Latest update :
Recent Updates

Bagong

BAGONG, yang di daerah Banyumas disebut Bawor adalah seorang tokoh panakawan dalam dunia pewayangan. Panakawan adalah pengiring atau pamong yang selalu ikut dan mendampingi seseorang atau suatu keluarga, sebagai tempat berbagi suka dan duka serta dimintai saran-saran jika diperlukan. la adalah anak hasil pujaan Semar atau Ki Lurah Badranaya.

Menurut cerita dalam pewayangan, Bagong diciptakan dari bayangan Semar. Di hari-hari pertama Sang Hyang Ismaya turun ke dunia sebagai Semar untuk bertugas sebagai pamong golongan manusia yang berbudi baik, ia merasa kesepian. Karena itu ia mohion pada ayahnya, yaitu Hyang Tunggal, agar diberi teman. Sebagai teman setia Semar, adalah bayangannya, yang oleh Sang Hyang Tunggal kemudian diubah ujud menjadi Bagong. Itulah sebabnya bentuk dan wajah Bagong amat mirip dengan Semar. Seperti Semar, perut Bagong juga buncit, hidungnya pesek, pantatnya besar.

Bagong mempunyai sifat dan pembawaan yang kekanak-kanakan. Lucu, jarang bicara, tapi sekali bicara membuat orang tertawa. Dalam pewayangan, Bagong merupakan pengeritik tajam clan nylekit bagi tokoh wayang lain yang bertindak tidak benar. Biasanya, sebelum mulai berbicara, Bagong lebih dahulu mengucapkan kalimat pendahuluan yang khas sebagai berikut: "Gembor menentor bocor... " Baru setelah itu ia mengucapkan kalimat yang hendak disampaikannya. Dalam pedalangan Wayang Purwa, beberapa puluh tahun yang lalu tokoh Bagong hanya dikenal di beberapa daerah, terutama di Yogyakarta ke barat dan di daerah Banyumas, dan beberapa tempat di Jawa Timur. Namun kini tokoh Bagong juga dimainkan di daerah-daerah lain, bahkan juga dalam pedalangan di Jawa Barat. Pada Wayang Golek Sunda, tokoh Bagong sering dipersamakan dengan Cepot atau Astrajingga. Namun, beda dengan pada kebanyakan Wayang Kulit Purwa, di Wayang Golek Purwa Sunda, Cepot Astrajingga dianggap sebagai anak Semar yang tertua.

Tokoh Wayang Bagong mulai diciptakan pada zaman pemerintahan Sunan Amangkurat II, raja Mataram (1677 - 1703). Dengan candra sengkala "Mantri Sirna Sangoyag Jagad", dapat diperhitungkan Bagong tercipta pada tahun 1603 Jawa, atau 1679 Masehi. Namun siapa seniman penciptanya, tidak diketahui.
Walaupun Bagong sebenarnya merupakan anak pertama Semar, dalam pewayangan ia sering dianggap sebagai anak bungsu. Salah kaprah ini terutama disebabkan karena sifat Bagong yang kekanak-kanakan itu. Biasanya, dalam pedalangan Wayang Kulit Purwa atau di panggung Wayang Orang, Bagong berbicara dengan logat Jawa Banyumasan. Itulah antara lain, mengapa di daerah Banyumas tokoh Bagong amat digemari.
Khusus pada pewayangan di Jawa Timur ada tokoh yang disebut Hyang Katinja alias Besot, atau Besep, atau Bestil, atau Besil. Tokoh wayang ini berasal dari tinja Semar yang terinjak Bagong.

Dalam Wayang Menak, ada tokoh panakawan yang hampir serupa bentuknya dengan Bagong. Tokoh ini disebut Jiweng. Bagong beristri cantik, bernama Dewi Bagnawati, putri Prabu Balya dari Kerajaan Pucangsewu. Dalam lakon carangan "Semar Minta Bagus" atau "Semar Gugat", Bagong diajak Semar ke kahyangan dan diubah bentuknya menjadi ksatria tampan. Bagong diberi nama baru Bambang Lengkara, sedangkan Semar yang telah berganti rupa menjadi ksatria perkasa, menamakan dirinya Bambang Dewalelana. Dalam lakon ini, selain berubah menjadi tampan, Bagong juga memiliki kesaktian yang seimbang dengan para dewa.

Dalam seni kriya Wayang Kulit Purwa, tokoh Wayang Bagong dilukiskan dalam beberapa wanda. Di antara wanda Bagong adalah: Wanda Gembor dengan bibir lebih lebar  dan terbuka. Dibandingkan dengan wanda lainnya, Bagong wanda Gembor merupakan wanda yang paling tua dan paling besar ukurannya. Hampir sebesar Semar. Sikap tubuhnya agak membungkuk dan kepalanya agak menunduk. Wanda Gilut, yakni yang bibir bawahnya lebih tebal. Tubuh Bagong wanda Gilut agak pendek, tetapi kepalanya mendongak dan dadanya membusung. Ciri lainnya, Bagong pada wanda Gilut ini mengenakan keris berwarangka sandang walikat. Wanda Ngengkel, sikap tubuhnya lebih tegak dan kepalanya agak mendongak. Yang terakhir, disebut Wanda Blungkang, yang gundul rambutnya, dan bibir bawahnya panjang.
      Pada tahun 1987 Ir. Haryono Haryoguritno, seorang pakar seni kriya Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta, menciptakan wanda baru bagi Bagong, yakni Bagong wanda Blo'on. Wanda baru itu diciptakan sebagai pasemon terhadap keadaan zaman, saat generasi muda yang kurang peduli pada keadaan di sekitarnya.




      BAGONG, Wayang Kyai Inten gagrak Yogyakarta


      BAGONG wanda bloon, Wayang Kulit Purwa gagrak Yogyakarta



       BAGONG, Wayang Kulit Purwa kreasi Sigit Sukasman Yogyakarta




       BAGONG sewaktu menjadi raja, Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta




       BAGONG dalam ujud seorang wanita, Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta



       BAGONG, Wayang Kulit Purwa gagrak Jawa Timur



       BAGONG, Wayang Kulit Purwa gagrak Yogyakarta


       
      BAGONG wanda ngeyel atau ngengkel




       BAGONG wanda gembor


      BAGONG, gambar grafis Wayang Kulit Purwa gagrak Cirebon 



      BAWOR, sebutan Bagong pada Wayang Kulit Purwa gagrak Banyumas
      gambar grafis Wayang Kulit Purwa



      BAGONG, pada penampilan di panggung Wayang Orang


      BAGONG saat menjadi ratu, gambar grafis Wayang Kulit Purwa
      gagrak Surakarta


       BAGONG salah satu panakawan, dalam gambar grafis bergaya buku komik wayang, 
      berdasarkan penampilan pada panggung Wayang Orang.
      {[['']]}

      Bagaspati, Begawan

      BAGASPATI, BEGAWAN, walaupun berujud raksasa buruk rupa, namun ia berhati mulia dan sakti. Bagaspati mempunyai seorang istri bidadari bernama Dewi Darmastuti. Meskipun ia sendiri raksasa, Bagaspati mempunyai anak seorang putri cantik yang diberi nama Pujawati. Setelah dewasa anaknya ini menikah dengan Narasoma, putra mahkota Kerajaan Mandaraka.

      Begawan Bagaspati adalah putra Batara Nagapasa. la mempunyai seorang abang, juga berujud raksasa, bernama Bagaswara, yang juga hidup sebagai pertapa. Pertapaan Bagaspati bernama Arga Belah. Dalam pewayangan, Bagaspati disebutkan sebagai satu di antara tiga makhluk berdarah putih yang pernah hidup di dunia ini. Makhluk berdarah putih lainnya adalah Resi Subali, berujud kera, yang akhirnya mati terbunuh oleh panah Prabu Ramawijaya. Yang satu lagi adalah Puntadewa, dari keluarga Pandawa, berujud manusia, putra sulung Prabu Pandu Dewanata. Sejak kecil, walaupun ujudnya raksasa, Bagaspati terlatih bertapa dan mencari ilmu. Itulah sebabnya ia tumbuh menjadi raksasa yang amat sakti. Suatu saat Bagaspati berhasil menolong para dewa dengan mengalahkan pasukan gandarwa yang menyerbu kahyangan. Karena jasanya itu Batara Guru berkenan memberinya hadiah. Bagaspati disuruh memilih salah satu bidadari yang ada di kahyangan untuk dijadikan istrinya. Namun dalam kesempatan ini Bagaspati membuat kesalahan besar.

      Ia justru memilih Dewi Laksmi, istri Batara Guru sendiri (setelah istri Batara Guru, Dewi Uma, menjadi Batari Durga). Tentu saja pilihannya itu membuat murka Batara Guru. Maka terucaplah kutukan Raja Dewa itu, bahwa kelak Bagaspati akan dibunuh oleh menantunya sendiri. Begawan Bagaspati sadar akan kelancangannya, lalu memohon ampun. Namun kutukan telah terjadi, tidak mungkin diralat lagi. Dan, karena para dewa telah berjanji memberinya hadiah, Bagaspati kemudian diberi Dewi Darmastuti, salah seorang putri Batara Ismaya (Semar) sebagai istrinya. Namun pemberian itu disertai syarat, setelah bidadari itu melahirkan anak, ia harus kembali ke kahyangan. Dengan penuh sesal Bagaspati turun kembali ke dunia. Adanya Dewi Darmastuti, bidadari cantik yang mendampinginya sejak ia pulang dari kahyangan, tidak mampu mengurangi rasa sesal akan kekeliruannya berbuat lancang terhadap Batara Guru. Sementara Batara Guru sendiri, masih tetap merasa dendam terhadap penghinaan Begawan Bagaspati. Bagaimana mungkin seorang raksasa berani merendahkan martabatnya di hadapan para dewa lainnya dengan memilih Dewi Laksmi sebagai istri yang diidamkannya.

      Dendam Batara Guru kepada Begawan Bagaspati rupanya cukup mendalam. Belum puas dengan kutukannya, beberapa waktu kemudian Batara Guru menciptakan seekor makhluk ganas dari selongsong kulit Batara Antaboga. (Setiap seribu tahun sekali Batara Antaboga, dewa yang berujud naga, m1ungsungi: berganti kulit). Disuruhnya makhluk ganas yang diberi nama Candrabirawa itu menyerang Begawan Bagaspati. Tetapi ternyata makhluk ganas serupa naga itu tidak sanggup melawan Bagaspati yang berdarah putih. Setiap kali Candrabirawa menyerang, jika dilawan, tubuh makhluk itu terbelah dua. Demikian seterusnya, sehingga jumlahnya ribuan. Tetapi Bagaspati tidak melawan. Sehingga akhirnya, Candrabirawa menyerah, kemudian mohon agar dibolehkan mengabdi pada Bagaspati. Dan, sejak itu pula kesaktian Bagaspati bertambah.

