Latest update :
Recent Updates

Arjuna


ARJUNA adalah orang ketiga dari Pandawa lima, putra Dewi Kunti. Dalam pewayangan ia sering dijuluki Panengah Pandawa. Kata 'Arjuna' dalam bahasa Sanskerta artinya 'putih' atau 'bening, bersih'. Dalam pewayangan, Arjuna merupakan tokoh populer selain karena kesaktiannya, ketampanannya, juga karena banyak lakon wayang yang melibatkan namanya.

Sebagai salah seorang dari Pandawa, Arjuna mempunyai dua kakak dan dua orang adik. Abangnya yang sulung adalah Yudistira alias Puntadewa, kelak menjadi raja di Amarta dengan gelar Prabu Darmakusuma. Sesudah itu, abangnya yang kedua, bernama Bima alias Harya Sena, Wijasena, Bratasena, atau Wrekudara. Adik kembar, bernama Pinten dan Tangsen, yang juga dikenal dengan nama Nakula dan Sadewa. Walaupun resminya Arjuna adalah putra raja Astina, namun sesungguhnya ia adalah putra Batara Endra. Hal ini disebabkan Prabu Pandu Dewanata sendiri tidak dapat membuahkan keturunan, karena kekeliruan yang dibuatnya, ia  terkena kutukan Begawan Kindima, seorang brahmana. Kutukan itu menyebutkan, Pandu Dewanata akan mati seketika bilamana ia memadu kasih bersama istrinya. Sejak itulah Pandu tak berani lagi tidur bersama istrinya.

Karena harus ada keturunan untuk melanjutkan dinasti yang memerintah Astina, Pandu mengizinkan istrinya memanggil dewa yang dikehendakinya guna membuahi Kunti. Kebetulan Kunti memiliki Aji "Adityahredaya" yang dipelajarinya dari Resi Druwasa. Ilmu ini menyebabkannya ia kuasa memanggil dewa yang mana saja. Dan, sebagai bagi ayah Arjuna, Dewi Kunti memanggil Batara Endra. Itulah sebabnya, Arjuna juga bernama Endratanaya atau Endraputra.
Selain tampan, Arjuna sejak kecil gemar menuntut ilmu. Untuk menambah ilmunya, jika perlu Arjuna berkelana ke negeri lain. Ia merupakan murid yang paling disayangi Begawan Drona. Guru Besar sang bekerja bagi Kerajaan Astina itu bahkan pernah berjanji, tidak akan mengajarkan ilmunya kepada murid lain, selengkap yang diajarkan kepada Arjuna. Putra Kunti ini juga dikenal sebagai ksatria tekun bertapa. Namun sebagai manusia, Arjuna pun memiliki beberapa kekurangan. Ketampanan wajah dan ilmu tinggi yang dimilikinya, beberapa kali disalahgunakan. Kesalahan yang mencolok adalah ketika ia memburu-buru Dewi Anggraini, walaupun ia tahu bahwa wanita itu telah bersuami. Wanita setia itu akhirnya memilih kematian daripada harus melayani hasrat Arjuna. Arjuna akhirnya bahkan membunuh suami Anggraini, Ekalaya, yang setelah tahu perlakuan Arjuna terhadap Dewi Anggraini lalu menantangnya. (Lakon Palguna - Palgunadi atau Bambang Ekalaya).

Sesudah Baratayuda selesai sifat buruk Arjuna itu masih juga diulanginya lagi. Ia menginginkan Dewi Citrahoyi, padahal wanita itu telah menjadi istri Prabu Arjunapati, raja Sriwedari. Secara sembunyi-sembunyi Arjuna memang berhasil memenuhi hasratnya bercumbu kasih dengan Dewi Citrahoyi melalui jalan serong. Tetapi skandal itu harus ditebus dengan kematiannya. Namun karena kematian Arjuna itu oleh Prabu Kresna dianggap belum waktunya, ksatria tampan itu dihidupkan kembali dengan bantuan bunga pusaka Cangkok Wijayakusuma. Kresna kemudian malahan mengutus patihnya, Udawa, memimpin bala tentara Dwarawati menyerbu Kerajaan Sriwedari. Pada peperangan itu Patih Udawa dan Prabu Arjunapati mati sampyuh, sama-sama gugur. Dengan demikian tiada lagi halangan bagi Arjuna untuk memperistri Dewi Citrahoyi.

