih berujud bayi merah, aku telah kehilangan engkau. Aku tidak berkesempatan merawat, memelihara dan mengasihimu. Untuk itu, maafkanlah Ibumu ini. Biarlah aku memelukmu barang sejenak, anakku ......".
Dengan air mata bercucuran Dewi Kunti memeluk anak sulungnya, menciumi ubun-ubunnya, sambil berkata terisak di sela tangisnya: "Restuku untukmu, anakku. Doaku untukmu, buah hatiku ......"

Pertimbangan Karna dalam mengambil keputusan itu adalah, karena sebagai ksatria ia harus tahu membalas budi kepada Kurawa yang sudah memberinya kedudukan, kemuliaan, derajat dan pangkat. Tanpa bantuan Suyudana dan keluarga Kurawa lainnya, ia akan tetap dikenal sebagai anak sais kereta Adirata. Pertimbangan yang lain adalah, jika ia ticlak ikut beperang, mungkin Baratayuda akan gagal, batal, tidak terlaksana, karena bisa jadi Duryudana akan memilih jalan damai. Dan, jika ini terjadi berarti kesewenangan di dunia akan tetap berjalan terus.

Sikap Basukarna yang siap untuk mati dalam perang juga dibuktikan ketika ia menolak tawaran bantuan Naga Ardawalika yang diam-diam akan ikut menyerang Arjuna. Walaupun tawaran bantuannya ditolak, ketika tahu bahwa Adipati Karna gugur, Ardawalika atas inisiatifnya sendiri langsung menyerang Arjuna, tetapi ksatria Pandawa itu pun berhasil membunuhnya.

Dalam Baratayuda, Basukarna sebagai panglima perang di pihak Kurawa, pada hari ke-15 berhasil membunuh Gatotkaca dengan senjata Kunta Wijayandanu. Penggunaan senjata pamungkas ini sebenarnya sama sekali di luar rencananya. Sejak ia menerima Kunta dari Langan Batara Narada, ia merencanakan penggunaan senjata sakti yang hanya dapat sekali digunakan itu untuk menghadapi Arjuna. Hati kecil Basukarna memang menaruh dendam pada Arjuna sejak ksatria Pandawa itu menghinanya di hadapan umum dengan menolak mengadu ketrampilan dengannya. Namun sewaktu Gatotkaca memporakporandakan barisan prajurit Kurawa dan membunuh beberapa adik Duryudana, penguasa Astina itu mulai khawatir. Di tengah pertempuran Duryudana mencari Basukarna dan memintanya untuk menghadapi Gatotkaca. Semula Adipati Karna menolak karena ia sedang mencari-cari Arjuna. Duryudana lalu mengingatkan, bahwa perang ini bukan perang pribadi. Ia minta agar Basukarna melupakan dulu dendam pribadinya, dan lebih memikirkan kemenangan bagi seluruh Kurawa. Karena desakan Duryudana ini, Basukarna terpaksa menghadapi Gatotkaca. Putra Bima itu memang berhasil dikalahkannya, namun dengan demikian ia kehilangan Kunta Wijayandanu.

Waktu berperang tanding melawan Arjuna, Basukarna sudah tidak lagi memiliki senjata andalan. Supaya dirinya sederajat dengan Arjuna, ia minta agar mertuanya Prabu Salya bersedia menjadi saisnya. Alasannya, kereta perang Arjuna dikemudikan Sri Kresna, raja Dwarawati. Agar seimbang dan tampak sederajat, kereta perangnya juga harus dikendalikan seorang raja, dan menurut anggapannya, yang paling tepat adalah Prabu Salya. Permintaan ini amat menyakitkan hati Prabu Salya dan serta merta raja Mandraka itu mendampratnya, dan mengatakannya sebagai menantu yang tidak tahu diri. Duryudana dengan cepat melerai, kemudian membujuk Prabu Salya. Hanya karena bujukan Duryudana, akhirnya Salya mau menuruti permintaan Basukarna. Peristiwa itu menambah kebencian raja Mandraka itu pada menantunya itu.

Di medan perang Karna menggunakan kereta perang bernama Jaladra, sedangkan kereta perang Arjuna bernama Jatisura. Kedua kereta perang yang berisi dua ksatria utama itu seolah menjadi primadona pertempuran. Pada suatu kesempatan Basukarna melepaskan panah pusakanya Wijayacapa, dibidikkan tepat ke leher Arjuna. Namun, pada saat yang tepat Prabu Salya menarik tali kekang kuda, sehingga kereta perang yang dikendarainya tergoncang. Panah Wijayacapa meluncur deras, tetapi bidikannya tidak tepat lagi. Panah sakti itu hanya menyambar mahkota gelung rambut Arjuna. Sesaat berikutnya Arjuna melepaskan anak panah pusaka Pasopati dan tepat menebas leher Basukarna.

Karna yang berperang dengan sepenuh hati akhimya gugur sebagai ksatria utama dalam Baratayuda, sebagaimana dikehendakinya. Ia telah mendarmabaktikan jiwanya pada Kerajaan Astina yang telah mengangkat derajatnya dari kedudukan anak sais menjadi seorang adipati. Ia juga telah merelakan jiwanya untuk membahagiakan Dewi Kunti, ibu kandung yang tidak pernah menyusui, mengasuh, dan mengasihinya. Karena jika bukan dia yang gugur, maka Arjunalah yang harus tewas dalam perang tanding itu. Dan, bila ini terjadi tentu akan membuat ibunya lebih berduka.

Sementara itu, ketika tubuh Karna roboh ke bumi, keris Kyai Jalak Kaladite yang disandangnya lepas dari warangkanya (sarung keris) dan melayang, melesat ke arah dada Arjuna. Tetapi Arjuna yang selalu waspada segera menangkis serangan keris itu dengan gendewa pusakanya. Basukarna, seorang anak yang terbuang sejak bayi, seorang anak pungut sais kereta bernama Adirata, gugur dalam keyakinan untuk menjalankan darmanya sebagai ksatria utama.

Dari perkawinannya dengan Dewi Surtikanti, putri Prabu Salya, Basukarna mendapat dua orang putra, yaitu Warsasena dan Warsakusuma. Kelak Warsakusuma kawin dengan Dewi Lesmanawati, putri Prabu Anom Duryudana. Dengan demikian, hubungan Basukarna dengan Duryudana, selain sebagai ipar, ia juga merupakan besan.

Dewi Surtikanti meninggal karena bunuh diri. Pada saat Baratayuda berlangsung, ia selalu mengikuti berita dari medan perang yang disampaikan oleh Patih Adimanggala, yakni patih Kadipaten Awangga. Suatu hari, patih Kadipaten Awangga itu menyampaikan berita yang tidak jelas, sehingga Dewi Surtikanti salah mengerti. Ia mengira suaminya gugur di palagan Baratayuda. Tanpa pikir panjang Surtikanti bunuh diri dengan mencabut patrem (keris kecil) lalu menusukkannya ke dadanya sendiri. Kematian Dewi Surtikanti membuat Adipati Karna amat marah. Ia mempersalahkan Adimanggala. Tanpa banyak bicara Kama segera membunuh Patih Adimanggala. Tetapi versi lain menyebutkan, Patih Adimanggala gugur bersama (sampyuh - Bhs. Jawa) ketika ia bertempur melawan Patih Udawa, abang satu ibu lain ayah.

Perkawinan Basukarna alias Basusena dengan Dewi Surtikanti sebenarnya dapat berlangsung dengan bantuan Arjuna.
Kisahnya begini:
Suatu ketika Keraton Mandraka geger karena Dewi Surtikanti dilarikan oleh seorang ksatria muda yang tampan. Mulanya ksatria itu memasuki keputren dan berasyik-masyuk dengan Dewi Surikanti. Ketika mereka dipergoki para dayang istana dan terjadi keributan, ksatria itu segera lari membawa sang Dewi. Para prajurit yang berusaha menghalanginya, tidak sanggup menghadapi kesaktian ksatria tampan itu. Kejadian ini membuat marah Prabu Salya dan Prabu Anom Duryudana, karena sebenarnya Dewi Surtikanti akan dikawinkan dengan raja muda Astina itu. Dari keterangan para dayang, yang menyebut bahwa pria yang melarikan sang Putri itu sangat tampan, Prabu Salya dan Duryudana langsung menuduh Permadi (nama panggilan Arjuna selagi muda) sebagai pelakunya. Permadi mencoba membantah, namun tidak seorang pun yang percaya.

Resi Bisma lalu mengambil kebijaksanaan: Permadi harus mencari pelaku penculikan atas Dewi Surtikanti dalam waktu tiga hari. Bila dalam waktu itu Permadi tidak berhasil, maka ia akan dijatuhi hukuman sebagai si Penculik. Permadi sanggup. Dalam waktu singkat, Permadi menemukan Dewi Surtikanti di Istana Awangga. Karenanya, ksatria Pandawa itu minta agar Basukarna menurut dibawa ke Mandraka sebagai tertuduh. Karna menolak, dan terjadilah perang Landing. Adu ketrampilan dan kesaktian di antara keduanya begitu seru sehingga kahyangan goncang karenanya. Batara Narada lalu turun ke dunia untuk melihat apa yang menjadi penyebabnya. Setelah tahu apa yang terjadi, dewa itu segera melerainya. Narada menjelaskan bahwa sebenarnya keduanya bersaudara. Diterangkan, Karna sebenarnya adalah putra sulung Dewi Kunti yang ketika masih bayi dibuang ke Sungai Gangga dan ditemukan oleh Adirata. Sedangkan Permadi adalah anak Kunti yang keempat.

Dengan penjelasan itu mereka pun berdamai. Basukarna bersedia membawa kembali Dewi Surtikanti ke Mandraka, karena Permadi menyanggupi akan memintakan maaf pada Prabu Salya, sekaligus membujuknya agar Karna diterima sebagai menantu. Usaha Permadi ini berhasil. Basukarna diakui oleh Prabu Salya sebagai menantu, walaupun hati kecilnya masih tetap tak menyukai Karna, yang dianggapnya telah memberikan malu kepadanya. Sedangkan Duryudana yang amat kecewa karena gagal kawin, terpaksa menerima kenyataan itu. Lagi pula, Duryudana juga berusaha tetap memelihara persahabatannya dengan Karna, yang diharapkan bantuannya pada saat pecah Baratayuda kelak.