      Istri Begawan Bagaspati, seperti yang telah dipesankan oleh para dewa sebelumnya, segera kembali ke kahyangan sesudah melahirkan seorang putri cantik yang diberi nama Dewi Pujawati. Meskipun ujudnya raksasa, Begawan Bagaspati ternyata dapat menjadi ayah yang baik. Ia memelihara dan mendidik Pujawati sehingga menjadi gadis yang tinggi sopan santunnya dan berhati mulia.

      Pada suatu hari, Dewi Pujawati menghadap ayahnya dan menceritakan tentang mimpinya. Dalam mimpi itu Pujawati bertemu dengan seorang ksatria yang tampan dan perkasa, bernama Raden Narasoma. Ia mohon pada ayahnya agar mencari ksatria tampan yang muncul dalam mimpi itu. Sang ayah yang bijaksana itu segera tabu bahwa putrinya jatuh cinta. Berarti, Pujawati sudah ingin kawin. Berarti pula ia akan segera mempunyai menantu. Raksasa berhati mulia itu segera teringat akan kutukan Batara Guru. Walaupun demikian, demi kebahagiaan anak tunggalnya Begawan Bagaspati tidak lagi mempedulikan soal kutukan itu. Yang penting baginya, Pujawati dapat hidup bahagia kawin dengan prig pujaannya. Karena itu ia pun segera berangkat mencari ksatria yang diimpikan putrinya.

      Narasoma mudah ditemukan, tetapi tidak mudah membawanya ke Pertapaan Arga Belah. Apalagi ketika Narasoma mendengar alasan Begawan Bagaspati bahwa ajakan itu dimaksudkan hendak memperkenalkannya dengan putrinya. Dalam pikiran Narasoma, seorang raksasa yang buruk rupanya, tentu begitu pula rupa anaknya. Karena itu, serta merta Narasoma menolak ajakan Bagaspati. Maka terpaksalah Bagaspati membawa ksatria itu dengan cara paksa. Sesampainya di Pertapaan Arga Belah, ternyata Narasoma kagum bukan main melihat kecantikan dan perilaku Dewi Pujawati. Kali ini tanpa disuruh ia segera jatuh cinta pada putri pertapa yang berujud raksasa itu. Mereka pun kawin.

      Begawan Bagaspati sadar, ia tidak akan lama menyaksikan kebahagiaan putrinya itu. Bagaimana pun, kutukan Batara Guru tentu akan segera terlaksana. Dan, benarlah. Suatu hari Narasoma datang menghadap mertuanya. Dengan kata-kata kiasan dan bahasa perlambang Narasoma mengatakan dengan jujur bahwa sebenarnya ia merasa malu mempunyai mertua berujud raksasa. Apalagi ia adalah putra mahkota Kerajaan Mandaraka. Mendengar hal itu Begawan Bagaspati yang arif segera menjawab bahwa ia ikhlas meninggalkan dunia ini, asal saja putrinya dapat hidup bahagia. la hanya bertanya apakah Narasoma mencintai Pujawati dengan segenap hati. Setelah Narasoma mengiyakan, Bagaspati mengajaknya masuk ke dalam sanggar pamujan. *)

      Raksasa pertapa itu lalu mewariskan berbagai ilmunya, termasuk Aji Candrabirawa. Bagaspati juga memberi weiangan, karena rasa sayangnya pada Narasoma maka ia akan memilihkan lawan yang istimewa kelak dalam Baratayuda. Lawan Narasoma kelak adalah Prabu Puntadewa, yang juga berdarah putih seperti dirinya.

      "Dengan ilmu yang engkau miliki, khususnya Aji Candrabirawa, engkau tidak akan terkalahkan oleh siapa pun. Dalam Baratayuda kelak, engkau akan gugur secara terhormat melawan Prabu Yudistira alias Puntadewa, manusia berdarah putih yang terkenal akan kejujurannya." Begawan Bagaspati juga berpesan agar sesudah ia meninggal nanti, nama Pujawati diubah menjadi Setiawati. Selain itu Begawan Bagaspati juga berpesan agar bilamana raja Mandaraka, Prabu Mandrapati (ayah Narasoma) menanyakan asal usul Pujawati alias Setiawati, Narasoma agar menjawab bahwa istrinya itu putri titian, pemberian dewa. **)

      "Jangan mengatakan bahwa Pujawati adalah anakku, seorang pendeta buruk rupa, lagi pula berujud raksasa ......", katanya. Setelah pesan dan wejangannya rampung, Begawan Bagaspati menyuruh Narasoma menusukkan kerisnya ke dadanya. Pendeta raksasa tapi mulia itu pun tewas. Ada versi lain yang menyebutkan bahwa sebelum berujud raksasa sebenamya, pada mulanya, Bagaspati adalah ksatria yang elok rupanya. Waktu itu ia bernama Angganaputra, dan mempunyai dua abang, yakni Angganapati dan Angganamurti. Suatu saat para dewa minta bantuan ketiga ksatria itu untuk membasmi musuh yang menyerbu kahyangan. Ternyata yang berhasil adalah Angganaputra. Karenanya, Batara Guru lalu membolehkan Angganaputra memilih salah satu bidadari untuk menjadi istrinya.

      Angganaputra memilih Dewi Uma, sehingga Batara Guru marah dan mengutuknya menjadi raksasa. Angganamurti protes dan membela adiknya serta mengatakan bahwa Batara Guru ingkar janji. Karena dianggap cerewet Angganamurti pun dikutuk menjadi seekor burung. Sedangkan Angganapati, yang tidak protes dijadikan raja di Mandraka, bergelar Prabu Mandrapati.Dengan demikian menurut versi ini, Begawan Bagaspati sesungguhnya adalah adik Prabu Mandrapati, sekaligus paman Narasoma.

      *) Sebagian dalang membuat sanggit lain mengenai kematian Begawan Bagaspati ini.
      Menurut versi ini, setelah melihat kerukunan dan cinta kasih Pujawati-Narasoma, Begawan Bagaspati merasa puss. Namun ia merasa, kesempurnaan cinta-kasih anak dan menantunya itu akan dapat terganggu oleh kehadirannya, karena ujudnya yang raksasa buruk itu. la merasa, demi kelestarian kebahagiaan anaknya, ia harus mati. Lagi pula ia sudah merasa sangat rindu pada istrinya, Dewi Darmastuti yang telah mendahuluinya kembali ke kahyangan. Dengan dua pertimbangan itulah, pertapa berujud raksasa itu kemudian meminta dengan sangat pada menantunya agar dibukakan pintu kedalam kematian. Setelah mewariskan seluruh ilmunya, termasuk Aji Candrabirawa, Narasoma disuruh menggoreskan sadak, gulungan daun sirih ke dadanya, yang menyebabkannya tewas seketika. Jadi, menurut versi ini, Begawan Bagaspati mati karena kehendaknya sendiri. Narasoma hanya menuruti keinginan mertuanya.

      **) Narasoma memang cinta dan setia pada Dewi Pujawati atau Setiawati. Sampai akhir hayatnya ia tidak pernah mengambil wanita lain sebagai istrinya. Dan begitu pula Dewi Setiawati. Putri Begawan Bagaspati itu bunuh diri setelah mengetahui bahwa suaminya gugur dalam Baratayuda.



      BEGAWAN BAGASPATI, Wayang Kulit Purwa gagrak Yogyakarta


      BEGAWAN BAGASPATI, gambar grafis Wayang Kulit Purwa
      gagrak Surakarta
      {[['']]}

      Aswatama, Bambang.

      ASWATAMA, BAMBANG, sering disebut tanpa nama awal Bambang, adalah anak Begawan Drona. Kadang kala ia juga disebut Haswasutautama. Dalam pewayangan ada dua versi mengenai siapa ibunya. Versi pertama menyebutkan ibu Aswatama adalah Dewi Wilutama, sedangkan versi kedua adalah Dewi Krepi — adik Resi Krepa. Dalang yang menganggap Aswatama anak Dewi Wilutama menyebut anak Drona itu berkaki kuda, sedang suara tawanya menyerupai ringkikan kuda. Walaupun ayahnya adalah seorang guru besar dalam ilmu ketrampilan keprajuritan dan siasat perang, Aswatama bukan seorang yang terlalu menonjol kesaktiannya dalam pewayangan. Ia bahkan cenderung dilukiskan sebagai tokoh yang banyak akal, tetapi kurang berjiwa ksatria, dan lebih suka memukul dari belakang. Ia pun digambarkan sebagai tokoh yang karena dendam, bersedia menghalalkan berbagai cara untuk mencapai tujuannya.

      Aswatama termasuk tokoh Kurawa yang lolos dari kematian pada perang besar antara keluarga Pandawa dan Kurawa yang disebut Baratayuda. Tiga hari menjelang usainya Baratayuda anak Begawan Drona itu terlibat pertengkaran dengan Prabu Salya di hadapan Prabu Anom Duryudana. Karena merasa sungkan pada mertuanya, Duryudana memihak Prabu Salya sehingga Aswatama sakit hari dan pergi meninggalkan medan perang. Pangkal perselisihan Aswatama dengan Prabu Salya adalah karena menurut pendapat Aswatama kekalahan Kurawa disebabkan karena kelicikan Prabu Kresna sebagai ahli siasat di pihak Pandawa. Lagi pula, Aswatama berterus terang menilai beberapa senapati Kurawa, misalnya Prabu Salya, Resi Bisma, dan Adipati Karna tidak berperang secara sungguh-sungguh. Penilaian Aswatama itu membuat Prabu Salya berang. Raja Mandaraka itu mendamprat Aswatama di dalam persidangan.

      Terbunuhnya Begawan Drona, ayahnya, juga membuat Aswatama dendam. Karena itu, begitu perang usai, ia mengajak Kartamarma dan Resi Krepa untuk menyelundup masuk ke perkemahan para Pandawa di tepi Padang Kurusetra. Tujuannya jelas, membalas dendam dengan cara licik, karena merasa tidak mampu bilamana terang-terangan. Waktu itu para Pandawa belum masuk ke Istana Astina, masih berada di perkemahan. Aswatama berniat hendak membunuh para Pandawa yang ketika itu, menurut perhitungannya sedang lengah. Resi Krepa menolak ajakan ini. Sesuai dengan rencana, suatu malam Aswatama berhasil menyusup ke perkemahan para Pandawa. Mula-mula ia masuk ke kemah keputren, yakni ruangan untuk para istri Pandawa. Di tempat ini Aswatama berhasil membunuh Dewi Srikandi dan Banowati. Kemudian ia pindah ke kemah lain dan melampiaskan dendamnya dengan membunuh Drestajumena, dan Pancawala (putra Dewi Drupadi dan Puntadewa). Waktu Aswatama akan membunuh Parikesit yang waktu itu masih bayi, anak Abimanyu itu tiba-tiba terbangun, menangis dan kakinya menendang-nendang. Pasopati, anak panah pusaka Arjuna yang ditaruh di ranjang bayi, tertendang dan mental, kebetulan mengenai leher Aswatama. Anak Drona itu pun tewas seketika.