Dalam pewayangan, tokoh Arjuna menggambarkan karakter manusia yang berilmu tinggi tetapi kadang-kadang ragu dan bimbang dalam bertindak. Sifat manusiawi Arjuna makin tampak jelas sewaktu akan turun ke gelanggang pertempuran menghadapi Adipati Karna dalam Baratayuda. Ia tahu, Adipati Karna sesungguhnya juga putra Dewi Kunti, bahkan putra sulung. Ketika itulah ia merasa bahwa perang tak ada manfaatnya dan tidak membawa kebaikan baik bagi dirinya maupun bagi dunia. Arjuna berpendapat bahwa baik kalah maupun menang, yang menjadi korban tetap saudara-saudaranya sendiri dan rakyat kecil yang tidak tahu apa-apa.

Keraguan Arjuna yang manusiawi itu akhirnya lenyap setelah Arjuna menerima wejangan Prabu Kresna. Sebagai titisan Batara Wisnu, Kresna berhasil memberikan motivasi kuat pada Arjuna, bahwa dalam perang tidak ada kakak dan adik, tidak ada guru dan murid, yang ada adalah lawan dan kawan. Selain itu, setiap manusia pada dasarnya hidup di dunia dengan tugas dan kewajiban masing-masing. Manusia harus melaksanakan tugas dan darmanya dengan sebaik-baiknya, tanpa menghitung untung rugi. Wejangan yang panjang lebar itu kemudian dikenal sebagai Bagawat Gita.

Di waktu masih remaja, Arjuna pemah ditegur Kunti karena meminta makanan pada orang lain bagi kedua adiknya: Nakula dan Sadewa, atas dasar belas kasihan. Peristiwa ini terjadi ketika keluarga Pandawa dan Kunti berkelana di hutan setelah lolos dari usaha pembunuhan oleh pihak Kurawa di Bale Sigala-gala. Ketika Nakula dan Sadewa, yang ketika itu masih kanak-kanak, menangis kelaparan, Dewi Kunti menyuruh Bima dan Arjuna untuk mencari makanan bagi adik kembarnya. Arjuna kemudian datang lebih dahulu. Waktu hendak memberikan dua bungkus nasi pada adiknya, Kunti lebih dahulu bertanya tentang asal usul nasi itu. Arjuna menceritakan bahwa nasi itu dimintanya dari seorang lurah di Desa Sendang Kendayakan. "Jika nasi itu berasal dari belas kasihan seseorang, makanlah sendiri. Jangan kau berikan pada adikmu."

Nasi yang dibawa Arjuna itu sebenarnya adalah pemberian Ki Lurah Sagotra, yang menganggap Arjuna berjasa baginya karena telah membuat istrinya yang semula tak acuh menjadi sayang kepadanya. Bahkan, sebagai pernyataan suka citanya, waktu itu Ki Lurah Sagotra bersumpah akan bersedia menjadi tawur atau tumbal perang bagi kemenangan para Pandawa dalam Baratayuda kelak. Tidak lama kemudian Bima datang pula membawa nasi bungkus. Ia menceritakan bahwa nasi itu ia peroleh sebagai imbalan, karena Bima berhasil membunuh Prabu Baka (Prabu Dawaka) yang mempunyai kebiasaan memangsa manusia. Rakyatnya yang berterima kasih padanya minta agar Bima mau menjadi rajanya, namun Bima menolak. Waktu mereka menanyakan imbalan apa yang dapat diberikan, Bima meminta dua bungkus nasi.
"Berikan nasi itu pada adik-adikmu, karena nasi itu kau peroleh dari hasil cucuran keringatmu."