Dalam pewayangan di Indonesia, mengenai peran Basukarna dalam memantik api perang Baratayuda ada dua versi.
Sebagian dalang menceritakan bahwa Basukarna sengaja menyulut api perang dengan maksud agar angkara murka keluarga Kurawa cepat hancur punah dengan terjadinya perang besar itu. Ia tahu benar kekuatan Kurawa dan sekutunya tidak akan sanggup menandingi para Pandawa, namun ia membesar-besarkan hati dan membakar semangat Prabu Anom Duryudana, sehingga penguasa Astina itu memilih jalan peperangan daripada perdamaian. Guna menyirnakan angkara murka, ia sanggup mengorbankan jiwanya, dan bahkan juga nama baiknya.

Sebagian dalang yang lain menyebutkan, sikap Basukarna menyulut api peperangan disebabkan karena dendamnya pada para Pandawa, terutama pada Arjuna yang dinilainya angkuh.

Gambaran tentang pribadi Basukarna dalam pewayangan pada umumnya memang sedikit lebih baik dibandingkan dengan yang tergambar dalam Kitab Mahabarata. Dalam Mahabarata, selain dendam pada Arjuna, Adipati Awangga itu juga sangat membenci Dewi Drupadi.

Kebencian Basukarna pada Dewi Drupadi disebabkan karena peristiwa berikut ini:
Ketika Prabu Drupada, raja Pancala (di pewayangan Pancala disebut Cempalaradya) hendak mencarikan jodoh bagi Dewi Drupadi, Basukarna adalah salah seorang pesertanya. Setelah para peserta lain gagal mengangkat gendewa pusaka, Karna ternyata sanggup. Namun pada saat itu Dewi Drupadi berseru dengan nyaring: "Saya adalah putri raja besar, tidak akan mungkin saga menikah dengan pria berdarah sudra (orang biasa, bukan bangsawan)."
Kata-kata Dewi Drupadi ini amat menyakitkan hati Basukarna. Tanpa bicara apa pun ia lalu berjalan keluar istana.
Kelak, ketika Pandawa kalah main dadu dan Drupadi sebagai barang taruhan dipanggil untuk dipermalukan oleh para. Kurawa, Basukarna berkesempatan membalas sakit hatinya. Waktu itu Adipati Karna sengaja memanas-manasi Dursasana agar menelanjangi Dewi Drupadi di hadapan umum.

Dalam seni kriya Wayang Kulit Purwa tokoh Basukarna dirupakan dalam dua wanda, yakni wanda Badru (Bedru) dan wanda Lontang.

Basukarna, yang dalam pewayangan lebih sering disebut Adipati Karna, atau Basusena, oleh Sri Mangkunegara IV (1853 - 1881) dipilih sebagai salah satu tokoh dari tiga orang ksatria teladan dalam Serat Tripama. Ksatria teladan lainnya adalah Kumbakama dan Bambang Sumantri.

Lakon-lakon yang melibatkan Basukarna:
  • Pandadaran Siswa Sokalima
  • Bale Sigala-gala
  • Suryatmaja - Surtikanti
  • Brantalaras Rabi
  • Banjaran Karna
  • Salya Gugur
  • Bisma Gugur
  • Karna Tanding

BASUKARNA, Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta.

SURYAPUTRA, sebutan Basukarna di masa muda,
dalam pewayangan, gambar grafis Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta.


BASUKARNA, Wayang Kulit Purwa gagrak Cirebon.


BASUKARNA, wayang yang digunakan untuk lakon Bharatayuda


BASUKARNA, gambar grafis Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta.


BATARA SURYA, ayah Basukarna. Gambar grafis Wayang Kulit Purwa
gagrak Surakarta.


 DEWI KUNTI, ibu Basukarna. Gambar grafis Wayang Kulit Purwa
gagrak Surakarta.


DEWI SURTIKANTI, istri Basukarna.


BASUKARNA, Wayang Golek Purwa Sunda.


RAMA BARGAWA, Wayang Golek Purwa Sunda.


BASUKARNA, gambar grafis bergaya komik wayang,
berdasarkan penampilan di panggung Wayang Orang
gaya Surakarta.
{[['']]}

Basudewa, Prabu

BASUDEWA, PRABU, adalah raja Mandura. Kerajaan ini sebelumnya bernama Boja. Walaupun sebenarnya ia anak kedua, Basudewa mewarisi tahta kerajaan itu dari ayahnya, yaitu Prabu Basukunti atau Kuntiboja. Hal itu disebabkan karena anak sulung Prabu Basukunti adalah Dewi Sruta, seorang putri. Ibu Basudewa bernama Dewi Bandondari. Adik-adik Basudewa ada tiga orang. Mereka adalah Haryaprabu Rukma, Ugrasena, dan Dewi Prita, alias Kunti Nalibrata.

Istri Prabu Basudewa ada tiga orang. Istri pertamanya bernama Dewi Maerah, lalu yang kedua Dewi Mahindra, dan yang ketiga Dewi Badraini. Dengan Dewi Mahindra, Basudewa mendapat anak kembar, Kakarasana dan Narayana. Kakrasana kelak menggantikan kedudukan ayahnya sebagai raja Mandura dengan gelar Prabu Baladewa, sedangkan Narayana menjadi raja di Dwarawati dengan gelar Prabu Kresna. Dari Dewi Badraini ia memperoleh anak perempuan, diberi nama Bratajaya alias Wara Subadra. Kelak, Dewi Subadra menjadi salah seorang istri Arjuna. Bahkan menjadi istri utama.

Dewi Maerah, istri pertama, karena terlibat skandal yang memalukan dengan Prabu Gorawangsa, raja raksasa dari Kerajaan Guwabarong. Walaupun perselingkuhan itu bukan semata-mata kesalahan Dewi Maerah, demi martabat raja dan kerajaan Mandura, Dewi Maerah terpaksa dihukum mati. Namun adik Basudewa, yakni Haryaprabu Rukma yang ditugasi membunuh Dewi Maerah tidak sampai hati melaksanakan hukuman mati itu, setelah tabu bahwa Dewi Maerah mengandung. Akhirnya Dewi Maerah hanya ditinggalkan sendiri di tengah hutan. Wanita malang itu ditolong oleh seorang pertapa berujud raksasa bernama Resi Anggawangsa. Kelak Dewi Maerah melahirkan seorang bayi berwajah raksasa dan diberi nama Kangsa. Sesudah melahirkan anaknya, Dewi Maerah meninggal dunia. Bayi haram itu, dirawat, dipelihara, dan dididik dengan penuh kasih sayang oleh Resi Anggawangsa, seorang pendeta berujud raksasa. Setelah dewasa datang ke Mandura dan minta diakui sebagai anak Basudewa. Tuntutan si Anak Haram itu dikabulkan. Raja Mandura itu bahkan mengangkatnya menjadi raja muda di Sengkapura, yang masih termasuk wilayah Mandura.

Tetapi kebaikan hati Basudewa ternyata berbuah pahit. Pada suatu saat Kangsa datang ke Mandura menuntut agar diakui sebagai putra mahkota Kerajaan Mandura. Ia nenantang Basudewa untuk mengadu jago dengan kerajaan sebagai taruhannya. Usaha Kangsa untuk merebut tahta Mandura akhirnya digagalkan oleh Kakrasana dan Narayana dengan bantuan Bima serta Arjuna. Peristiwa percobaan kudeta itu dalam pewayangan dikisahkan dalam lakon 'Kangsa Adu Jago'. Namun selain yang empat orang itu Prabu Basudewa sebenarnya mempunyai anak gelap yang lahir dari seorang wanita penghibur bernama Ken Sayuda (ada yang menyebut Ken Yasuda). Anak gelapnya ini bernarna Udawa, yang kelak menjadi patih di Kerajaan Dwarawati, ketika Narayana menjadi raja di negeri itu...

Dalam Kitab Hariwangsa yang merupakan lampiran Kitab Mahabarata, Basudewa bukan raja Mandura. Yang menjadi raja negeri itu adalah Ugrasena, yang mempunyai anak bernama Kangsa. Setelah dewasa Kangsa mengambil alih takhta kerajaan secara paksa, dan Ugrasena dipenjarakan. Sedangkan Basudewa adalah suami Dewi Dewaki, adik Kangsa. Dengan demikian Basudewa, menurut Mahabarata, adalah ipar Kangsa. Istri Basudewa yang lain bernama Dewi Rohini, yang tidak ikut dipenjara. Jadi, menurut Mahabarata Basudewa tidak pernah menjadi raja. Menurut Mahabarata Pula, dari Dewi Dewaki, Basudewa mendapat anak Krishna (Kresna), Sedangkan dari Rohini anaknya dinamakan Balarama (Baladewa).

Sementara Mahabarata versi yang lain menyebutkan, baik Balarama maupun Krishna keduanya adalah anak Basudewa dari Dewi Dewaki. Kedua anaknya itu lahir ketika Basudewa dan Dewaki berada dalam penjara, sebagai korban kezaliman Kangsa. Balarama lahir sebagai anak ke enam, diselamatkan oleh Dewi Nendra, seorang bidadari yang menguasai rasa kantuk, dan dibawa keluar penjara lalu diserahkan pada Dewi Rohini, yang tinggal di luar penjara. Dewi Nendra meminta agar Dewi Rohini mengakui Balarama sebagai anaknya, demi keselamatan anak itu. Sedangkan Krishna begitu lahir diselundupkan ke luar penjara dan ditukar dengan bayi perempuan anak suami istri seorang penggembala bernama Gopa dan Nanda.

Dalam pewayangan Prabu Basudewa menampilkan karakter raja yang pernah membuat keputusan yang tidak bijaksana, dengan menjatuhkan hukuman mati bagi Dewi Maerah. Beberapa waktu kemudian raja itu sadar bahwa ia membuat kekeliruan, menjatuhkan hukuman yang terlalu berat. Prabu Basudewa mencoba menebus kekeliruannya dengan mengakui Kangsa sebagai anak dan bahkan kemudian memberikan kekuasaan atas wilayah Sengkapura, sebagai Raja Muda. Keputusan yang kurang dipikir panjang itu, dikemudian hari ternyata justru memperburuk keadaan. Kangsa yang diperlakukan dengan baik oleh Prabu Basudewa, meskipun ia hanya anak haram, ternyata malahan mengincar singgasana Kerajaan Mandura. Bahkah ketiga putra-putrinya terancam keselamatannya.

Untuk menghindarkan dari kemungkinan buruk yang mungkin ditimbulkan oleh ulah Kangsa, Prabu Basudewa secara diam-diam menitipkan Kakrasana, Narayana, dan Bratajaya pada Antagopa. Rasa aman bagi Prabu Basudewa dan terjaminnya takhta Mandura baru datang sesudah Kangsa tewas.

Lakon-lakon yang melibatkan Basudewa:

  • Basudewa Krama
  • Basudewa Grogol
  • Kakrasana-Narayana Lair
  • Kangsa Adu Jago
  • Haryaprabu Krama


PRABU BASUDEWA, Wayang Kulit Purwa yang disebut Wayang Ukur
kreasi Sigit Sukasman, Yogyakarta.