      Kisah kematian Aswatama di atas adalah versi pedalangan di Indonesia.
      Sementara versi lainnya. yaitu yang bersumber Kitab Mahabarata, menyebutkan, setelah berhasil membunuh Dewi Subadra. dan Dewi Srikandi, Aswatama dan Kartamarma lalu melarikan diri ke hutan. Beberapa waktu kemudian, ketika mendengar berita bahwa Dewi Banowati kawin dengan Arjuna, Aswatama menyusup ke Keraton Astina. la membunuh Banowati yang dianggapnya berkhianat. la juga mencoba membakar Keraton Astina, baru setelah itu melarikan diri ke hutan. Dengan penuh kemarahan Bima dan Arjuna segera mengejar Aswatama. Bima memporakporandakan hutan itu, sehingga Aswatama terpaksa keluar dari persembunyiannya. Sementara itu, Arjuna yang sejak dulu membenci anak Drona itu telah menghadangnya. Aswatama akhimya mati oleh panah Arjuna.

      Menurut Sauptika Parwa, kematian Aswatama lain lagi. Dikatakan bahwa sehari sesudah Baratayuda selesai, Aswatama memasuki kemah (pasanggrahan) Pancala (dalam pewayangan disebut Cempalaradya). Drestajumena yang sedang tidur dibunuhnya sebagai pelampiasan dendamnya. Setelah itu Aswatama melarikan diri ke hutan clan bersembunyi selama beberapa waktu. Sesudah keadaan dianggapnya aman, ia pergi ke Pertapaan Sata Arga untuk minta perlindungan pada Maharesi Wyasa (Begawan Abiyasa). Arjuna berhasil menemukan persembunyian Aswatama di tempat kakeknya itu. Namun sewaktu Arjuna hendak membunuhnya, Resi Wyasa dan Prabu Kresna menghalang-halanginya. Atas saran Resi Wyasa, Aswatama menyerahkan semua senjata pusaka yang dimilikinya, dan kemudian mengundurkan diri dari dunia ramai untuk hidup sebagai pertapa.

      Versi yang lain lagi menyebutkan, waktu Arjuna berhadapan dengan Aswatama, anak Resi Drona itu mencoba melawan dengan menggunakan panah pusaka Cundamanik yang diwarisinya dari Begawan Drona. Tetapi Arjuna segera pula melepaskan anak panah pusaka miliknya: Pasopati. Kedua pusaka yang berasal dari kahyangan itu beradu dan menimbulkan goncangan alam, serta membuat para dewa di kahyangan geger. Batara Guru segera mengutus Batara Narada untuk mengatasi pertempuran kedua panah sakti itu. Batara Narada yang melerai pertempuran itu kemudian memutuskan, panah Cundamanik harus disita dan diberikan kepada Arjuna. Sedangkan Arjuna harus membiarkan Astawatama pergi, karena menurut suratan para dewa, anak Drona itu belum waktunya mati. Kesempatan itu digunakan Aswatama lalu pergi ke hutan dan hidup sebagai pertapa.

      Di antara sifat-sifat buruk yang dimiliki Aswatama, terselip juga sifat baiknya.
      Dalam lakon Palguna-Palgunadi Aswatama berhasil menyelamatkan Dewi Anggraini dengan mencegah Arjuna yang hendak berbuat nista terhadap istri Prabu Palgunadi itu. Sejak saat itulah penilaian baik Aswatama terhadap Arjuna hilang. Dan, sejak saat itu pula Arjuna membenci Aswatama. Bagi Aswatama, kebenciannya terhadap Arjuna sudah dimulai sejak remaja. Waktu Begawan Drona menjadi mahaguru di Astina, Aswatama juga ikut serta diajar berbagai macam kemahiran. Mula-mula Drona memberikan perhatian besar pada anaknya ini. Namun kemudian, Arjuna ternyata lebih mahir dan cepat menerima ilmu yang diajarkan, sehingga kasih sayang Drona beralih ke ksatria ini. Hal itu menyebabkan Aswatama cemburu dan mulai membenci Arjuna.

      Mengenai penyusupan Aswatama ke perkemahan Pandawa dan membunuh beberapa orang yang sedang tidur, penggemar wayang mempunyai dua penilaian yang berbeda. Ada yang menganggap perbuatan Aswatama itu licik, tidak ksatria, dan pantas dikutuk. Sebagian yang lain berpendapat bawa perbuatan Aswatama itu, walaupun keji dan meninggalkan sifat ksatria, tetapi sah dalam peperangan. Perbuatan itu mirip dengan perang gerilya.

      Dalam pewayangan Aswatama tinggal di Kasatrian Tirtatinalang. Ia memiliki beberapa nama alias, di antaranya, Dronaputra, Dronasuta, karena ia anak Drona. Ia juga disebut Dwijasuta, Dwijatanaya, Wipratanaya, atau Guruputra, karena ia anak seorang mahaguru. Dalam Kitab Mahabarata, nama Aswatama dituliskan Acwakktaman. Nama itu artinya adalah 'kuda dengan banyak kepandaian'. Dalam kitab itu, Aswatama juga dilukiskan sebagai tokoh ahli weda, yaitu aturan pergaulan dan etika agama.
      Dalam seni kriya Wayang Kulit Purwa, selain digambarkan sebagai manusia biasa, ada seniman wayang yang menggambarkan Aswatama dengan kaki kuda. Hal ini diilhami riwayat kelahiran Aswatama dari ibu seekor kuda betina penjelmaan Dewi Wilutama.

      Lakon-lakon yang melibatkan Aswatama:

      • Aswatama Lahir
      • Palguna-Palgunadi
      • Salya Gugur
      • Aswatama Nglandak
       
       
       BAMBANG ASWATAMA, gambar grafis Wayang Kulit Purwa 
      gagrak Surakarta.
        ASWATAMA, gambar grafis Wayang Kulit Purwa 
      gagrak Yogyakarta.
       
       
       ASWATAMA, gambar grafis Wayang Kulit Purwa Bali. 
       

       ASWATAMA, Wayang Kulit Purwa Sunda.
       
      {[['']]}

      Arjuna Sasrabahu, Prabu

      ARJUNA SASRABAHU, PRABU, raja Maespati, yang di masa mudanya bernama Arjunawijaya, dalam pewayangan adalah titisan Batara Wisnu. la adalah putra Prabu Kartawirya alias Sasrawirya. Istrinya yang pertama bernama Dewi Citralangeni dari Kerajaan Tunjungpura. Yang kedua bernama Dewi Srinadi, putri Begawan Jumanten dari Pertapaan Giriretna. Selain itu ia masih mempunyai ratusan istri yang lain. Sebagai permaisurinya, diangkat Dewi Citrawati dari negeri Magada. Citrawati merupakan titisan Dewi Sri. Mengenai istri-istri Arjuna Sasrabahu, banyak dalang yang menyebutkan jumlahnya `seribu kurang satu'.

      Arjuna Sasrabahu mempunyai seorang patih yang tampan dan sakti bernama Patih Suwanda atau Bambang Sumantri. Nama Arjuna Sasrabahu waktu muda, sebelum menjadi raja, adalah Arjunawijaya. Nama lainnya lagi adalah Wingsatibahu, yang artinya berbahu seribu. Nama ini sebagai julukan atas kekaguman orang akan kekuatan dan kesaktian Arjuna Sasrabahu.

      Patih Suwanda, yang semula meragukan kesaktian Prabu Arjuna Sasrabahu, pernah mencoba menantangnya. Tantangan ini membuat raja Maespati itu murka dan melakukan triwikrama, mengubah ujud dirinya menjadi raksasa amat besar dan bengis. Menyadari bahwa rajanya bukanlah tandingannya, Patih Suwanda langsung bertekuk lutut dan mohon ampun. Prabu Arjuna Sasrabahu berkenan mengampuninya, namun Patih Suwanda dipecat dari jabatannya. Patih Suwanda pun diturunkan pangkatnya menjadi prajurit biasa, dan namanya kembali menjadi Bambang Sumantri.

      Sang permaisuri, Dewi Citrawati, ternyata adalah wanita yang banyak permintaannya. Raja Maespati itu sempat dibuat bingung waktu Citrawati minta agar suaminya memindahkan Taman Sriwedari dari Kahyangan Untarasegara ke Maespati dalam keadaan utuh. Untuk memenuhi permintaan istrinya, Arjuna Sasrabahu menawarkan tugas pemindahan taman itu pada Bambang Sumantri. Jika berhasil, Bambang Sumantri akan diangkat kembali menjadi patihnya.
      Untunglah Bambang Sumantri dibantu oleh adiknya yang sakti, Sukasrana. Taman Sriwedari berhasil dipindahkan ke Maespati dalam keadaan utuh dan lengkap. Dengan demikian jabatan Patih Maespati kembali diserahkan pada Bambang Sumantri.

      Pada suatu saat, Dewi Citrawati menyatakan keinginannya pada suaminya, berenang-renang di Sungai Gangga. Untuk memenuhi keinginan istrinya, Prabu Arjunasasrabahu lalu triwikrama lagi, menjelma menjadi raksasa maha besar. Dengan tubuh yang amat besar itu merebahkan dirinya melintang di sungai, seolah menjadi bendungan. Dengan cara itu maka air sungai itu pun meluap dan nyaman untuk berenang. Tetapi luapan air sungai itu kemudian meluas sampai ke padang kemah tentara Alengka yang saat itu sedang dipersiapkan menyerbu Kerajaan Maespati. Prabu Dasamuka yang memimpin sendiri pasukan raksasa dari Alengka menjadi marah. la mengutus anak buahnya untuk menyelidiki penyebab banjir itu. Setelah mendapat laporan mengenai apa yang terjadi, Prabu Dasamuka segera mendatangi Prabu Arjuna Sasrabahu. Tetapi sebelum Dasamuka berhadapan dengan raja Maespati itu, Patih Suwanda datang menghadang. Terjadilah perang tanding di antara keduanya, dan Patih Suwanda gugur.

      Mendengar tewasnya Patih Suwanda, Prabu Arjuna Sasrabahu segera tampil menghadapi Prabu Dasamuka. Namun Dasamuka yang memiliki Aji Pancasona ternyata tak dapat mati. Begitu tewas, dan badannya menghempas ke bumi, langsung ia bangkit dan hidup kembali. Demikian berkali-kali terjadi. Walaupun tidak berhasil membunuh Dasamuka, Prabu Arjuna Sasrabahu yang triwikrama akhirnya dapat meringkus Dasamuka. Dengan menggunakan anak panah pusaka Kalamanggaseta, raja Alengka itu dirantai, dibawa ke Kerajaan Maespati. Sepanjang perjalanan ke Maespati, Dasamuka diseret kereta kerajaan, dan dijadikan tontonan rakyat.

      Resi Pulasta, kakek Dasamuka turun dari kahyangan menghadap Prabu Arjuna Sasrabahu, memohonkan ampun bagi Dasamuka. Arjuna Sasrabahu bersedia mengampuninya dan melepaskan raja Alengka itu dari belenggu Kalamanggaseta, namun Dasamuka harus lebih dulu bersumpah tak akan membuat onar lagi.
      Setelah Patih Suwanda alias Sumantri gugur, Prabu Arjuna Sasrabahu mengangkat Bambang Kartanadi sebagai patihnya, dan namanya diganti menjadi Patih Surata.

      Sebagai raja, Arjuna Sasrabahu tergolong kurang bijaksana. Apalagi setelah Patih Suwanda gugur, ia sering bertindak tanpa pertimbangan yang bijaksana. Suatu saat ketika sedang berkelana bersama para putra dan pengawalnya, raja Maespati itu membunuh Begawan Jamadagni hanya karena suatu persoalan yang sepele. Waktu itu Maharesi Jamadagni menuntut keadilan, karena ternak peliharaanya dibunuh para prajurit pengawal Arjunasasrabahu.

      Raja Maespati itu bukan menunjukkan sikap adil, tetapi malahan merasa tersinggung dan menyuruh para pengawalnya membunuh pertapa itu. Karena kejadian ini Batara Wisnu merasa enggan menitis pada Prabu Arjuna Sasrabahu. Raja Maespati itu tidak lagi dianggap pantas menjadi titisan Wisnu. Dewa itu lalu oncat meninggalkan raga raja Maespati itu, kembali ke kahyangan. Rama Parasu, anak bungsu Begawan Jamadagni, sesudah mengetahui kejadian itu segera menyusul Arjuna Sasrabahu. Pertapa muda itu berniat hendak menghukum raja yang telah membunuh ayahnya. Mereka lalu berperang tanding, dan Arjuna Sasrabahu mati. Kemampuan Prabu Arjuna Sasrabahu untuk melakukan triwikrama punah, karena Batara Wisnu sudah tidak lagi menitis dalam tubuh raja Maespati itu. Para senapati Maespati yang tidak dapat menerima kematian rajanya, mencoba membunuh Rama Parasu. Namun pertapa muda yang sakti itu bukan tandingan mereka. Semua senapati Maespati mati, dinasti Arjuna Sasrabahu punah, dan Kerajaan Maespati yang besar itupun akhirnya runtuh.

      Walaupun dalam pewayangan pada umumnya Arjuna Sasrabahu dianggap sebagai salah seorang titisan Batara Wisnu tetapi cukup banyak buku pewayangan dan kepustakaan India yang tidak menggolongkan raja Mahespati itu sebagai salah satu awatara atau titisan Dewa Wisnu. Pada seni kriya Wayang Kulit Purwa gagrak Yogyakarta, tokoh Arjuna Sasrabahu dilukiskan dalam empat wanda, yakni Sedet, Padasih, Kanyut dan Panuksma. Bentuk peraga wayang Arjuna Sasrabahu gagrak Jawatimuran berbeda jauh dengan gagrak Surakarta, Yogyakarta, Banyumas, dan daerah lain lagi. Di daerah itu Arjuna Sasrabahu dirupakan dalam bentuk wayang gagahan, bermahkota tetapi memakai gelung sapit urang dan sebagian rambut terurai sampai ke bahu. Kedua tangannya dipenuhi oleh ornamen yang menggambarkan 'bahu seribu'. Selain itu, Arjuna Sasrabahu mengenakan kain poleng, mirip dengan yang dikenakan peraga wayang Bima.

      Lakon-lakon yang Melibatkan Arjuna Sasrabahu:
      • Sumantri Ngenger
      • Arjuna Sasrabahu Tambak
      • Arjuna Sasrabahu Lena
      • Sumantri Lena


      ARJUNA SASRABAHU dalam keadaan tiwikrama,
      Wayang Kulit Purwa gagrak Jawatimuran.
      Perhatikan kedua tangannya yang 'ditumbuhi' oleh 'ratusan' tangan lainnya.


       ARJUNA SASRABAHU, Wayang Kulit Purwa gagrak Jawatimuran, 
      dalam keadaan tidak sedang melakukan tiwikrama. 


      ARJUNA SASRABAHU, Wayang Kulit Purwa gagrak Yogyakarta.


      PRABU ARJUNA SASRABAHU, gambar grafis Wayang Kulit Purwa 
      gagrak Surakarta.





      ARJUNA SASRABAHU, SERAT

      Karya tulis Raden Ngabehi Sindusastra terdiri atas 6 jilid. Isi naskah itu mengambil dasar cerita dari Serat Kanda, yang sudah membaurkan cerita wayang dari Mahabarata dengan unsur-unsur keislaman. Kitab ini ditulis dalam bentuk tembang macapat, dan kadang-kadang disebut juga Kitab Lokapala atau Kitab Arjunawijaya. Serat Arjunasasrabahu ditulis pada tahun 1757 (Jawa) atau 1830 Masehi. Oleh Palmer van den Broek, kitab karya R. Ng. Sindusastra ini dimuat dalam Verhandelingen van het Bataviaasche Genootschap No. 34 Th 1870, dan dicetak ulang pada tahun 1872, 1883, dan 1886 oleh Van Dorp, Semarang. Selanjutnya Balai Pustaka Jakarta juga menerbitkan kembali buku ini pada tahun 1932.

      Isi ringkas Serat Arjunasastrabahu adalah:

      Perjalanan Resi Wisrawa dari Lokapala ke Alengka untuk melamar Dewi Sukesi bagi anaknya, Wisrawana atau Danaraja. Setelah menguraikan Sastra Jendra Hayuningrat, Dewi Sukesi dinikahi sendiri oleh Resi Wisrawa. Danaraja marah lalu membawa bala tentara ke Alengka, tetapi dapat dilerai. Selanjutnya, dari Dewi Sukesi, Resi Wisrawa mendapat anak Rahwana, Kumbakarta, Sarpakenaka dan Wibisana. Buku itu juga memuat riwayat Subali, Sugriwa, dan Anjani yang berubah ujud menjadi kera, setelah memperebutkan Cupu Manik Astagina. Selanjutnya diuraikan juga kisah Lembusura, dan Maesasura yang menyerang kahyangan dan dapat dikalahkan Sugriwa dan Subali. Pengabdian Sumantri pada Prabu Arjunasasrabahu dari Kerajaan Maespati, melamar Dewi Citrawati, tentang Sukrasana, perselisihan dengan Prabu Dasamuka juga dimuat dalam buku ini.
      {[['']]}

      Arjuna


      ARJUNA adalah orang ketiga dari Pandawa lima, putra Dewi Kunti. Dalam pewayangan ia sering dijuluki Panengah Pandawa. Kata 'Arjuna' dalam bahasa Sanskerta artinya 'putih' atau 'bening, bersih'. Dalam pewayangan, Arjuna merupakan tokoh populer selain karena kesaktiannya, ketampanannya, juga karena banyak lakon wayang yang melibatkan namanya.

      Sebagai salah seorang dari Pandawa, Arjuna mempunyai dua kakak dan dua orang adik. Abangnya yang sulung adalah Yudistira alias Puntadewa, kelak menjadi raja di Amarta dengan gelar Prabu Darmakusuma. Sesudah itu, abangnya yang kedua, bernama Bima alias Harya Sena, Wijasena, Bratasena, atau Wrekudara. Adik kembar, bernama Pinten dan Tangsen, yang juga dikenal dengan nama Nakula dan Sadewa. Walaupun resminya Arjuna adalah putra raja Astina, namun sesungguhnya ia adalah putra Batara Endra. Hal ini disebabkan Prabu Pandu Dewanata sendiri tidak dapat membuahkan keturunan, karena kekeliruan yang dibuatnya, ia  terkena kutukan Begawan Kindima, seorang brahmana. Kutukan itu menyebutkan, Pandu Dewanata akan mati seketika bilamana ia memadu kasih bersama istrinya. Sejak itulah Pandu tak berani lagi tidur bersama istrinya.

      Karena harus ada keturunan untuk melanjutkan dinasti yang memerintah Astina, Pandu mengizinkan istrinya memanggil dewa yang dikehendakinya guna membuahi Kunti. Kebetulan Kunti memiliki Aji "Adityahredaya" yang dipelajarinya dari Resi Druwasa. Ilmu ini menyebabkannya ia kuasa memanggil dewa yang mana saja. Dan, sebagai bagi ayah Arjuna, Dewi Kunti memanggil Batara Endra. Itulah sebabnya, Arjuna juga bernama Endratanaya atau Endraputra.
      Selain tampan, Arjuna sejak kecil gemar menuntut ilmu. Untuk menambah ilmunya, jika perlu Arjuna berkelana ke negeri lain. Ia merupakan murid yang paling disayangi Begawan Drona. Guru Besar sang bekerja bagi Kerajaan Astina itu bahkan pernah berjanji, tidak akan mengajarkan ilmunya kepada murid lain, selengkap yang diajarkan kepada Arjuna. Putra Kunti ini juga dikenal sebagai ksatria tekun bertapa. Namun sebagai manusia, Arjuna pun memiliki beberapa kekurangan. Ketampanan wajah dan ilmu tinggi yang dimilikinya, beberapa kali disalahgunakan. Kesalahan yang mencolok adalah ketika ia memburu-buru Dewi Anggraini, walaupun ia tahu bahwa wanita itu telah bersuami. Wanita setia itu akhirnya memilih kematian daripada harus melayani hasrat Arjuna. Arjuna akhirnya bahkan membunuh suami Anggraini, Ekalaya, yang setelah tahu perlakuan Arjuna terhadap Dewi Anggraini lalu menantangnya. (Lakon Palguna - Palgunadi atau Bambang Ekalaya).

      Sesudah Baratayuda selesai sifat buruk Arjuna itu masih juga diulanginya lagi. Ia menginginkan Dewi Citrahoyi, padahal wanita itu telah menjadi istri Prabu Arjunapati, raja Sriwedari. Secara sembunyi-sembunyi Arjuna memang berhasil memenuhi hasratnya bercumbu kasih dengan Dewi Citrahoyi melalui jalan serong. Tetapi skandal itu harus ditebus dengan kematiannya. Namun karena kematian Arjuna itu oleh Prabu Kresna dianggap belum waktunya, ksatria tampan itu dihidupkan kembali dengan bantuan bunga pusaka Cangkok Wijayakusuma. Kresna kemudian malahan mengutus patihnya, Udawa, memimpin bala tentara Dwarawati menyerbu Kerajaan Sriwedari. Pada peperangan itu Patih Udawa dan Prabu Arjunapati mati sampyuh, sama-sama gugur. Dengan demikian tiada lagi halangan bagi Arjuna untuk memperistri Dewi Citrahoyi.