PRABU BASUDEWA di masa muda, Wayang Kulit Purwa
gagrak Yogyakarta


PRABU BASUDEWA, Wayang Kulit Purwa
gagrak Yogyakarta


PRABU BASUDEWA palsu, penjelmaan Prabu Gorawangsa,
Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta


PRABU BASUDEWA gambar grafis Wayang Kulit Purwa
gagrakSurakarta


 BASUDEWA Wayang Kulit Purwa Bali
{[['']]}

Banowati, Dewi

BANOWATI, DEWI, yang cantik dan manja, adalah permaisuri Prabu Anom Suyudana atau Duryudana dari Astinapura. Puteri Prabu Salya dari Kerajaan Mandaraka ini bersaudara lima orang. Kakaknya, Dewi Erawati, setelah dewasa menjadi istri Prabu Baladewa. Dewi Surtikanti menjadi istri Adipati Karna. Banowati anak ketiga, menjadi istri Suyudana, walaupun sebenarnya ia amat mencintai Arjuna. Ia masih punya dua orang adik, yaitu Burisrawa dan Rukmarata. Ketika Arjuna membantu Baladewa menemukan Dewi Erawati yang diculik oleh Kartawiyoga, Banowati berkenalan dengan ksatria tampan itu. Segera ia jatuh cinta pada Arjuna. Walaupun sebenarnya Arjuna juga tidak menolak cinta putri Prabu Salya itu, namun cinta remajanya kandas, karena akhirnya Dewi Banowati terpaksa menjadi istri Prabu Anom Suyudana atas desakan ayahnya dan kakak iparnya, Baladewa. Ia bersedia diperistri Suyudana dengan syarat agar waktu akan menjadi pengantin, Arjunalah yang memandikan dan merias dirinya. Meskipun syarat itu sebenarnya amat menyinggung perasaan Suyudana, namun penguasa Astina itu akhirnya menyetujuinya. Sebagian dalang menyebutkan pada saat dimandikan dan dirias, Dewi Banowati mendapat mantera ajian dari Arjuna yang menyebabkannya tetap seperti perawan, walaupun kelak setelah melahirkan anak.

Dalam pewayangan Dewi Banowati adalah contoh karakter wanita yang tidak setia pada suami. Setelah kawin dengan Suyudana, Banowati masih tetap saja mencintai Arjuna. Perasaan cinta ini pula yang menyelamatkan jiwa Burisrawa, adik Banowati. Burisrawa suatu saat masuk ke kediaman Arjuna di Kasatrian Madukara dan berusaha memperkosa Dewi Wara Subadra, istri Arjuna. Dalam usaha mempertahankan kehormatannya Dewi Subadra mati tertusuk keris Burisrawa. Putra Prabu Salyapati ini akhirnya tertangkap dan seharusnya akan dihukum mati, tetapi Dewi Banowati segera datang dan membujuk Arjuna, sehingga Burisrawa diampuni dan akhirnya dibebaskan.

Dalam berbagai cerita pedalangan sering dikisahkan secara samar tentang hubungan gelap dan perselingkuhan Banowati dan Arjuna. Ketika Banowati melahirkan anaknya yang pertama, wajah bayi itu temyata amat mirip dengan Arjuna. Kenyataan ini amat menggelisahkan Banowati dan Arjuna, karena mereka khawatir perselingkuhannya terbongkar. Karenanya Arjuna lalu memohon pada para dewa agar anak Banowati jangan mirip dirinya. Permohonan itu dikabulkan, dan wajah bayi itu berubah menjadi mirip Suyudana. Anak pertama Banowati ini diberi nama Lesmana Mandrakumara, yang tingkah lakunya seperti orang lemah mental. Anak keduanya diberi nama Lesmanawati, lahir sebagai putri cantik. Lesmana Mandrakumara mati dibunuh Abimanyu dalam Baratayuda, sedangkan Dewi Lesmanawati diperistri Warsakusuma, putra Adipati Karna.

Menjelang dan selama Baratayuda berlangsung, beberapa tokoh Kurawa mencurigai Dewi Banowati sering membocorkan rahasia pihak Kurawa kepada pihak Pandawa. Bambang Aswatama, putra tunggal Begawan Drona, termasuk tokoh pengikut Kurawa yang amat membenci Dewi Banowati. Terlebih lagi ketika selesai Baratayuda, Banowati yang waktu itu sudah janda, dengan senang hati ternyata bersedia menjadi istri Arjuna. Dengan dendam yang meluap dan kebencian yang membara, pada suatu malam Aswatama berhasil menyusup ke Keraton Astina dan membunuh Banowati.

Walaupun kecantikan dan kemolekan tubuhnya tidak ada celanya, Dewi Banowati memang bukan contoh karakter wanita yang baik dalam pewayangan. Cintanya pada Arjuna membuat Banowati sebagai seorang istri bukan saja mengabaikan dan merendahkan wibawa suaminya, namun juga mengkhianatinya. Sebagian dalang Wayang Kulit Purwa bahkan menempatkan Banowati sebagai sasaran olok-olok. Ki Dalang antara lain mengunakan tokoh panakawan untuk mengungkapkan sindiran atau olok-oloknya. Biasanya tokoh Petruk yang ditampilkan untuk keperluan itu.

Selain itu pada beberapa lakon carangan Banowati juga diberi peran sebagai wanita gampangan. Misalnya, dalam lakon Brajadenta-Brajamusti, atau Brajadenta Mbalela, dikisahkan Brajadenta beralih rupa menjadi Gatotkaca, dan kemudian merayu Dewi Banowati. Mengenai tabiat Dewi Banowati yang tidak terpuji itu, sebenarnya seluruh keluarga Kurawa juga mengetahui atau mencurigainya. Tetapi karena sikap Duryudana yang tetap melindungi istrinya, membuat mereka tidak bereaksi secara terang-terangan. Mereka takut pada saudara tuanya. Hanya Aswatama, putra tunggal Begawan Drona, yang diam-diam menaruh dendam pada permaisuri Astina itu. Nama Banowati, dalam Kitab Mahabarata ditulis Bhanu-matti, yang artinya 'wanita bercahaya bagaikan sinar matahari'. Kata 'banu' atau 'bhanu' artinya matahari, sedangkan kata 'matti' atau 'wati' menunjukkan bahwa ia seorang wanita.

Dalam seni kriya Wayang Kulit Purwa tokoh Dewi Banowati dilukiskan dalam dua wanda, yakni wanda Golek dan wanda Berok.

Selain pada Wayang Purwa, nama Dewi Banowati juga terdapat pada Wayang Krucil atau Klitik, dan di pentas Langendriyan. Banowati yang ini adalah istri Adipati Ranggalawe dari Tuban. Mereka mempunyai tiga anak, yakni Dewi Sekati, Watangan, dan Buntaran.

Lakon-lakon yang melibatkan Banowati:
  • Kartawiyoga Maling
  • Alap-Alapan Surtikanti
  • Suyudana Rabi
  • Subdra Larung
  • Brajadenta-Brajamusti
  • Aswatama Nglandak

DEWI BANOWATI, wayang Kyai Inten, Wayang Kulit Purwa gagrak Yogyakarta.
 DEWI BANOWATI, gambar grafis Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta.
DEWI BANOWATI, Wayang Kulit Purwa gagrak Jawatimuran.

 
DEWI BANOWATI, gambar grafis bergaya buku komik,
berdasarkan penampilan pada panggung Wayang Orang gaya Surakarta.




{[['']]}

Baladewa, Prabu

BALADEWA, PRABU, merupakan salah satu tokoh wayang yang dikenal adil, tegas, jujur, tetapi pemarah dan mudah dihasut. Ia adalah putra Prabu Basudewa dari Kerajaan Mandura, yang kemudian mewarisi takhta ayahnya. Sedangkan adiknya yang bernama Kresna, menjadi raja di Dwarawati. Baladewa dilahirkan kembar bersama Kresna, namun kulit mereka berbeda rupa. Baladewa berkulit putih, sedangkan Kresna hitam. Ibu mereka adalah Dewi Mahindra, yang kadang-kadang diucapkan Mahendra. Dari ibunya yang lain, mereka berdua mempunyai adik perempuan bernama Dewi Bratajaya alias Wara Subadra. Sementara itu dari ibu yang lain lagi, yakni Dewi Maerah, Baladewa mempunyai saudara haram, yakni Kangsa. Permaisuri Baladewa bernama Dewi Erawati, putri sulung Prabu Salyapati. Tidak seperti kebanyakan raja dalam pewayangan yang beristri banyak, sampai akhir hidupnya Prabu Baladewa hanya punya seorang istri. Anaknya dua, dinamakan Wisata dan Wimuka.

Sebagian dalang menyebutkan Prabu Baladewa tidak mempunyai anak. Hal ini disebabkan karena raja Mandura itu dititisi oleh arwah Laksmana, adik Ramawijaya. Pada mulanya Laksmana menitis pads Arjuna. Tetapi karena Arjuna memiliki banyak istri, arwah Laksmana tidak kuat berada dalam badan wadak (asmani) Arjuna, sehingga ia kemudian pindah pada Prabu Baladewa. Sejak dititisi arwah Laksmana, Baladewa yang semula sifatnya pemarah menjadi lebih sabar daripada sebelumnya. Selain dititisi arwah Laksmana, Baladewa juga merupakan titisan Batara Basuki, dewa kesejahteraan dan keselamatan.

Pada masa kecilnya, bersama kedua adiknya Baladewa terpaksa diungsikan ke Kademangan Widarakandang oleh orangtuanya. Waktu itu Baladewa masih menggunakan nama Kakrasana. Kresna memakai nama Narayana, sedangkan Dewi Bratajaya dipanggil Lara Ireng atau Rara Ireng. Di Widarakandang mereka diasuh oleh Ki Demang Antagopa dan istrinya, Nyai Segopi. Pengungsian ini terpaksa dilakukan karena ketiga anak yang barn menjelang remaja itu diancam akan dibunuh oleh Kangsa, anak Prabu Gorawangsa yang lahir dari Dewi Maerah, istri pertama Prabu Basudewa. Jadi sebenarnya Kangsa adalah saudara haram dari Baladewa dan adik-adiknya.

Dalam masa tinggal di pengungsian di Kademangan Widarakandang ini secara diam-diam Kakrasana belajar berbagai ilmu dari Dewa Brama yang waktu itu menyamar sebagai seorang brahmana kelana. Pengajaran itu dilakukan di Gunung Hargasonya. Sesudah dinyatakan lulus, Baladewa diberi hadiah senjata pemusnah yang dahsyat bernama Nanggala dan Alugara. Nanggala berujud mata bajak, sedangkan Alugara berupa gada dengan kedua ujung runcing. Baladewa juga menguasai ilmu yang memungkinkannya terbang dengan kecepatan tinggi. Ilmu itu disebut Aji Jaladara. Dan karena itu pula Baladewa juga mempunyai nama lain: Wasi Jaladara.