      Dalam pewayangan, tokoh Arjuna menggambarkan karakter manusia yang berilmu tinggi tetapi kadang-kadang ragu dan bimbang dalam bertindak. Sifat manusiawi Arjuna makin tampak jelas sewaktu akan turun ke gelanggang pertempuran menghadapi Adipati Karna dalam Baratayuda. Ia tahu, Adipati Karna sesungguhnya juga putra Dewi Kunti, bahkan putra sulung. Ketika itulah ia merasa bahwa perang tak ada manfaatnya dan tidak membawa kebaikan baik bagi dirinya maupun bagi dunia. Arjuna berpendapat bahwa baik kalah maupun menang, yang menjadi korban tetap saudara-saudaranya sendiri dan rakyat kecil yang tidak tahu apa-apa.

      Keraguan Arjuna yang manusiawi itu akhirnya lenyap setelah Arjuna menerima wejangan Prabu Kresna. Sebagai titisan Batara Wisnu, Kresna berhasil memberikan motivasi kuat pada Arjuna, bahwa dalam perang tidak ada kakak dan adik, tidak ada guru dan murid, yang ada adalah lawan dan kawan. Selain itu, setiap manusia pada dasarnya hidup di dunia dengan tugas dan kewajiban masing-masing. Manusia harus melaksanakan tugas dan darmanya dengan sebaik-baiknya, tanpa menghitung untung rugi. Wejangan yang panjang lebar itu kemudian dikenal sebagai Bagawat Gita.

      Di waktu masih remaja, Arjuna pemah ditegur Kunti karena meminta makanan pada orang lain bagi kedua adiknya: Nakula dan Sadewa, atas dasar belas kasihan. Peristiwa ini terjadi ketika keluarga Pandawa dan Kunti berkelana di hutan setelah lolos dari usaha pembunuhan oleh pihak Kurawa di Bale Sigala-gala. Ketika Nakula dan Sadewa, yang ketika itu masih kanak-kanak, menangis kelaparan, Dewi Kunti menyuruh Bima dan Arjuna untuk mencari makanan bagi adik kembarnya. Arjuna kemudian datang lebih dahulu. Waktu hendak memberikan dua bungkus nasi pada adiknya, Kunti lebih dahulu bertanya tentang asal usul nasi itu. Arjuna menceritakan bahwa nasi itu dimintanya dari seorang lurah di Desa Sendang Kendayakan. "Jika nasi itu berasal dari belas kasihan seseorang, makanlah sendiri. Jangan kau berikan pada adikmu."

      Nasi yang dibawa Arjuna itu sebenarnya adalah pemberian Ki Lurah Sagotra, yang menganggap Arjuna berjasa baginya karena telah membuat istrinya yang semula tak acuh menjadi sayang kepadanya. Bahkan, sebagai pernyataan suka citanya, waktu itu Ki Lurah Sagotra bersumpah akan bersedia menjadi tawur atau tumbal perang bagi kemenangan para Pandawa dalam Baratayuda kelak. Tidak lama kemudian Bima datang pula membawa nasi bungkus. Ia menceritakan bahwa nasi itu ia peroleh sebagai imbalan, karena Bima berhasil membunuh Prabu Baka (Prabu Dawaka) yang mempunyai kebiasaan memangsa manusia. Rakyatnya yang berterima kasih padanya minta agar Bima mau menjadi rajanya, namun Bima menolak. Waktu mereka menanyakan imbalan apa yang dapat diberikan, Bima meminta dua bungkus nasi.
      "Berikan nasi itu pada adik-adikmu, karena nasi itu kau peroleh dari hasil cucuran keringatmu."

      Sebagai manusia Arjuna juga memiliki sifat sombong. Waktu masih remaja, dengan angkuh ia menolak mengadu kepandaian dengan Karna, hanya karena waktu itu Arjuna merasa martabatnya lebih tinggi. Arjuna merasa dirinya keturunan bangsawan, karena ia anak Prabu Pandu Dewanata, sedangkan Karna waktu itu hanya dikenal sebagai anak kusir, sais kereta. Baru di kemudian hari, menjelang Baratayuda, setelah Arjuna tabu bahwa sebenamya Karna adalah kakak tertua satu ibu lain ayah, ia dapat tulus menghargai Karna.

      Dalam salah satu lakon wayang Arjuna juga pernah ditegur oleh Semar, panakawannya. Ki Lurah Semar menilai Arjuna terlalu mementingkan diri sendiri dan saudara-saudaranya saja, tetapi kurang memperhatikan kepentingan dan masa depan anak-anak mereka. Teguran itu disampaikan Ki Lurah Semar setelah Arjuna berhasil membunuh Prabu Niwatakawaca, raja raksasa dari Manimantaka yang menjadi musuh para dewa. Ketika itu, sebagai imbalan Arjuna dibolehkan oleh para dewa mengajukan permintaan apa saja. Tanpa berpikir panjang Arjuna minta agar dalam Baratayuda kelak, kelima Pandawa selamat dan menang perang dalam Baratayuda. Permohonan seperti itu dinilai salah besar oleh Semar, karena dalam permohonan itu Arjuna sama sekali tidak memikirkan kepentingan anak-anak dan generasi penerus. Menurut Semar, seharusnya yang pertama-tama dimohonkan selamat, justru adalah anak-cucu Pandawa, dan bukan cuma kelima orang Pandawa saja.

      Kelak, dalam Baratayuda terbukti tidak seorang pun anak Pandawa yang hidup. Mereka mati semua, tidak seorang pun yang selamat. Untunglah, cucu Arjuna, yaitu Parikesit yang lahir menjelang Baratayuda usai, selamat. Begitu pula cucu-cucu Bima. Pada waktu para Pandawa harus bersembunyi dan menyamar selama satu tahun, setelah menyelesaikan masa pembuangan selama 12 tahun, mereka berada di wilayah Kerajaan Wirata. Di negeri ini Arjuna menyamar sebagai banci bernama Kendi Wrahatnala. Ia bekerja sebagai guru tari dan guru kesenian lainnya. Penyamaran mereka waktu itu nyaris terbongkar waktu bala tentara Kurawa bersama sekutunya dari Kerajaan Trigata datang menyerbu Kerajaan Wirata. Sebagai ksatria, para Pandawa tidak dapat berdiam diri melihat serangan itu. Mereka turun gelanggang membantu pihak Wirata. Bima dengan gadanya mengamuk, sedangkan Arjuna yang menjadi sais kereta perang, Seta ikut pula meluncurkan anak panahnya. Gerak-gerik dan cara para Pandawa berperang sebenarnya dikenali Kurawa, namun tak dapat dibuktikan bahwa mereka itulah para Pandawa.

      Istri Arjuna banyak. Ada 41 orang jumlahnya. Nama para istri Arjuna yang cukup terkenal antara lain adalah Subadra, Srikandi, Larasati, Ulupi (Palupi), Lestari, Manoara, Ratri, Gandawati, Banowati, Manikhara, Citrahoyi, Wilutama, Supraba, dan Dresanala. Tiga nama yang disebut terakhir adalah bidadari. Pada Wayang Golek Purwa Sunda, nama istri Arjuna lainnya adalah Puspawati, Srimedang, Manikarya, Suyakti, dan Partawati. Karena begitu banyak istri Arjuna, sampai-sampai Ki Dalang mengatakan, istri Arjuna saketi kurang siji, yang artinya satu juta kurang satu. Jadi ada 999.999 orang.

      Walaupun sudah demikian banyak istrinya, karena ketampanan dan sikapnya yang lemah lembut, Arjuna tetap saja dicintai banyak wanita. Antara lain oleh iparnya sendiri, yaitu Dewi Banowati, istri Duryudana atau Suyudana. Bahkan ketika Banowati menikah dengan penguasa Kerajaan Astina itu, putri cantik itu minta agar Arjunalah yang memandikan dan meriasnya. Dewi Banowati baru terlaksana menjadi istri Arjuna setelah menjadi janda, seusai Baratayuda.

      Dalam kehidupan perkawinan Arjuna, yang dianggap sebagai istri utama atau 'permaisuri' adalah Dewi Wara Subadra, adik Prabu Kresna. Tetapi perkawinan mereka tidak berjalan gampang karena sebenarnya ditentang oleh Prabu Baladewa. Raja Mandura ini ingin agar Dewi Subadra dinikahkan dengan Burisrawa, putra Prabu Salyapati. Kisah perkawinan itu dalam pewayangan diceritakan dalam satu lakon wayang tersendiri: Parta Krama. Meskipun Subadra bukan wanita pertama yang menjadi istrinya, dalam pewayangan adik Kresna itu dianggap sebagai permaisuri Arjuna.

      Karena istrinya banyak, anak ketiga dari Pandu Dewanata itu juga banyak anaknya, kebanyakan laki-laki. Anak Arjuna yang terkenal antara lain adalah Abimanyu, Bambang Irawan, Bambang Sumitra, Wisanggeni, Bratalaras, Wilugangga, Priyambada, Wijanarka, dan Caranggana. Sedangkan anak perempuannya, antara lain Dewi Pregiwa dan Pregiwati. Semua anak laki-lakinya gugur dalam Baratayuda, tidak seorang pun yang hidup. Demikian pula salah seorang istrinya, Srikandi. Prajurit wanita yang berjasa karena mengalahkan Resi Bisma itu tewas dibunuh Aswatama pada saat tidur.

      Dewi Banowati, Janda Prabu Anom Duryudana, yang hanya beberapa waktu menjadi istrinya juga mati dibunuh Aswatama. Tentang banyaknya istri Arjuna, budayawan dan penulis buku-buku wayang Soenarto Timoer berpendapat, bahwa itu hanya merupakan simbolisme. Sebagian besar istri Arjuna adalah putri pendeta, pertapa, yang merupakan guru Arjuna. Memperistri putri para resi yang menjadi gurunya, merupakan simbol dari keberhasilan Arjuna menyadap ilmu sang Guru. Pendapat seperti ini juga dianut banyak pecinta wayang lainnya di Indonesia.

      Dalam Baratayuda, ketika mengetahui bahwa Abimanyu gugur secara aniaya, Arjuna mengamuk. Abimanyu adalah putra kesayangannya, yang diharapkan akan menjadi pewaris takhta Astina kelak. Jayadrata, yang telah menghancurkan tubuh Abimanyu dengan injakan kaki gajahnya dan meremukkan kepala anak sulungnya dengan pukulan gada Kyai Glinggang, diancam. Hari itu juga Arjuna mengumumkan tekadnya, bahwa pada peperangan esok hari, sebelum matahari terbenam ia harus sudah berhasil membunuh Jayadrata. Jika tak berhasil, ia akan bunuh diri, bela pati, dengan cara menerjunkan diri ke dalam kobaran api pembakar jenazah anaknya.

      Sumpah dan ancaman Arjuna ini oleh Patih Sengkuni justru dipakai sebagai siasat untuk membunuh Arjuna. Esok harinya, Jayadrata dilarangnya turun ke gelanggang perang. Ia disembunyikan di sebuah benteng kokoh, dijaga ketat. Sementara itu untuk melindungi anaknya, Begawan Sapwani, ayah angkat Jayadrata, menciptakan seratus orang jadi-jadian yang semuanya amat mirip dengan Jayadrata. Menurut perhitungan Patih Sengkuni, kalau Arjuna gagal membunuh Jayadrata hari itu, sebagai seorang ksatria utama ia tentu akan menepati janjinya, bunuh diri. Kematian Arjuna tentu amat menguntungkan Kurawa. Akibat siasat yang diatur Sengkuni itu, sampai menjelang sore hari Arjuna tidak berhasil bertemu dengan pembunuh putranya itu.