Selain memiliki berbagai ilmu, Prabu Baladewa dikenal sebagai ahli perkelahian dengan gada. Dalam ilmu keterampilan gada ini ia dianggap guru oleh Bima, dan juga oleh Prabu Anom Suyudana, raja muda Astina. Berkat Baladewa, kedua orang itu menjadi jago dalam pertempuran dengan gada. Dalam banyak hal Baladewa yang merupakan titisan Batara Basuki ini sering berbeda pendapat dengan Kresna yang titisan Batara Wisnu. Tetapi pertentangan itu tidak membuat mereka bermusuhan. Bahkan kalau keduanya berdebat, selalu Kakrasana yang mengalah, karena ia menganggap adiknya itu memang lebih mahir bicara, pandai membujuk dan meyakinkan orang.

Baladewa juga bernama sang Karsana, Balarama, Alayuda, Basukiyana. Tetapi Bima mempunyai julukan khusus pads raja Mandura ini. Bima memanggilnya dengan julukan Bule, sebab kulitnya putih.

Nama Baladewa mengandung arti balatentara dewa. Kata bala artinya kekuatan atau prajurit. Baladewa dapat memperistri Dewi Erawati antara lain karena bantuan Arjuna. Suatu ketika Dewi Erawati diculik oleh Kartapiyoga (dalam pewayangan sering juga disebut Kartawiyoga), putra mahkota Kerajaan Tirtakadasar. Negeri itu berada di dasar laut. Itulah sebabnya tidak mudah untuk menemukan putri sulung Prabu Salyapati tersebut. Arjunalah yang kemudian membantu Baladewa sehingga ia dapat menemukan dan membebaskan Dewi Erawati. Dengan bantuan Arjuna pula Baladewa dapat membunuh si Penculik, yakni Kartapiyoga dan bapaknya, Prabu Kurandageni.

Menjelang saat pecah Baratayuda, Baladewa yang selalu menjunjung sikap adil, berusaha tidak memihak. Raja dan pemimpin para Kurawa menurut penilaiannya memang berada di pihak yang salah, namun bagaimana pun Prabu Duryudana adalah iparnya. Akhirnya, sesuai dengan keinginan Kresna, Prabu Baladewa memutuskan untuk tidak man menyaksikan peperangan besar yang menyedihkan hatinya itu. Itulah sebabnya pada saat Baratayuda dimulai, ia pergi bertapa di Grojogan Sewn, agar gemuruh air yang selalu terjun di dekat pertapaan itu dapat membuat telinganya tidak mendengar suara perang.
Versi lain menyebutkan, menyepinya Prabu Baladewa dengan bertapa di Grojogan Sewu adalah karena ulah dan tipu muslihat Prabu Kresna yang tidak menginginkan kakaknya terlibat dalam Baratayuda. Kresna memperkirakan, jika terpaksa harus memihak, maka mungkin Prabu Baladewa akan memihak Kurawa, karena mertua dan dua iparnya berada di pihak Kurawa. Bila kemungkinan ini sampai terjadi, maka berarti Kresna akan terpaksa berhadapan dengan abangnya sebagai lawan, walaupun dalam perang besar itu Kresna tidak ikut aktif dalam pertempuran.

Prabu Kresna lalu meminta abangnya agar bertapa di Grojogan Sewu ditemani oleh salah seorang anak Kresna, yakni Setyaka. Prabu Baladewa diminta jangan berhenti bertapa sebelum sebuah kuntum bunga tunjung yang ada di pertapaan itu mekar. Sementara itu, sebenarnya Kresna telah mengikat kuntum bunga tunjung itu dengan sehelai rambutnya, sehingga bunga itu tidak dapat mekar.

Karena setelah ditunggu-tunggu bunga tunjung itu tidak juga mekar, suatu hari Prabu Baladewa yang mulai curiga, memeriksa kuntum bunga itu. Maka tahulah ia bahwa Kresna telah memperdayakannya. Dengan marah ia langsung berangkat ke Tegal Kurusetra, dan sempat menyaksikan pertarungan gada antara Bima dan Duryudana. Ketika Bima meremukkan paha kiri lawannya, dan kemudian membunuhnya, Prabu Baladewa marah besar dan langsung hendak menghukum Bima yang dianggapnya berlaku curang, meninggalkan sikap ksatria. Namun, untuk kesekian kalinya Prabu Kresna dapat meredakan amarah abangnya, dengan menjelaskan bahwa terpukulnya paha kiri Duryudana itu adalah sudah menjadi takdirnya, karena kutukan Begawan Maetreya.

Dalam pewayangan, seharusnya Prabu Baladewa, yang memihak keluarga Kurawa, memang mati ketika melawan Antareja, anak sulung Bima, dalam Baratayuda. Hal ini diketahui Kresna beberapa saat sebelum perang besar pecah. Waktu itu dengan cara ngraga sukma, yakni jiwanya lepas dari tubuhnya, Prabu Kresna pergi ke kahyangan dan mengubah ujud dirinya menjadi seekor kumbang. Dalam ujud serangga itu ia terbang dan menumpahkan tinta tepat di atas tulisan takdir Baladewa dan Antareja. Kitab takdir itu dalam pewayangan disebut Kitab Jiptasara (Kitab Jitapsara). Setelah mengacaukan takdir itu Kresna turun kembali ke dunia dan menanyakan pada Antareja, apakah ksatria sakti itu sanggup mengorbankan jiwanya demi kejayaan para Pandawa. Sesudah Antareja menyatakan kesanggupannya, Kresna menyuruhnya menjilat bekas telapak kakinya sendiri. Karena kesaktian lidahnya, saat itu juga Antareja meninggal. Dengan begitu, selamatlah Baladewa.

Dalam kitab Mahabarata Baladewa sering disebut Balarama. Ia juga dipandang sebagai inkarnasi Krishna (Kresna), khususnya oleh penganut Hindu sekte Waisnawa. Dalam Kitab Mahabarata, Balarama dilukiskan bersikap netral, tidak seperti Krisna yang memihak Pandawa. Dan, seperti juga Kresna, Baladewa berumur sangat panjang. Raja Mandura itu sempat menyaksikan Prabu Parikesit dinobatkan dan memerintah Kerajaan Astina. Bahkan sewaktu Kerajaan Astina diserbu oleh bala tentara Kerajaan Ajibarang (sebelumnya, kerajaan ini bernama Trajutrisna) pimpinan Prabu Wesiaji, Prabu Baladewalah yang menjadi dewa penolong. Melihat Kerajaan Astina terancam bahaya, ia turun dari Pertapaan Grojogan Sewu dan berhasil membunuh Prabu Wesiaji. Ketika suatu saat ia mendengar berita tentang kematian Prabu Kresna dan hancurnya Kerajaan Dwarawati, Baladewa amat merasa sedih. Saudara yang amat ia kasihi ternyata meninggal lebih dahulu. Raja Mandura itu lalu pergi ke hutan dan bertapa berhari-hari, berbulan-bulan, sampai akhirnya meninggal.

Versi lain menyebutkan Prabu Baladewa justru gugur ketika berhadapan dengan Prabu Wesiaji. Menurut versi ini, Prabu Wesiaji atau Prabu Watuaji bukan raja negeri Ajibarang, melainkan raja Trajutrisna. Prabu Wesiaji adalah putra Prabu Boma Narakasura, salah seorang anak Kresna. Dalang lain menyebutkan, Prabu Wesiaji bukan anak Boma Narakasura, tetapi anak Prabu Bomantara.

Dalam, Kitab Hariwangsa berbahasa Jawa Kuna tulisan Empu Panuluh, disebutkan bahwa sebenarnya Prabu Baladewa pernah mati ketika berperang tanding melawan Bima. Ini terjadi sewaktu Baladewa membela Kresna, setelah adiknya itu melarikan Dewi Rukmini. Ketika itu raja Kumbina, Prabu Bismaka, meminta bantuan para Pandawa untuk menghadapi Kresna (waktu itu masih menggunakan nama Narayana) yang telah melarikan putrinya. Karena Yudistira telah terlanjur menyanggupi, Pandawa terpaksa berperang melawan Kresna. Prabu Baladewa membantu Kresna, dan akhirnya mati sampyuh bersama Bima. Yudistira juga gugur ketika melawan Kresna. Tetapi ketika Kresna melawan Arjuna, keduanya ternyata sama saktinya. Saat itu Kresna mengubah ujud dirinya menjelma sebagai Batara Wisnu. Arjuna pun, juga berbuat yang sama sehingga orang melihat Batara Wisnu berperang melawan Wisnu pula. Perang itu baru berakhir sesudah para dewa turun tangan. Pandawa menyadari bahwa Rukmini memang merupakan jodoh Kresna yang tidak dapat diganggu gugat. Yudistira, Bima, dan Baladewa dihidupkan kembali oleh Kresna dengan Kembang Wijayakusuma miliknya.

Riwayat Baladewa dalam pewayangan, pada beberapa bagian memang agak berbeda dengan yang diceritakan di Kitab Hariwangsa, yang merupakan lampiran Kitab Mahabarata. Menurut kitab itu, ibu Baladewa dan Kresna bukanlah Dewi Mahendra, melainkan Dewi Dewaki. Baladewa merupakan anak ketujuh, karena keenam kakaknya yang lahir terdahulu semuanya mati dibunuh Kangsa. Dalam Kitab Hariwangsa, Kangsa yang menjadi raja di Mandura (Mathura) diramal oleh Batara. Narada akan mati di tangan salah seorang anak Dewi Dewaki. Itulah sebabnya, Kangsa lalu memenjarakan Dewi Dewaki dan Basudewa (Wasudewa), dan membunuh semua bayi yang dilahirkannya di penjara itu. Ketika bayi Baladewa dilahirkan, sebelum Kangsa tabu, ia diselamatkan oleh Dewi Nendra — yakni Dewi Rasa Kantuk. Semua penghuni penjara termasuk para penjaganya dibuat tidur. Saat semuanya telah lelap, bayi Baladewa dibawa Dewi Nendra dan diserahkan pada pada istri Basudewa yang lain, yakni Dewi Rohini, yang tidak ikut dipenjara, sehingga Kangsa mengira bayi itu anak Dewi Rohini.