      Menyaksikan kenyataan itu Prabu Kresna mulai cemas. Jika tak berhasil membunuh Jayadrata, maka tidak bisa dicegah lagi Arjuna tentu akan melaksanakan janjinya: bunuh diri, bela-pati pada saat upacara pembakaran jenazah anak kesayangannya. Menjelang sore hari, Prabu Kresna kemudian menggunakan senjata pusakanya, Cakra untuk menghalangi sinar matahari. Suasana di medan perang pun gelap, seolah matahari telah terbenam. Pada saat itulah kepala Jayadrata muncul dari jendela benteng. Jayadrata merasa aman karena mengira hari telah senja dan matahari telah terbenam. Ia juga ingin menyaksikan Arjuna bunuh diri. Kesempatan ini tidak disia-siakan, secepat kilat Arjuna melepaskan anak panah Pasopati menebas leher Jayadrata hingga kepalanya terpotong, tewas seketika. Saat berikutnya, Prabu Kresna menarik kembali senjata Cakra sehingga suasana menjadi terang benderang kembali.

      Riwayat Arjuna menurut versi Mahabarata pada beberapa bagian agak berbeda dengan pewayangan. Dalam Mahabarata antara lain disebutkan: Arjuna belajar ilmu perang dari Begawan Drona dan menjadi murid kesayangannya. Karena memenangkan lomba memanah, Arjuna memenangkan sayembara merebut putri mahkota Kerajaan Pancala (di pewayangan kerajaan ini disebut Cempala), Draupadi (di pewayangan disebut Dewi Drupadi). Sedangkan menurut cerita di pewayangan, yang memenangkan sayembara itu adalah Bima, karena berhasil mengalahkan Patih Gandamana, paman Dewi Drupadi. Di pewayangan sayembaranya bukan adu ketrampilan memanah, melainkan berperang tanding sampai mati.

      Dalam Kitab Mahabarata, Arjuna juga merupakan salah seorang suami Dewi Drupadi. Menurut kesepakatan di antara para Pandawa, Dewi Drupadi secara bergilir menemani salah seorang dari mereka. Pada suatu hari, seorang brahmana mohon pertolongan pada Arjuna untuk menghadapi kawanan raksasa yang mengganggu pertapaan. Saat itu Arjuna dihadapkan pada pilihan sulit, karena untuk menolong brahmana itu, ia harus masuk ke kamar untuk mengambil senjatanya. Padahal saat itu kakak sulungnya, Yudistira, sedang berada di dalam kamar bersama Dewi Drupadi.

      Setelah menimbang-nimbang, Arjuna akhirnya memasuki kamar dan mengambil senjatanya, lalu mengusir para raksasa pengganggu pertapaan. Sesudah selesai, segera ia menjumpai Yudistira dan Drupadi untuk memohon maaf, serta menyatakan siap menerima hukuman. Mereka memaafkannya dan tidak menjatuhkan hukuman apa pun. Tetapi Arjuna menyatakan, ia akan menghukum dirinya sendiri, dengan cara hidup dalam pengasingan selama 12 tahun. Karena bagian kisah ini menyangkut perihal masalah poliandri, maka pewayangan di Indonesia pada umumnya mengabaikan bagian ini. Menurut Kitab Mahabarata, Arjuna antara lain pernah berguru pada Begawan Parasurama (di pewayangan disebut Rama Parasu atau Rama Bargawa). Dari pertapa itu Arjuna memperoleh ilmu tentang cara mempergunakan senjata dan peralatan perang lainnya. Tetapi dalam pewayangan, Arjuna tak pernah berguru pada Rama Bargawa, karena Arjuna berdarah ksatria, sedangkan Rama Bargawa tidak mau menerima murid dari golongan ksatria.

      Selain itu, dalam Mahabarata diceritakan pengembaraan Arjuna mencari ilmu juga sampai ke negeri Naga. Di sana ia bertemu dengan putri bangsawan suku Naga bernama Ulupi (di pewayangan disebut Dewi Palupi dan tinggal di Pertapaan Yasarata), dan menikahinya. Mereka berputra Irawat (dalam pewayangan disebut Bambang Irawan). Ketika di Kerajaan Manipura, Arjuna kawin dengan putri mahkota bernama Citranggada. Sebelum meninggalkan negeri Manipura, Citranggada melahirkan seorang putra bernama Babruwahana.

      Pengembaraan Arjuna dalam usaha menambah ilmu sampai di negeri Dwaraka (Dwarawati). Di negeri ini Arjuna bertemu dengan Krishna, yang di kemudian hari menjadi pengemudi keretanya dalam Baratayuda di medan Kuruksetra dan sekaligus menjadi guru spiritualnya. Di negara Dwaraka, Arjuna menikah dengan adik Krishna, Dewi Subadra. Dari perkawinan ini lahir Abimanyu.

      Arjuna meneruskan pengembaraannya. Dari Batara Agni ia memperoleh busur dan panah pusaka yang dinamakan Gandiwa. Hadiah ini diberikan kepada Arjuna berkat bantuannya kepada Batara Agni dalam melawan Batara Indra dengan membakar hutan Kandawa.

      Selanjutnya Arjuna mendaki Gunung Himalaya. la berharap dapat bertemu dengan para dewata untuk memperoleh senjata sakti untuk melawan para Kurawa kelak bila masa pengasingannya telah usai. Di Gunung Himalaya ia menyerang Kirata (Kerata), orang gunung. Tatkala ia sadar siapa sebenarnya yang dihadapi, Arjuna menyembah Kirata, jelmaan Batara Siwa, dan mengakui kekhilafannya. Dari dewa ini Arjuna memperoleh senjata bernama Pasupata atau Pasopati, senjata yang ampuh. Mengetahui hal ini, Batara Indra, Batara Baruna (Waruna), Batara Yama dan Batara Kuwera berdatangan dan menghadiahkan berbagai senjata pusaka. Batara Indra kemudian mengajak Arjuna masuk ke dalam kereta gaib dan membawanya ke sorga, ke ibukota negeri Batara Indra, Amarawati. Di tempat ini Arjuna menghabiskan waktunya beberapa tahun untuk mempelajari ilmu perang, termasuk ilmu perang melawan raksasa dan makhluk halus di lautan. Batara Indra puas akan kemahiran Arjuna, lalu menghadiahkan sebuah mahkota bertakhtakan emas berlian dan berbagai pusaka sakti.

      Dengan bantuan para gandarwa Hutan Wanamarta, dalam waktu singkat Kerajaan Amarta tumbuh menjadi negeri yang makmur dan luas jajahannya. Namun karena Pandawa kalah dan tertipu oleh Patih Sengkuni dalam permainan judi dadu, mereka kehilangan Kerajaan Amarta dan terpaksa menjalani pengasingan selama 12 tahun dalam hutan belantara. Pada masa pembuangan itulah Arjuna sering mengembara mencari ilmu. Sebagai hukuman terakhir dalam pengasingannya, di tahun ke-12, Pandawa harus sanggup menyamar sehingga tidak bisa ditemukan para Kurawa. Pandawa menyusup masuk ke wilayah Kerajaan Wirata. Di sini mereka menyamar. Yudistira menyamar sebagai ahli politik dan ketatanegaraan bernama Kangka. Ia menjadi penasihat tak resmi raja Wirata, Prabu Matswapati.

      Bima menyaru sebagai pemotong hewan dan ahli masak bernama Balawa, dan Arjuna berperan sebagai banci yang mengajarkan musik dan tari. Waktu itu Arjuna menggunakan nama Brehanala. Sedangkan Nakula dan Sahadewa masing-masing menjadi gembala dan penjinak serta pelatih kuda. Ketika berada dalam masa penyamaran di Kerajaan Wirata ini, ada perbedaan cerita mengenai Arjuna dalam pewayangan dan pada Kitab Mahabarata. Menurut pewayangan, di negeri itu Arjuna menyamar sebagai banci. Tetapi menurut Kitab Mahabarata Arjuna benar-benar menjadi banci. Keadaan ini adalah akibat kutukan Dewi Uruwasi, salah satu bidadari kahyangan.

      Kutukan itu kejadiannya begini:
      Setelah berhasil membantu para dewa mengalahkan Prabu Niwatakawaca, Arjuna mendapat berbagai anugerah. Selain berbagai senjata pusaka, Arjuna diperkenankan tinggal dengan kedudukan setara raja di Kahyangan, dengan gelar Prabu Kariti. Di tempat ini banyak para bidadari yang terpikat pada ketampanan Arjuna. Dewi Uruwasi, salah satu bidadari yang paling agresif di kahyangan, suatu saat datang merayu Arjuna. Namun Arjuna tidak tergoda. Sang Bidadari menjelaskan bahwa rayuannya itu bukan godaan tetapi perujudan akan hausnya cinta. Dengan sopan Arjuna tetap menolak dengan mengatakan, menurutnya tidak pantas bilamana seorang pria manusia biasa bercinta dengan wanita golongan bidadari.

      Dewi Uruwasi memberi alasan bahwa makhluk bidadari tidak terikat akan norma kepantasan yang dibuat manusia. Bidadari boleh bercinta dengan siapa saja, karena itu tidak ada halangan baginya untuk bercinta dengan Arjuna. Karena dengan penjelasan seperti itu Arjuna tetap tidak bersedia melayani hasrat cintanya, maks Dewi Uruwasi pun marah dan menjatuhkan kutukannya: "Sikapmu seperti banci saja ..."
      Arjuna menjadi sedih dengan kutukan itu. Namun, Batara Indra Setelah mendengar adanya kutukan itu menghiburnya.
      "Kelak dalam perjalanan hidupmu, suatu masa engkau harus menyamar. Dan, kutukan Dewi Uruwasi itu kelak sama sekali tidak akan merugikan engkau, sebaliknya justru akan menguntungkan."

      Menurut Kitab Mahabarata, dalam Baratayuda Arjuna berhasil membunuh antara lain raja Trigata. Susarman dan 14 saudaranya, Kama, Jayadrata, dll. serta membantu Srikandi melumpuhkan Resi Bisma. Setelah perang dahsyat di Medan Kurusetra usai. Pandawa yang dipimpin Yudistira menyelenggarakan upacara Aswameda, yaitu upacara korban kuda. Sesudah itu para Pandawa pergi bertapa ke Gunung Himalaya. Sebelumnya, pemerintahan Kerajaan Astina diserahkan kepada putra mahkota, yaitu Parikesit, anak Abimanyu.
      Begitu antara lain kisah Arjuna menurut Mahabarata.