Dalam seni kriya Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta, Prabu Baladewa dilukiskan dalam tujuh wanda. Ketujuh wanda itu adalah wanda Sembada, Paripeksa, Kaget, Geger Rangkung, Rayung, dan wanda Jangkung. Semua wanda itu diciptakan pada tahun 1563 Jawa atau tahun 1641 Masehi, pada saat pemerintahan Sultan Agung Anyakrakusuma, raja Mataram (1613 - 1645).

Tetapi menurut gagrak Yogyakarta, wanda Prabu Baladewa hanya tiga, yakni wanda Sembada, Geger, dan Banteng (Kaget). Wanda Sembada digunakan untuk adegan perjamuan, wanda Geger untuk marah, dan wanda Banteng untuk berperang.

Selain itu beberapa seniman penyungging dan penatah wayang di Surakarta, pada tahun 1920-an di zaman pemerintahan Paku Buwana X, menciptakan wanda Baladewa yang lain, yakni wanda Begawan atau wanda Sepuh. Wanda yang ini digunakan manakala Baladewa tampil sebagai pertapa atau pada lakon-lakon yang mengisahkan cerita pada zaman pasca Baratayuda. Perlu diketahui, dalam pewayangan ketika zaman pemerintahan Prabu Parikesit, Baladewa bertindak sebagai penasihat kerajaan dengan nama Begawan Curiganata.

Sesuai dengan wataknya yang pemarah, peraga wayang Baladewa, baik gagrak Surakarta maupun Yogyakarta digambarkan dengan warna kemerahmerahan. Seni kriya Wayang Kulit Purwa di Jawa Timur lain lagi. Di sana peraga wayang Baladewa yang dalam cerita berkulit putih, bulai, digambarkan dengan warna putih. Demikian pula warna wajahnya, putih!

Beberapa lakon yang melibatkan Baladewa:
  • Kakrasana Lair (Lahirnya Kakrasana)
  • Kangsa Adu Jago
  • Semar Mbarang Jantur (Kartawiyoga Maling)
  • Parta Krama
  • Rama Nitis
  • Jaladara Rabi (Endang Werdiningsih)
  • Duryudana Lena (Baratayuda)


 PRABU BALADEWA, Wayang Kyai Inten, Wayang Kulit Purwa gagrak Yogyakarta.


 PRABU BALADEWA, Wayang Kulit Purwa gagrak Jawatimuran,
seluruh tubuh dan wajahnya diberi warna putih untuk menggambarkan
bahwa raja Mandura itu seorang bule (albino)


PRABU BALADEWA wanda Rayung, gambar grafis Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta


 PRABU BALADEWA wanda sembada, gambar grafis Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta.


 PRABU BALADEWA, gambar grafis Wayang Kulit Purwa gagrak Yogyakarta.


PRABU BALADEWA, karya seniman wayang masa kini , 
Sigit Sukasman dari Yogyakarta. Wayang ciptaannya biasanya disebut 
Wayang Ukur.


 PRABU BALADEWA wanda Sembada, Wayang Kulit Purwa gagrak Yogyakarta.


 PRABU BALADEWA wanda Banteng, Wayang Kulit Purwa gagrak Yogyakarta.


 PRABU BALADEWA wanda Kaget, Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta.


 PRABU BALADEWA, Wayang Kulit Purwa Bali.


 PRABU BALADEWA, Wayang Golek Purwa Sunda.


PRABU BALADEWA, bergaya buku komik wayang
pada panggung Wayang Orang gaya Surakarta.

{[['']]}

Bagong

BAGONG, yang di daerah Banyumas disebut Bawor adalah seorang tokoh panakawan dalam dunia pewayangan. Panakawan adalah pengiring atau pamong yang selalu ikut dan mendampingi seseorang atau suatu keluarga, sebagai tempat berbagi suka dan duka serta dimintai saran-saran jika diperlukan. la adalah anak hasil pujaan Semar atau Ki Lurah Badranaya.

Menurut cerita dalam pewayangan, Bagong diciptakan dari bayangan Semar. Di hari-hari pertama Sang Hyang Ismaya turun ke dunia sebagai Semar untuk bertugas sebagai pamong golongan manusia yang berbudi baik, ia merasa kesepian. Karena itu ia mohion pada ayahnya, yaitu Hyang Tunggal, agar diberi teman. Sebagai teman setia Semar, adalah bayangannya, yang oleh Sang Hyang Tunggal kemudian diubah ujud menjadi Bagong. Itulah sebabnya bentuk dan wajah Bagong amat mirip dengan Semar. Seperti Semar, perut Bagong juga buncit, hidungnya pesek, pantatnya besar.

Bagong mempunyai sifat dan pembawaan yang kekanak-kanakan. Lucu, jarang bicara, tapi sekali bicara membuat orang tertawa. Dalam pewayangan, Bagong merupakan pengeritik tajam clan nylekit bagi tokoh wayang lain yang bertindak tidak benar. Biasanya, sebelum mulai berbicara, Bagong lebih dahulu mengucapkan kalimat pendahuluan yang khas sebagai berikut: "Gembor menentor bocor... " Baru setelah itu ia mengucapkan kalimat yang hendak disampaikannya. Dalam pedalangan Wayang Purwa, beberapa puluh tahun yang lalu tokoh Bagong hanya dikenal di beberapa daerah, terutama di Yogyakarta ke barat dan di daerah Banyumas, dan beberapa tempat di Jawa Timur. Namun kini tokoh Bagong juga dimainkan di daerah-daerah lain, bahkan juga dalam pedalangan di Jawa Barat. Pada Wayang Golek Sunda, tokoh Bagong sering dipersamakan dengan Cepot atau Astrajingga. Namun, beda dengan pada kebanyakan Wayang Kulit Purwa, di Wayang Golek Purwa Sunda, Cepot Astrajingga dianggap sebagai anak Semar yang tertua.

Tokoh Wayang Bagong mulai diciptakan pada zaman pemerintahan Sunan Amangkurat II, raja Mataram (1677 - 1703). Dengan candra sengkala "Mantri Sirna Sangoyag Jagad", dapat diperhitungkan Bagong tercipta pada tahun 1603 Jawa, atau 1679 Masehi. Namun siapa seniman penciptanya, tidak diketahui.
Walaupun Bagong sebenarnya merupakan anak pertama Semar, dalam pewayangan ia sering dianggap sebagai anak bungsu. Salah kaprah ini terutama disebabkan karena sifat Bagong yang kekanak-kanakan itu. Biasanya, dalam pedalangan Wayang Kulit Purwa atau di panggung Wayang Orang, Bagong berbicara dengan logat Jawa Banyumasan. Itulah antara lain, mengapa di daerah Banyumas tokoh Bagong amat digemari.
Khusus pada pewayangan di Jawa Timur ada tokoh yang disebut Hyang Katinja alias Besot, atau Besep, atau Bestil, atau Besil. Tokoh wayang ini berasal dari tinja Semar yang terinjak Bagong.

Dalam Wayang Menak, ada tokoh panakawan yang hampir serupa bentuknya dengan Bagong. Tokoh ini disebut Jiweng. Bagong beristri cantik, bernama Dewi Bagnawati, putri Prabu Balya dari Kerajaan Pucangsewu. Dalam lakon carangan "Semar Minta Bagus" atau "Semar Gugat", Bagong diajak Semar ke kahyangan dan diubah bentuknya menjadi ksatria tampan. Bagong diberi nama baru Bambang Lengkara, sedangkan Semar yang telah berganti rupa menjadi ksatria perkasa, menamakan dirinya Bambang Dewalelana. Dalam lakon ini, selain berubah menjadi tampan, Bagong juga memiliki kesaktian yang seimbang dengan para dewa.

Dalam seni kriya Wayang Kulit Purwa, tokoh Wayang Bagong dilukiskan dalam beberapa wanda. Di antara wanda Bagong adalah: Wanda Gembor dengan bibir lebih lebar  dan terbuka. Dibandingkan dengan wanda lainnya, Bagong wanda Gembor merupakan wanda yang paling tua dan paling besar ukurannya. Hampir sebesar Semar. Sikap tubuhnya agak membungkuk dan kepalanya agak menunduk. Wanda Gilut, yakni yang bibir bawahnya lebih tebal. Tubuh Bagong wanda Gilut agak pendek, tetapi kepalanya mendongak dan dadanya membusung. Ciri lainnya, Bagong pada wanda Gilut ini mengenakan keris berwarangka sandang walikat. Wanda Ngengkel, sikap tubuhnya lebih tegak dan kepalanya agak mendongak. Yang terakhir, disebut Wanda Blungkang, yang gundul rambutnya, dan bibir bawahnya panjang.
      Pada tahun 1987 Ir. Haryono Haryoguritno, seorang pakar seni kriya Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta, menciptakan wanda baru bagi Bagong, yakni Bagong wanda Blo'on. Wanda baru itu diciptakan sebagai pasemon terhadap keadaan zaman, saat generasi muda yang kurang peduli pada keadaan di sekitarnya.




      BAGONG, Wayang Kyai Inten gagrak Yogyakarta


      BAGONG wanda bloon, Wayang Kulit Purwa gagrak Yogyakarta



       BAGONG, Wayang Kulit Purwa kreasi Sigit Sukasman Yogyakarta




       BAGONG sewaktu menjadi raja, Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta




       BAGONG dalam ujud seorang wanita, Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta



       BAGONG, Wayang Kulit Purwa gagrak Jawa Timur



       BAGONG, Wayang Kulit Purwa gagrak Yogyakarta


       
      BAGONG wanda ngeyel atau ngengkel




       BAGONG wanda gembor


      BAGONG, gambar grafis Wayang Kulit Purwa gagrak Cirebon 



      BAWOR, sebutan Bagong pada Wayang Kulit Purwa gagrak Banyumas
      gambar grafis Wayang Kulit Purwa



      BAGONG, pada penampilan di panggung Wayang Orang


      BAGONG saat menjadi ratu, gambar grafis Wayang Kulit Purwa
      gagrak Surakarta


       BAGONG salah satu panakawan, dalam gambar grafis bergaya buku komik wayang, 
      berdasarkan penampilan pada panggung Wayang Orang.
      {[['']]}

      Bagaspati, Begawan

      BAGASPATI, BEGAWAN, walaupun berujud raksasa buruk rupa, namun ia berhati mulia dan sakti. Bagaspati mempunyai seorang istri bidadari bernama Dewi Darmastuti. Meskipun ia sendiri raksasa, Bagaspati mempunyai anak seorang putri cantik yang diberi nama Pujawati. Setelah dewasa anaknya ini menikah dengan Narasoma, putra mahkota Kerajaan Mandaraka.