      Dalam pewayangan, sesudah Arjuna bersama sekalian saudaranya dan ibunya lolos dari usaha pembunuhan di Bale Sigala-gala, berkat pertolongan Sang Hyang Antaboga, mereka mengembara dari hutan ke hutan, hingga akhirnya tiba di wilayah Cempalaradya. Setelah berhasil mendapatkan Dewi Drupadi untuk diperistri Yudistira, Yama Widura, paman para Pandawa menjemput mereka kembali ke Astina. Atas saran Resi Bisma dan Yama Widura para Pandawa diberi tanah berupa Hutan Wanamarta. Bersama saudaranya yang lain, Arjuna ikut membabat Hutan Wanamarta. Saat itu Pandawa mendapat perlawanan dari makhluk halus penghuni hutan itu. Perlawanan makhluk halus itu amat merepotkan karena makhluk halus itu tidak terlihat. Untunglah ketampanan Arjuna menguntungkan seluruh Pandawa.

      Waktu itu Dewi Jimambang, putri Begawan Wilwuk, seorang pertapa dari wilayah Kerajaan Pringgadani jatuh cinta kepadanya, dan mereka pun kawin. Dewi Jimambang inilah yang sebenarnya merupakan istri pertama Arjuna. Dari mertuanya Arjuna mendapat minyak pusaka Jayengkaton yang menyebabkannya sanggup melihat segala jenis makhluk halus. Karena minyak sakti itu pula Arjuna dan saudara-saudaranya dapat mengalahkan semua siluman gandarwa penghuni hutan angker itu. Dengan begitu pekerjaan membabat Hutan Wanamarta bisa dirampungkan dan Kerajaan Amarta dapat dibangun.

      Dalam pewayangan Arjuna mempunyai banyak nama, antara lain: Permadi, Pamade, Janaka, Palguna, Anaga, Panduputra, Barata, Baratasatama, Danasmara, Dananjaya, Gudakesa, Ciptaning, Kritin, Kaliti, Kariti, Kumbawali, Kumbang Ali-ali, Kuntiputra, Kuruprawira, Kurusatama, Kurusreta, Mahabahu, Margana, Parantapa, dan Parta.

      Arti nama-nama Arjuna dalam pewayangan antara lain Panduputra, karena ia anak Pandu: Kuntadi, karena ia memiliki senjata panah sakti; Palguna, karena ia pandai mengukur kekuatan lawan, Dananjaya, karena ia tidak mementingkan harta benda, Prabu Kariti, karena ia pernah diwisuda menjadi raja Tenjamaya — yaitu kahyangan para bidadari; Margana, karena ia dapat terbang walaupun tanpa sayap; Parta karena ia seorang yang berbudi luhur dan sentosa; Parantapa karena ia amat tekun bertapa; Kuruprawira dan Kurusatama karena ia adalah pahlawan Baratayuda yang dilangsungkan di Medan Kurusetra, Mahabahu karena walaupun tubuhnya tidak besar tetapi memiliki kekuatan yang dahsyat; nama Danasmara karena ia tak pernah menolak cinta wanita mana pun.

      Dalam Wayang Golek Purwa Sunda Arjuna juga mempunyai banyak nama alias, di antaranya Bang-bang Manonbawa, Banjarasa, Lalumita, Banjarsekti, dan Enasabda. Para dalang Wayang Purwa di Indonesia umumnya menggunakan nama Permadi atau Pamade, untuk menyebut Arjuna ketika masih muda remaja, sebelum kawin dengan Dewi Subadra. Sedangkan nama Janaka atau Arjuna biasa digunakan untuk menyebut Arjuna setelah ia dewasa. Bima, abangnya, menggunakan nama panggilan khusus untuk Arjuna, yakni Jlamprong, yang artinya 'bulu merak'. Sedangkan Dewi Subadra sering menyebutnya 'bapakne kulup' yang artinya lebih kurang sama dengan 'bapaknya si Ucok'. Sementara Dewi Srikandi dan Larasati sering memanggilnya Pangeran, karena Arjuna memang seorang anak raja.

      Ksatria berwajah tampan itu pada mulanya tinggal di Kasatrian Madukara. Namun setelah Baratayuda usai ia tinggal di Banakeling, kerajaan kecil yang sebelumnya diperintah oleh Jayadrata. Kasatrian Madukara semula adalah sebuah kerajaan yang diperintah oleh raja gandarwa atau raja jin bernama Kumbang Ali-ali atau Kumbawali. Setelah raja gandarwa ini dikalahkan, ia menyusup ke tubuh Arjuna, dan namanya digunakan sebagai nama alias.

      Tentang anak-anak Arjuna yang banyak itu, dapat disebutkan antara lain: Abimanyu, putra tunggal hasil perkawinan dengan Dewi Subadra; dengan Dewi Larasati (Rarasati) seorang anak yaitu Brantalaras. Dengan Dewi Srikandi tidak berputra; dengan Dewi Ratri mendapat seorang putra diberi nama Bambang Wijanarka; dengan Dewi Palupi (ini perkawinan kedua) mendapat seorang putra bernama Bambang Irawan; dengan bidadari Dewi Dresanala berputra Bambang Wisanggeni; dengan Dewi Juwitaningrat berputra Bambang Senggoto; dengan Dewi Jimambang (ini perkawinan pertama) menghasilkan dua putra yakni Bambang Kumaladewa dan Bambang Kumalasekti; dengan bidadari Dewi Wilutama berputra Wilugangga; dengan bidadari Dewi Supraba menurunkan Bambang Prabaksuma; dengan Endang Manuhara mendapat dua orang putri, yakni Dewi Pergiwa dan Pergiwati; sedangkan dengan Dewi Banowati yang dikawininya setelah selesai Baratayuda, Arjuna tidak sempat mendapat anak karena Banowati tidak lama setelah dinikahinya tewas dibunuh Aswatama.

      Walaupun demikian ada juga sebagian dalang yang secara tersamar menyebutkan bahwa dua orang anak Dewi Banowati yang resminya putra putri Prabu Anom Suyudana, sesungguhnya juga anak gelap Arjuna. Kedua anak itu adalah Lesmana Mandrakumara dan Dewi Lesmanawati. Dalang penganut versi ini, menyebutkan ketika Lesmana Mandrakumara lahir dan ternyata wajahnya mirip dengan dirinya, Arjuna lalu memohon pada para dewa agar setelah besar kelak bayi itu jangan mirip dirinya. Permohonan itu dikabulkan, karena para dewa telah banyak berhutang budi pada Arjuna. Menurut versi ini, Dewi Banowati sering berselingkuh dengan Arjuna, pada masa ia masih menjadi permaisuri Suyudana.

      Selain berkemampuan terbang, Arjuna juga banyak memiliki senjata pusaka. Sebagian besar senjata itu pemberian para dewa, di antaranya, Pulanggeni, Pasopati, Kalanadah, Sarotama, Kalamisani. Keris Kyai Kalanadah yang dalam pewayangan dikatakan berasal dari taring Batara Kala, kemudian dihadiahkan kepada Gatotkaca sebagai 'kancing gelung' ketika putra Bima itu menikahi Dewi Pregiwa. Anak panah pusaka milik Arjuna juga cukup banyak, di antaranya adalah Pasopati, Sarutama, Ardadedali, dan Agnirastra. Cundamanik, anak panah pusaka yang semula milik Begawan Drona yang berasal dari pemberian Dewi Wilutama dan kemudian diwariskan pada Aswatama, akhirnya juga menjadi milik Arjuna, sebagai barang sitaan, seusai Baratayuda. Selain itu, anak panah Arya Sengkali adalah hadiah Begawan Drona bagi Arjuna.

      Kisah perkawinan Arjuna dengan Dewi Subadra di pewayangan, agak jauh berbeda dengan yang diceritakan di Kitab Mahabarata. Menurut Kitab Mahabarata, Subadra bisa menjadi istrinya, setelah Arjuna menculik dan melarikannya pada suatu pesta. Peristiwa penculikan Subadra ini membuat Baladewa amat marah dan hendak menghukum ksatria Pandawa itu, namun Kresna mencegahnya. Setelah kemarahan Baladewa reda, Kresna justru mengundang Arjuna ke Dwaraka (Dwarawati) untuk merayakan pernikahan mereka secara pantas, sesuai dengan kedudukan Subadra selaku putri raja Mandura.

      Menurut Empu Panuluh, dalam Kitab Hariwangsa yang merupakan lampiran dari Kitab Mahabarata, Arjuna pun sebenarnya juga merupakan titisan Batara Wisnu, sebagaimana halnya dengan Kresna. Menurut Empu Panuluh, sewaktu Kresna menculik Dewi Rukmini, raja Kumbina meminta tolong pada Pandawa agar bersedia menghadapi Kresna, merebut kembali Dewi Rukmini. Yudistira menyanggupi permintaan tolong itu, sehinggga Pandawa terpaksa berperang melawan Kresna. Baladewa, raja Mandura, membela Kresna dan berperang tanding melawan Bima. Keduanya mati sampyuh. Yudistira gugur sewaktu berperang tanding melawan Kresna. Waktu tiba giliran Arjuna berhadapan dengan Kresna, kesaktiannya ternyata seimbang. Sama kuat dan sama sakti. Karenanya Kresna lalu mengubah ujud dirinya menjadi Batara Wisnu. Arjuna pun tidak mau kalah, ia pun mengubah dirinya menjadi Wisnu, sehingga terjadilah perang tanding antara dua Batara Wisnu. Hal ini menyebabkan kahyangan geger clan para dewa terpaksa turun tangan melerainya. Sesudah dilerai para dewa, Arjuna diberi tahu bahwa menurut ketentuan para dewa Dewi Rukmini memang merupakan jodoh Kresna, tidak dapat diganggu gugat. Kresna, dengan Cangkok Wijayakusuma miliknya, lalu menghidupkan kembali Bima, Baladewa dan Yudistira. Intisari tulisan Empu Panuluh ini menyimpulkan bahwa sesungguhnya Arjuna pun memiliki sifat-sifat Wisnu. Tetapi berbeda dengan Kresna, sifat Wisnu pada Arjuna hampir tidak pernah muncul.

      Dari sekian banyak anaknya, Arjuna paling sayang pada Abimanyu. Meskipun anak-anaknya yang laim tidak protes, Semar merasa perlu untuk menyadarkan Arjuna agar jangan membeda-bedakan anak dalam soal kasih sayang. Ini terjadi ketika Bambang Sumitra, anak Arjuna dari Dewi Larasati hendak kawin dengan Dewi Asmarawati. Waktu itu Arjuna menanggapi rencana pernikahan itu dengan tak acuh. Karenanya Semar lalu mengambil alih tugas pelaksanaan perkawinan itu. Dalam kapasitasnya sebagai Batara Ismaya ia minta bantuan beberapa orang dewa untuk membantu penyelenggaraanya. Selain itu Semar juga mengerahkan puluhan bidadari yang bertindak sebagai pelayan tamu pada perayaan pernikahan itu, sedangkan hidangan yang disajikan semuanya berasal dari kahyangan. Dengan cara diwelehake (disadarkan secara memalukan dan menyakitkan) ini, Arjuna isyaf bahwa kepada semua anaknya ia harus rata membagi kasih sayang dan perhatian.