      Begawan Bagaspati adalah putra Batara Nagapasa. la mempunyai seorang abang, juga berujud raksasa, bernama Bagaswara, yang juga hidup sebagai pertapa. Pertapaan Bagaspati bernama Arga Belah. Dalam pewayangan, Bagaspati disebutkan sebagai satu di antara tiga makhluk berdarah putih yang pernah hidup di dunia ini. Makhluk berdarah putih lainnya adalah Resi Subali, berujud kera, yang akhirnya mati terbunuh oleh panah Prabu Ramawijaya. Yang satu lagi adalah Puntadewa, dari keluarga Pandawa, berujud manusia, putra sulung Prabu Pandu Dewanata. Sejak kecil, walaupun ujudnya raksasa, Bagaspati terlatih bertapa dan mencari ilmu. Itulah sebabnya ia tumbuh menjadi raksasa yang amat sakti. Suatu saat Bagaspati berhasil menolong para dewa dengan mengalahkan pasukan gandarwa yang menyerbu kahyangan. Karena jasanya itu Batara Guru berkenan memberinya hadiah. Bagaspati disuruh memilih salah satu bidadari yang ada di kahyangan untuk dijadikan istrinya. Namun dalam kesempatan ini Bagaspati membuat kesalahan besar.

      Ia justru memilih Dewi Laksmi, istri Batara Guru sendiri (setelah istri Batara Guru, Dewi Uma, menjadi Batari Durga). Tentu saja pilihannya itu membuat murka Batara Guru. Maka terucaplah kutukan Raja Dewa itu, bahwa kelak Bagaspati akan dibunuh oleh menantunya sendiri. Begawan Bagaspati sadar akan kelancangannya, lalu memohon ampun. Namun kutukan telah terjadi, tidak mungkin diralat lagi. Dan, karena para dewa telah berjanji memberinya hadiah, Bagaspati kemudian diberi Dewi Darmastuti, salah seorang putri Batara Ismaya (Semar) sebagai istrinya. Namun pemberian itu disertai syarat, setelah bidadari itu melahirkan anak, ia harus kembali ke kahyangan. Dengan penuh sesal Bagaspati turun kembali ke dunia. Adanya Dewi Darmastuti, bidadari cantik yang mendampinginya sejak ia pulang dari kahyangan, tidak mampu mengurangi rasa sesal akan kekeliruannya berbuat lancang terhadap Batara Guru. Sementara Batara Guru sendiri, masih tetap merasa dendam terhadap penghinaan Begawan Bagaspati. Bagaimana mungkin seorang raksasa berani merendahkan martabatnya di hadapan para dewa lainnya dengan memilih Dewi Laksmi sebagai istri yang diidamkannya.

      Dendam Batara Guru kepada Begawan Bagaspati rupanya cukup mendalam. Belum puas dengan kutukannya, beberapa waktu kemudian Batara Guru menciptakan seekor makhluk ganas dari selongsong kulit Batara Antaboga. (Setiap seribu tahun sekali Batara Antaboga, dewa yang berujud naga, m1ungsungi: berganti kulit). Disuruhnya makhluk ganas yang diberi nama Candrabirawa itu menyerang Begawan Bagaspati. Tetapi ternyata makhluk ganas serupa naga itu tidak sanggup melawan Bagaspati yang berdarah putih. Setiap kali Candrabirawa menyerang, jika dilawan, tubuh makhluk itu terbelah dua. Demikian seterusnya, sehingga jumlahnya ribuan. Tetapi Bagaspati tidak melawan. Sehingga akhirnya, Candrabirawa menyerah, kemudian mohon agar dibolehkan mengabdi pada Bagaspati. Dan, sejak itu pula kesaktian Bagaspati bertambah.

      Istri Begawan Bagaspati, seperti yang telah dipesankan oleh para dewa sebelumnya, segera kembali ke kahyangan sesudah melahirkan seorang putri cantik yang diberi nama Dewi Pujawati. Meskipun ujudnya raksasa, Begawan Bagaspati ternyata dapat menjadi ayah yang baik. Ia memelihara dan mendidik Pujawati sehingga menjadi gadis yang tinggi sopan santunnya dan berhati mulia.

      Pada suatu hari, Dewi Pujawati menghadap ayahnya dan menceritakan tentang mimpinya. Dalam mimpi itu Pujawati bertemu dengan seorang ksatria yang tampan dan perkasa, bernama Raden Narasoma. Ia mohon pada ayahnya agar mencari ksatria tampan yang muncul dalam mimpi itu. Sang ayah yang bijaksana itu segera tabu bahwa putrinya jatuh cinta. Berarti, Pujawati sudah ingin kawin. Berarti pula ia akan segera mempunyai menantu. Raksasa berhati mulia itu segera teringat akan kutukan Batara Guru. Walaupun demikian, demi kebahagiaan anak tunggalnya Begawan Bagaspati tidak lagi mempedulikan soal kutukan itu. Yang penting baginya, Pujawati dapat hidup bahagia kawin dengan prig pujaannya. Karena itu ia pun segera berangkat mencari ksatria yang diimpikan putrinya.

      Narasoma mudah ditemukan, tetapi tidak mudah membawanya ke Pertapaan Arga Belah. Apalagi ketika Narasoma mendengar alasan Begawan Bagaspati bahwa ajakan itu dimaksudkan hendak memperkenalkannya dengan putrinya. Dalam pikiran Narasoma, seorang raksasa yang buruk rupanya, tentu begitu pula rupa anaknya. Karena itu, serta merta Narasoma menolak ajakan Bagaspati. Maka terpaksalah Bagaspati membawa ksatria itu dengan cara paksa. Sesampainya di Pertapaan Arga Belah, ternyata Narasoma kagum bukan main melihat kecantikan dan perilaku Dewi Pujawati. Kali ini tanpa disuruh ia segera jatuh cinta pada putri pertapa yang berujud raksasa itu. Mereka pun kawin.

      Begawan Bagaspati sadar, ia tidak akan lama menyaksikan kebahagiaan putrinya itu. Bagaimana pun, kutukan Batara Guru tentu akan segera terlaksana. Dan, benarlah. Suatu hari Narasoma datang menghadap mertuanya. Dengan kata-kata kiasan dan bahasa perlambang Narasoma mengatakan dengan jujur bahwa sebenarnya ia merasa malu mempunyai mertua berujud raksasa. Apalagi ia adalah putra mahkota Kerajaan Mandaraka. Mendengar hal itu Begawan Bagaspati yang arif segera menjawab bahwa ia ikhlas meninggalkan dunia ini, asal saja putrinya dapat hidup bahagia. la hanya bertanya apakah Narasoma mencintai Pujawati dengan segenap hati. Setelah Narasoma mengiyakan, Bagaspati mengajaknya masuk ke dalam sanggar pamujan. *)

      Raksasa pertapa itu lalu mewariskan berbagai ilmunya, termasuk Aji Candrabirawa. Bagaspati juga memberi weiangan, karena rasa sayangnya pada Narasoma maka ia akan memilihkan lawan yang istimewa kelak dalam Baratayuda. Lawan Narasoma kelak adalah Prabu Puntadewa, yang juga berdarah putih seperti dirinya.

      "Dengan ilmu yang engkau miliki, khususnya Aji Candrabirawa, engkau tidak akan terkalahkan oleh siapa pun. Dalam Baratayuda kelak, engkau akan gugur secara terhormat melawan Prabu Yudistira alias Puntadewa, manusia berdarah putih yang terkenal akan kejujurannya." Begawan Bagaspati juga berpesan agar sesudah ia meninggal nanti, nama Pujawati diubah menjadi Setiawati. Selain itu Begawan Bagaspati juga berpesan agar bilamana raja Mandaraka, Prabu Mandrapati (ayah Narasoma) menanyakan asal usul Pujawati alias Setiawati, Narasoma agar menjawab bahwa istrinya itu putri titian, pemberian dewa. **)

      "Jangan mengatakan bahwa Pujawati adalah anakku, seorang pendeta buruk rupa, lagi pula berujud raksasa ......", katanya. Setelah pesan dan wejangannya rampung, Begawan Bagaspati menyuruh Narasoma menusukkan kerisnya ke dadanya. Pendeta raksasa tapi mulia itu pun tewas. Ada versi lain yang menyebutkan bahwa sebelum berujud raksasa sebenamya, pada mulanya, Bagaspati adalah ksatria yang elok rupanya. Waktu itu ia bernama Angganaputra, dan mempunyai dua abang, yakni Angganapati dan Angganamurti. Suatu saat para dewa minta bantuan ketiga ksatria itu untuk membasmi musuh yang menyerbu kahyangan. Ternyata yang berhasil adalah Angganaputra. Karenanya, Batara Guru lalu membolehkan Angganaputra memilih salah satu bidadari untuk menjadi istrinya.

      Angganaputra memilih Dewi Uma, sehingga Batara Guru marah dan mengutuknya menjadi raksasa. Angganamurti protes dan membela adiknya serta mengatakan bahwa Batara Guru ingkar janji. Karena dianggap cerewet Angganamurti pun dikutuk menjadi seekor burung. Sedangkan Angganapati, yang tidak protes dijadikan raja di Mandraka, bergelar Prabu Mandrapati.Dengan demikian menurut versi ini, Begawan Bagaspati sesungguhnya adalah adik Prabu Mandrapati, sekaligus paman Narasoma.

      *) Sebagian dalang membuat sanggit lain mengenai kematian Begawan Bagaspati ini.
      Menurut versi ini, setelah melihat kerukunan dan cinta kasih Pujawati-Narasoma, Begawan Bagaspati merasa puss. Namun ia merasa, kesempurnaan cinta-kasih anak dan menantunya itu akan dapat terganggu oleh kehadirannya, karena ujudnya yang raksasa buruk itu. la merasa, demi kelestarian kebahagiaan anaknya, ia harus mati. Lagi pula ia sudah merasa sangat rindu pada istrinya, Dewi Darmastuti yang telah mendahuluinya kembali ke kahyangan. Dengan dua pertimbangan itulah, pertapa berujud raksasa itu kemudian meminta dengan sangat pada menantunya agar dibukakan pintu kedalam kematian. Setelah mewariskan seluruh ilmunya, termasuk Aji Candrabirawa, Narasoma disuruh menggoreskan sadak, gulungan daun sirih ke dadanya, yang menyebabkannya tewas seketika. Jadi, menurut versi ini, Begawan Bagaspati mati karena kehendaknya sendiri. Narasoma hanya menuruti keinginan mertuanya.

      **) Narasoma memang cinta dan setia pada Dewi Pujawati atau Setiawati. Sampai akhir hayatnya ia tidak pernah mengambil wanita lain sebagai istrinya. Dan begitu pula Dewi Setiawati. Putri Begawan Bagaspati itu bunuh diri setelah mengetahui bahwa suaminya gugur dalam Baratayuda.