      Dalam seni kriya pewayangan di Pulau Jawa, rambut Arjuna bergelung Minangkara, mengenakan kain Kampuh Limar Sawo atau Limar Sumbul, kalungnya bernama Candra Katon, dan ikat pingpngnya Limar Ketanggi. Dalam seni kriya Wayang Kulit Purwa, tokoh Arjuna ditampilkan dalam beberapa wanda, yaitu wanda Kinanti, Jimat, Mangu, Renteng, Melati dan Janggleng. Sementara Arjuna muda, yang dalam pedalangan sering disebut Permadi, wandanya adalah Pengasih, Jimat, Pengawe, Pacel, Kinanti dan Penganten.

      Selain itu ada juga Arjuna yang memakai samir, atau yang mengenakan selendang. Biasanya Arjuna semacam ini digunakan pada saat pergelaran lakon-lakon sewaktu Arjuna bertapa, dan kadang-kadang dipakai juga untuk peraga tokoh leluhur Pandawa, antara lain Manumayasa. Selain itu ada juga Arjuna lain yang mengenakan mahkota, mirip dengan yang dikenakan oleh Adipati Karna. Peraga wayang Arjuna makutan ini hanya digunakan pada pergelaran lakon Karna Tanding, yaitu salah satu lakon Baratayuda. Pada perang itu, menurut jalinan kisahnya, Arjuna memang mengenakan makhota, agar seimbang dengan lawannya, yaitu Adipati Karna. Perbedaan yang nyata antara bentuk Arjuna dan Permadi dalam seni kriya Wayang Kulit Purwa adalah Permadi atau Pamade mengenakan lebih banyak perhiasan, antara lain kelat bahu dan gelang. Sedangkan pakaian Arjuna lebih sederhana. Di masa tuanya, setelah ia lebih dikenal dengan nama Arjuna atau Janaka, ia hampir tidak mengenakan perhiasan apa pun.

      Dalam pergelaran Wayang Orang gaya Surakarta, tokoh Arjuna diperankan oleh penari wanita, sedangkan di daerah Yogyakarta biasanya tokoh itu diperankan penari pria yang bertubuh ramping dan relatif kecil.

      Berbagai lakon yang melibatkan Arjuna:
      • Arjuna Lahir
      • Arjuna Papa
      • Babad Wanamarta
      • Arjuna Pingit
      • Arjuna Terus
      • Janaka Banteng
      • Gajah Putih Srati Putri (Kurupati Rabi)
      • Alap-Alapan Rukmini
      • Alap-Alapan Setyaboma
      • Bambang Kandihawa
      • Parta Krama (Perkawinan Arjuna-Subadra)
      • Janaka Papat (Kate Kencana)
      • Babad Wisamarta
      • Semar Mbarang Jantur (Erawati Hilang)
      • Janaka Rangka
      • Janaka Sendang
      • Palguna - Palgunadi
      • Sindusena
      • Cekel Indralaya
      • Sidajati - Sidalamong
      • Pandu Pregola
      • Bambang Margana
      • Sukmadadari
      • Sumong
      • Bambang Manonbawa
      • Makuta Rama
      • Cocogan (Perkawinan Arjuna-Srikandi)
      • Cakranegara
      • Swarga Bandang
      • Alap-Alapan Larasati (Arjuna-Larasati)
      • Alap-Alapan Palupi (Arjuna-Palupi)
      • Arjuna Sendang (Arjuna-Bidadari)
      • Arjuna Wiwaha (Begawan Ciptoning)
      • Semar Minta Bagus
      • Alap-Alapan Surtikanti (Karna-Surtikanti)
      • Endang Werdiningsih (Baladewa Kawin)
      • Kangsa Adu Jago
      • Parta Dewa
      • Abimanyu Lena (Abimanyu Gugur)
      • Jayadrata Lena (Jayadrata Gugur)
      • Karna Tanding (Perang Arjuna-Karna)


       ARJUNA wanda Janggleng, Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta.


      ARJUNA wanda Kanyut, Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta


      ARJUNA wanda Janggleng, Wayang Kulit Purwa gagrak Yogyakarta



      ARJUNA wanda Yudasmara, Wayang Kulit Purwa gagrak Yogyakarta


       ARJUNA wanda Kinanti, Wayang Kulit Purwa gagrak Yogyakarta


      ARJUNA Topong, Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta


       ARJUNA Topong, Wayang Kulit Purwa gagrak Yogyakarta


       ARJUNA bermahkota, atau ArjunaTopong, 
      digunakan ketika Arjuna berhadapan dengan Adipati Karna
      dalam Bharatayuda. 


      ARJUNA , gambar grafis Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta


       ARJUNA , gambar grafis Wayang Kulit Purwa gagrak Cirebon (kiri)
      dan gandarwa Wiramaya (kanan) yang dikalahkan Arjuna dalam lakon Babad Alas Amerta.
      Wanamaya kemudian menyatu dalam diri Arjuna.  


       ARJUNA, Wayang Kulit Purwa Bali  


      ARJUNA, gambar grafis Wayang Kulit Purwa Bali 


       ARJUNA, dalam penampilan pada panggung sendratari dengan penari pria.
      Tetapi di panggung wayang orang gaya Surakarta, biasanya diperankan penari wanita.


       ARJUNA, Wayang Golek Purwa Sunda  


       ARJUNA, gambar grafis bergaya buku komik, 
      berdasarkan penampilan pada panggung Wayang Orang gaya Surakarta


      Beberapa Ajian atau Ilmu yang dimiliki oleh Arjuna:
      •  Panglimunan atau Kemayan, untuk membuat dirinya tidak terlihat atau menghilang.
      • Sepiangin, dapat berjalan tanpa membuat jejak.
      • Tunggengmaya, dapat menciptakan sumber air.
      • Mayabumi, dapat memperbesar wibawa sehingga musuhnya takut sebelum berperang.
      • Mundri atau Maundri atau Pengantep-antep, dapat menambah berat tubuhnya, sehingga musuh tak kuat mengangkatnya.
      • Pengasihan, membuatnya dikasihi sesama makhluk.
      • Asmaracipta, menambah kemampuan olah pikir.
      • Asmaratantra, menambah kekuatan dalam peperangan.
      • Asmarasedya, menambah keteguhan hati menghadapi peperangan.
      • Asmaraturida, menambah kekuatan dalam berolah rasa.
      • Asmaragama, menambah kemampuan berolah asmara.
      • Anima, dapat membuat tubuh Arjuna mengecil sehingga tidak terlihat oleh mata.
      • Lahima, dapat membuat tubuh Arjuna menjadi ringan, sehingga ia dapat melayang.
      • Prapki, dapat membuat sampai kie tempat tujuan yang dinginkannya.
      • Matima, dapat megubah ujud dirinya.
      • Kamawasita, membuat Arjuna menjadi perkasa dalam berolah asmara.
      {[['']]}

      ARIMUKA

      ARIMUKA dan Wahmuka adalah putra Prabu Darmamuka atau Prabu Darmahambara dari Kerajaan Giyantipura atau Kasipura. la mempunyai saudara empat orang, yaitu Wahmuka, Dewi Amba, Dewi Ambika, dan Dewi Ambalika. Arimuka dan Wahmuka lahir dengan ujud raksasa, sedangkan saudaranya yang perempuan lahir sebagai putri cantik.

      Mengenai ketiga putri ini, nama mereka berbeda antara buku yang satu dengan lainnya. Ada yang menyebut nama mereka Dewi Ambalmi, Ambiki, dan Ambaliki; sementara buku lainnya mengatakan nama mereka Dewi Amba, Ambahini, dan Ambaliki. Wahmuka dan Arimuka memiliki kesaktian yang hebat. Bilamana salah satu di antara mereka mati, dan yang lain melompati mayat saudaranya, maka yang mati akan hidup kembali. Waktu saudara-saudaranya yang perempuan meningkat dewasa, atas izin Prabu Darmamuka, Arimuka dan Wahmuka sepakat mengadakan sayembara untuk mencari calon suami Amba, Ambika, dan Am-balika. Hanya pelamar yang sanggup mengalahkan Arimuka dan Wahmuka, akan dinikahkan dengan ketiga putri raja itu.

      Wahmuka dan Arimuka memang sakti. Jika salah seorang di antara mereka mati, dan lainnya melompati jenasahnya, maka yang mati akan hidup kembali. Jadi, untuk membunuh mereka, hanya dilakukan secara bersamaan. Tetapi itu juga tidak mudah, karena Arimuka dan Wahmuka memiliki ilmu kebal. Banyak ksatria dan raja yang mengikuti sayembara itu, tetapi semuanya dapat dikalahkan oleh Arimuka dan Wahmuka. Baru sesudah seorang ksatria muda dari Kerajaan Astina bernama Dewabrata tampil, Arimuka dan Wahmuka kalah. Keduanya gugur karena dari Ki Lurah Semar, Dewabrata mendapat rahasia tentang bagaimana cara membunuh kedua raksasa kakak beradik itu. Menurut Semar, kedua raksasa sakti itu sebenarnya adalah penjelmaan air kawah dan ari-ari ketiga putri Prabu Darmamuka itu. Keduanya kebal, tidak mempan segala macam senjata. Oleh karena itu, untuk dapat membunuhnya kedua telapak tangan Dewabrata harus dilumuri dengan kunir (kunyit) dan apu (kapur sirih). Jika Dewabrata dapat memukul mereka bersama-sama sekaligus, maka Wahmuka dan Arimuka pasti akan mati. Ternyata saran Semar itu terbukti. Kedua raksasa itu mati dalam waktu bersamaan, dan tidak bangun lagi, sewaktu Dewabrata menempelengnya dalam waktu yang bersamaan.

      Kisah tentang Arimuka dan Wahmuka ini berbeda benar dengan jalan cerita pada Kitab Mahabarata. Pada kitab itu tokoh Arimuka dan Wahmuka tidak ada. Lagi pula, untuk dapat mempersunting Dewi Amba, Ambika, dan Ambalika, yang diselenggarakan bukan sayembara perang tanding, melainkan sayembara pilih.
      Pada sayembara pilih itu, para pelamar akan duduk berjajar, kemudian para putri raja itu akan mengalungkan untaian bunga pada pelamar yang dipilihnya.

      Tetapi yang terjadi pada sayembara pilih di Kerajaan Giyantipura (di Kitab Mahabarata disebut negeri Kasi) itu yang terjadi adalah, tiba-tiba Dewabrata masuk ke ruangan, dan menggandeng ketiga putri itu.


      Ditya Kala ARIMUKA, gambar grafis Wayang Kulit Purwa
      gagrak Surakarta
      {[['']]}

      About

       
      Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
      Copyright © 2011. Blvckshadow - All Rights Reserved
      Template Created by Creating Website Published by Mas Template
      Proudly powered by Blogger