      BEGAWAN BAGASPATI, Wayang Kulit Purwa gagrak Yogyakarta


      BEGAWAN BAGASPATI, gambar grafis Wayang Kulit Purwa
      gagrak Surakarta
      {[['']]}

      Aswatama, Bambang.

      ASWATAMA, BAMBANG, sering disebut tanpa nama awal Bambang, adalah anak Begawan Drona. Kadang kala ia juga disebut Haswasutautama. Dalam pewayangan ada dua versi mengenai siapa ibunya. Versi pertama menyebutkan ibu Aswatama adalah Dewi Wilutama, sedangkan versi kedua adalah Dewi Krepi — adik Resi Krepa. Dalang yang menganggap Aswatama anak Dewi Wilutama menyebut anak Drona itu berkaki kuda, sedang suara tawanya menyerupai ringkikan kuda. Walaupun ayahnya adalah seorang guru besar dalam ilmu ketrampilan keprajuritan dan siasat perang, Aswatama bukan seorang yang terlalu menonjol kesaktiannya dalam pewayangan. Ia bahkan cenderung dilukiskan sebagai tokoh yang banyak akal, tetapi kurang berjiwa ksatria, dan lebih suka memukul dari belakang. Ia pun digambarkan sebagai tokoh yang karena dendam, bersedia menghalalkan berbagai cara untuk mencapai tujuannya.

      Aswatama termasuk tokoh Kurawa yang lolos dari kematian pada perang besar antara keluarga Pandawa dan Kurawa yang disebut Baratayuda. Tiga hari menjelang usainya Baratayuda anak Begawan Drona itu terlibat pertengkaran dengan Prabu Salya di hadapan Prabu Anom Duryudana. Karena merasa sungkan pada mertuanya, Duryudana memihak Prabu Salya sehingga Aswatama sakit hari dan pergi meninggalkan medan perang. Pangkal perselisihan Aswatama dengan Prabu Salya adalah karena menurut pendapat Aswatama kekalahan Kurawa disebabkan karena kelicikan Prabu Kresna sebagai ahli siasat di pihak Pandawa. Lagi pula, Aswatama berterus terang menilai beberapa senapati Kurawa, misalnya Prabu Salya, Resi Bisma, dan Adipati Karna tidak berperang secara sungguh-sungguh. Penilaian Aswatama itu membuat Prabu Salya berang. Raja Mandaraka itu mendamprat Aswatama di dalam persidangan.

      Terbunuhnya Begawan Drona, ayahnya, juga membuat Aswatama dendam. Karena itu, begitu perang usai, ia mengajak Kartamarma dan Resi Krepa untuk menyelundup masuk ke perkemahan para Pandawa di tepi Padang Kurusetra. Tujuannya jelas, membalas dendam dengan cara licik, karena merasa tidak mampu bilamana terang-terangan. Waktu itu para Pandawa belum masuk ke Istana Astina, masih berada di perkemahan. Aswatama berniat hendak membunuh para Pandawa yang ketika itu, menurut perhitungannya sedang lengah. Resi Krepa menolak ajakan ini. Sesuai dengan rencana, suatu malam Aswatama berhasil menyusup ke perkemahan para Pandawa. Mula-mula ia masuk ke kemah keputren, yakni ruangan untuk para istri Pandawa. Di tempat ini Aswatama berhasil membunuh Dewi Srikandi dan Banowati. Kemudian ia pindah ke kemah lain dan melampiaskan dendamnya dengan membunuh Drestajumena, dan Pancawala (putra Dewi Drupadi dan Puntadewa). Waktu Aswatama akan membunuh Parikesit yang waktu itu masih bayi, anak Abimanyu itu tiba-tiba terbangun, menangis dan kakinya menendang-nendang. Pasopati, anak panah pusaka Arjuna yang ditaruh di ranjang bayi, tertendang dan mental, kebetulan mengenai leher Aswatama. Anak Drona itu pun tewas seketika.

      Kisah kematian Aswatama di atas adalah versi pedalangan di Indonesia.
      Sementara versi lainnya. yaitu yang bersumber Kitab Mahabarata, menyebutkan, setelah berhasil membunuh Dewi Subadra. dan Dewi Srikandi, Aswatama dan Kartamarma lalu melarikan diri ke hutan. Beberapa waktu kemudian, ketika mendengar berita bahwa Dewi Banowati kawin dengan Arjuna, Aswatama menyusup ke Keraton Astina. la membunuh Banowati yang dianggapnya berkhianat. la juga mencoba membakar Keraton Astina, baru setelah itu melarikan diri ke hutan. Dengan penuh kemarahan Bima dan Arjuna segera mengejar Aswatama. Bima memporakporandakan hutan itu, sehingga Aswatama terpaksa keluar dari persembunyiannya. Sementara itu, Arjuna yang sejak dulu membenci anak Drona itu telah menghadangnya. Aswatama akhimya mati oleh panah Arjuna.

      Menurut Sauptika Parwa, kematian Aswatama lain lagi. Dikatakan bahwa sehari sesudah Baratayuda selesai, Aswatama memasuki kemah (pasanggrahan) Pancala (dalam pewayangan disebut Cempalaradya). Drestajumena yang sedang tidur dibunuhnya sebagai pelampiasan dendamnya. Setelah itu Aswatama melarikan diri ke hutan clan bersembunyi selama beberapa waktu. Sesudah keadaan dianggapnya aman, ia pergi ke Pertapaan Sata Arga untuk minta perlindungan pada Maharesi Wyasa (Begawan Abiyasa). Arjuna berhasil menemukan persembunyian Aswatama di tempat kakeknya itu. Namun sewaktu Arjuna hendak membunuhnya, Resi Wyasa dan Prabu Kresna menghalang-halanginya. Atas saran Resi Wyasa, Aswatama menyerahkan semua senjata pusaka yang dimilikinya, dan kemudian mengundurkan diri dari dunia ramai untuk hidup sebagai pertapa.

      Versi yang lain lagi menyebutkan, waktu Arjuna berhadapan dengan Aswatama, anak Resi Drona itu mencoba melawan dengan menggunakan panah pusaka Cundamanik yang diwarisinya dari Begawan Drona. Tetapi Arjuna segera pula melepaskan anak panah pusaka miliknya: Pasopati. Kedua pusaka yang berasal dari kahyangan itu beradu dan menimbulkan goncangan alam, serta membuat para dewa di kahyangan geger. Batara Guru segera mengutus Batara Narada untuk mengatasi pertempuran kedua panah sakti itu. Batara Narada yang melerai pertempuran itu kemudian memutuskan, panah Cundamanik harus disita dan diberikan kepada Arjuna. Sedangkan Arjuna harus membiarkan Astawatama pergi, karena menurut suratan para dewa, anak Drona itu belum waktunya mati. Kesempatan itu digunakan Aswatama lalu pergi ke hutan dan hidup sebagai pertapa.

      Di antara sifat-sifat buruk yang dimiliki Aswatama, terselip juga sifat baiknya.
      Dalam lakon Palguna-Palgunadi Aswatama berhasil menyelamatkan Dewi Anggraini dengan mencegah Arjuna yang hendak berbuat nista terhadap istri Prabu Palgunadi itu. Sejak saat itulah penilaian baik Aswatama terhadap Arjuna hilang. Dan, sejak saat itu pula Arjuna membenci Aswatama. Bagi Aswatama, kebenciannya terhadap Arjuna sudah dimulai sejak remaja. Waktu Begawan Drona menjadi mahaguru di Astina, Aswatama juga ikut serta diajar berbagai macam kemahiran. Mula-mula Drona memberikan perhatian besar pada anaknya ini. Namun kemudian, Arjuna ternyata lebih mahir dan cepat menerima ilmu yang diajarkan, sehingga kasih sayang Drona beralih ke ksatria ini. Hal itu menyebabkan Aswatama cemburu dan mulai membenci Arjuna.

      Mengenai penyusupan Aswatama ke perkemahan Pandawa dan membunuh beberapa orang yang sedang tidur, penggemar wayang mempunyai dua penilaian yang berbeda. Ada yang menganggap perbuatan Aswatama itu licik, tidak ksatria, dan pantas dikutuk. Sebagian yang lain berpendapat bawa perbuatan Aswatama itu, walaupun keji dan meninggalkan sifat ksatria, tetapi sah dalam peperangan. Perbuatan itu mirip dengan perang gerilya.

      Dalam pewayangan Aswatama tinggal di Kasatrian Tirtatinalang. Ia memiliki beberapa nama alias, di antaranya, Dronaputra, Dronasuta, karena ia anak Drona. Ia juga disebut Dwijasuta, Dwijatanaya, Wipratanaya, atau Guruputra, karena ia anak seorang mahaguru. Dalam Kitab Mahabarata, nama Aswatama dituliskan Acwakktaman. Nama itu artinya adalah 'kuda dengan banyak kepandaian'. Dalam kitab itu, Aswatama juga dilukiskan sebagai tokoh ahli weda, yaitu aturan pergaulan dan etika agama.
      Dalam seni kriya Wayang Kulit Purwa, selain digambarkan sebagai manusia biasa, ada seniman wayang yang menggambarkan Aswatama dengan kaki kuda. Hal ini diilhami riwayat kelahiran Aswatama dari ibu seekor kuda betina penjelmaan Dewi Wilutama.

      Lakon-lakon yang melibatkan Aswatama:

      • Aswatama Lahir
      • Palguna-Palgunadi
      • Salya Gugur
      • Aswatama Nglandak
       
       
       BAMBANG ASWATAMA, gambar grafis Wayang Kulit Purwa 
      gagrak Surakarta.
        ASWATAMA, gambar grafis Wayang Kulit Purwa 
      gagrak Yogyakarta.
       
       
       ASWATAMA, gambar grafis Wayang Kulit Purwa Bali. 
       

       ASWATAMA, Wayang Kulit Purwa Sunda.
       
      {[['']]}

      Arjuna Sasrabahu, Prabu

      ARJUNA SASRABAHU, PRABU, raja Maespati, yang di masa mudanya bernama Arjunawijaya, dalam pewayangan adalah titisan Batara Wisnu. la adalah putra Prabu Kartawirya alias Sasrawirya. Istrinya yang pertama bernama Dewi Citralangeni dari Kerajaan Tunjungpura. Yang kedua bernama Dewi Srinadi, putri Begawan Jumanten dari Pertapaan Giriretna. Selain itu ia masih mempunyai ratusan istri yang lain. Sebagai permaisurinya, diangkat Dewi Citrawati dari negeri Magada. Citrawati merupakan titisan Dewi Sri. Mengenai istri-istri Arjuna Sasrabahu, banyak dalang yang menyebutkan jumlahnya `seribu kurang satu'.

      Arjuna Sasrabahu mempunyai seorang patih yang tampan dan sakti bernama Patih Suwanda atau Bambang Sumantri. Nama Arjuna Sasrabahu waktu muda, sebelum menjadi raja, adalah Arjunawijaya. Nama lainnya lagi adalah Wingsatibahu, yang artinya berbahu seribu. Nama ini sebagai julukan atas kekaguman orang akan kekuatan dan kesaktian Arjuna Sasrabahu.

      Patih Suwanda, yang semula meragukan kesaktian Prabu Arjuna Sasrabahu, pernah mencoba menantangnya. Tantangan ini membuat raja Maespati itu murka dan melakukan triwikrama, mengubah ujud dirinya menjadi raksasa amat besar dan bengis. Menyadari bahwa rajanya bukanlah tandingannya, Patih Suwanda langsung bertekuk lutut dan mohon ampun. Prabu Arjuna Sasrabahu berkenan mengampuninya, namun Patih Suwanda dipecat dari jabatannya. Patih Suwanda pun diturunkan pangkatnya menjadi prajurit biasa, dan namanya kembali menjadi Bambang Sumantri.

      Sang permaisuri, Dewi Citrawati, ternyata adalah wanita yang banyak permintaannya. Raja Maespati itu sempat dibuat bingung waktu Citrawati minta agar suaminya memindahkan Taman Sriwedari dari Kahyangan Untarasegara ke Maespati dalam keadaan utuh. Untuk memenuhi permintaan istrinya, Arjuna Sasrabahu menawarkan tugas pemindahan taman itu pada Bambang Sumantri. Jika berhasil, Bambang Sumantri akan diangkat kembali menjadi patihnya.
      Untunglah Bambang Sumantri dibantu oleh adiknya yang sakti, Sukasrana. Taman Sriwedari berhasil dipindahkan ke Maespati dalam keadaan utuh dan lengkap. Dengan demikian jabatan Patih Maespati kembali diserahkan pada Bambang Sumantri.

      Pada suatu saat, Dewi Citrawati menyatakan keinginannya pada suaminya, berenang-renang di Sungai Gangga. Untuk memenuhi keinginan istrinya, Prabu Arjunasasrabahu lalu triwikrama lagi, menjelma menjadi raksasa maha besar. Dengan tubuh yang amat besar itu merebahkan dirinya melintang di sungai, seolah menjadi bendungan. Dengan cara itu maka air sungai itu pun meluap dan nyaman untuk berenang. Tetapi luapan air sungai itu kemudian meluas sampai ke padang kemah tentara Alengka yang saat itu sedang dipersiapkan menyerbu Kerajaan Maespati. Prabu Dasamuka yang memimpin sendiri pasukan raksasa dari Alengka menjadi marah. la mengutus anak buahnya untuk menyelidiki penyebab banjir itu. Setelah mendapat laporan mengenai apa yang terjadi, Prabu Dasamuka segera mendatangi Prabu Arjuna Sasrabahu. Tetapi sebelum Dasamuka berhadapan dengan raja Maespati itu, Patih Suwanda datang menghadang. Terjadilah perang tanding di antara keduanya, dan Patih Suwanda gugur.

      Mendengar tewasnya Patih Suwanda, Prabu Arjuna Sasrabahu segera tampil menghadapi Prabu Dasamuka. Namun Dasamuka yang memiliki Aji Pancasona ternyata tak dapat mati. Begitu tewas, dan badannya menghempas ke bumi, langsung ia bangkit dan hidup kembali. Demikian berkali-kali terjadi. Walaupun tidak berhasil membunuh Dasamuka, Prabu Arjuna Sasrabahu yang triwikrama akhirnya dapat meringkus Dasamuka. Dengan menggunakan anak panah pusaka Kalamanggaseta, raja Alengka itu dirantai, dibawa ke Kerajaan Maespati. Sepanjang perjalanan ke Maespati, Dasamuka diseret kereta kerajaan, dan dijadikan tontonan rakyat.

      Resi Pulasta, kakek Dasamuka turun dari kahyangan menghadap Prabu Arjuna Sasrabahu, memohonkan ampun bagi Dasamuka. Arjuna Sasrabahu bersedia mengampuninya dan melepaskan raja Alengka itu dari belenggu Kalamanggaseta, namun Dasamuka harus lebih dulu bersumpah tak akan membuat onar lagi.
      Setelah Patih Suwanda alias Sumantri gugur, Prabu Arjuna Sasrabahu mengangkat Bambang Kartanadi sebagai patihnya, dan namanya diganti menjadi Patih Surata.

      Sebagai raja, Arjuna Sasrabahu tergolong kurang bijaksana. Apalagi setelah Patih Suwanda gugur, ia sering bertindak tanpa pertimbangan yang bijaksana. Suatu saat ketika sedang berkelana bersama para putra dan pengawalnya, raja Maespati itu membunuh Begawan Jamadagni hanya karena suatu persoalan yang sepele. Waktu itu Maharesi Jamadagni menuntut keadilan, karena ternak peliharaanya dibunuh para prajurit pengawal Arjunasasrabahu.

      Raja Maespati itu bukan menunjukkan sikap adil, tetapi malahan merasa tersinggung dan menyuruh para pengawalnya membunuh pertapa itu. Karena kejadian ini Batara Wisnu merasa enggan menitis pada Prabu Arjuna Sasrabahu. Raja Maespati itu tidak lagi dianggap pantas menjadi titisan Wisnu. Dewa itu lalu oncat meninggalkan raga raja Maespati itu, kembali ke kahyangan. Rama Parasu, anak bungsu Begawan Jamadagni, sesudah mengetahui kejadian itu segera menyusul Arjuna Sasrabahu. Pertapa muda itu berniat hendak menghukum raja yang telah membunuh ayahnya. Mereka lalu berperang tanding, dan Arjuna Sasrabahu mati. Kemampuan Prabu Arjuna Sasrabahu untuk melakukan triwikrama punah, karena Batara Wisnu sudah tidak lagi menitis dalam tubuh raja Maespati itu. Para senapati Maespati yang tidak dapat menerima kematian rajanya, mencoba membunuh Rama Parasu. Namun pertapa muda yang sakti itu bukan tandingan mereka. Semua senapati Maespati mati, dinasti Arjuna Sasrabahu punah, dan Kerajaan Maespati yang besar itupun akhirnya runtuh.

      Walaupun dalam pewayangan pada umumnya Arjuna Sasrabahu dianggap sebagai salah seorang titisan Batara Wisnu tetapi cukup banyak buku pewayangan dan kepustakaan India yang tidak menggolongkan raja Mahespati itu sebagai salah satu awatara atau titisan Dewa Wisnu. Pada seni kriya Wayang Kulit Purwa gagrak Yogyakarta, tokoh Arjuna Sasrabahu dilukiskan dalam empat wanda, yakni Sedet, Padasih, Kanyut dan Panuksma. Bentuk peraga wayang Arjuna Sasrabahu gagrak Jawatimuran berbeda jauh dengan gagrak Surakarta, Yogyakarta, Banyumas, dan daerah lain lagi. Di daerah itu Arjuna Sasrabahu dirupakan dalam bentuk wayang gagahan, bermahkota tetapi memakai gelung sapit urang dan sebagian rambut terurai sampai ke bahu. Kedua tangannya dipenuhi oleh ornamen yang menggambarkan 'bahu seribu'. Selain itu, Arjuna Sasrabahu mengenakan kain poleng, mirip dengan yang dikenakan peraga wayang Bima.

      Lakon-lakon yang Melibatkan Arjuna Sasrabahu:
      • Sumantri Ngenger
      • Arjuna Sasrabahu Tambak
      • Arjuna Sasrabahu Lena
      • Sumantri Lena


      ARJUNA SASRABAHU dalam keadaan tiwikrama,
      Wayang Kulit Purwa gagrak Jawatimuran.
      Perhatikan kedua tangannya yang 'ditumbuhi' oleh 'ratusan' tangan lainnya.


       ARJUNA SASRABAHU, Wayang Kulit Purwa gagrak Jawatimuran, 
      dalam keadaan tidak sedang melakukan tiwikrama. 


      ARJUNA SASRABAHU, Wayang Kulit Purwa gagrak Yogyakarta.


      PRABU ARJUNA SASRABAHU, gambar grafis Wayang Kulit Purwa 
      gagrak Surakarta.





      ARJUNA SASRABAHU, SERAT

      Karya tulis Raden Ngabehi Sindusastra terdiri atas 6 jilid. Isi naskah itu mengambil dasar cerita dari Serat Kanda, yang sudah membaurkan cerita wayang dari Mahabarata dengan unsur-unsur keislaman. Kitab ini ditulis dalam bentuk tembang macapat, dan kadang-kadang disebut juga Kitab Lokapala atau Kitab Arjunawijaya. Serat Arjunasasrabahu ditulis pada tahun 1757 (Jawa) atau 1830 Masehi. Oleh Palmer van den Broek, kitab karya R. Ng. Sindusastra ini dimuat dalam Verhandelingen van het Bataviaasche Genootschap No. 34 Th 1870, dan dicetak ulang pada tahun 1872, 1883, dan 1886 oleh Van Dorp, Semarang. Selanjutnya Balai Pustaka Jakarta juga menerbitkan kembali buku ini pada tahun 1932.

      Isi ringkas Serat Arjunasastrabahu adalah:

      Perjalanan Resi Wisrawa dari Lokapala ke Alengka untuk melamar Dewi Sukesi bagi anaknya, Wisrawana atau Danaraja. Setelah menguraikan Sastra Jendra Hayuningrat, Dewi Sukesi dinikahi sendiri oleh Resi Wisrawa. Danaraja marah lalu membawa bala tentara ke Alengka, tetapi dapat dilerai. Selanjutnya, dari Dewi Sukesi, Resi Wisrawa mendapat anak Rahwana, Kumbakarta, Sarpakenaka dan Wibisana. Buku itu juga memuat riwayat Subali, Sugriwa, dan Anjani yang berubah ujud menjadi kera, setelah memperebutkan Cupu Manik Astagina. Selanjutnya diuraikan juga kisah Lembusura, dan Maesasura yang menyerang kahyangan dan dapat dikalahkan Sugriwa dan Subali. Pengabdian Sumantri pada Prabu Arjunasasrabahu dari Kerajaan Maespati, melamar Dewi Citrawati, tentang Sukrasana, perselisihan dengan Prabu Dasamuka juga dimuat dalam buku ini.
      {[['']]}

      About

       
      Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
      Copyright © 2011. Blvckshadow - All Rights Reserved
      Template Created by Creating Website Published by Mas Template
      Proudly powered by Blogger