Sebagai manusia Arjuna juga memiliki sifat sombong. Waktu masih remaja, dengan angkuh ia menolak mengadu kepandaian dengan Karna, hanya karena waktu itu Arjuna merasa martabatnya lebih tinggi. Arjuna merasa dirinya keturunan bangsawan, karena ia anak Prabu Pandu Dewanata, sedangkan Karna waktu itu hanya dikenal sebagai anak kusir, sais kereta. Baru di kemudian hari, menjelang Baratayuda, setelah Arjuna tabu bahwa sebenamya Karna adalah kakak tertua satu ibu lain ayah, ia dapat tulus menghargai Karna.

Dalam salah satu lakon wayang Arjuna juga pernah ditegur oleh Semar, panakawannya. Ki Lurah Semar menilai Arjuna terlalu mementingkan diri sendiri dan saudara-saudaranya saja, tetapi kurang memperhatikan kepentingan dan masa depan anak-anak mereka. Teguran itu disampaikan Ki Lurah Semar setelah Arjuna berhasil membunuh Prabu Niwatakawaca, raja raksasa dari Manimantaka yang menjadi musuh para dewa. Ketika itu, sebagai imbalan Arjuna dibolehkan oleh para dewa mengajukan permintaan apa saja. Tanpa berpikir panjang Arjuna minta agar dalam Baratayuda kelak, kelima Pandawa selamat dan menang perang dalam Baratayuda. Permohonan seperti itu dinilai salah besar oleh Semar, karena dalam permohonan itu Arjuna sama sekali tidak memikirkan kepentingan anak-anak dan generasi penerus. Menurut Semar, seharusnya yang pertama-tama dimohonkan selamat, justru adalah anak-cucu Pandawa, dan bukan cuma kelima orang Pandawa saja.

Kelak, dalam Baratayuda terbukti tidak seorang pun anak Pandawa yang hidup. Mereka mati semua, tidak seorang pun yang selamat. Untunglah, cucu Arjuna, yaitu Parikesit yang lahir menjelang Baratayuda usai, selamat. Begitu pula cucu-cucu Bima. Pada waktu para Pandawa harus bersembunyi dan menyamar selama satu tahun, setelah menyelesaikan masa pembuangan selama 12 tahun, mereka berada di wilayah Kerajaan Wirata. Di negeri ini Arjuna menyamar sebagai banci bernama Kendi Wrahatnala. Ia bekerja sebagai guru tari dan guru kesenian lainnya. Penyamaran mereka waktu itu nyaris terbongkar waktu bala tentara Kurawa bersama sekutunya dari Kerajaan Trigata datang menyerbu Kerajaan Wirata. Sebagai ksatria, para Pandawa tidak dapat berdiam diri melihat serangan itu. Mereka turun gelanggang membantu pihak Wirata. Bima dengan gadanya mengamuk, sedangkan Arjuna yang menjadi sais kereta perang, Seta ikut pula meluncurkan anak panahnya. Gerak-gerik dan cara para Pandawa berperang sebenarnya dikenali Kurawa, namun tak dapat dibuktikan bahwa mereka itulah para Pandawa.

Istri Arjuna banyak. Ada 41 orang jumlahnya. Nama para istri Arjuna yang cukup terkenal antara lain adalah Subadra, Srikandi, Larasati, Ulupi (Palupi), Lestari, Manoara, Ratri, Gandawati, Banowati, Manikhara, Citrahoyi, Wilutama, Supraba, dan Dresanala. Tiga nama yang disebut terakhir adalah bidadari. Pada Wayang Golek Purwa Sunda, nama istri Arjuna lainnya adalah Puspawati, Srimedang, Manikarya, Suyakti, dan Partawati. Karena begitu banyak istri Arjuna, sampai-sampai Ki Dalang mengatakan, istri Arjuna saketi kurang siji, yang artinya satu juta kurang satu. Jadi ada 999.999 orang.

Walaupun sudah demikian banyak istrinya, karena ketampanan dan sikapnya yang lemah lembut, Arjuna tetap saja dicintai banyak wanita. Antara lain oleh iparnya sendiri, yaitu Dewi Banowati, istri Duryudana atau Suyudana. Bahkan ketika Banowati menikah dengan penguasa Kerajaan Astina itu, putri cantik itu minta agar Arjunalah yang memandikan dan meriasnya. Dewi Banowati baru terlaksana menjadi istri Arjuna setelah menjadi janda, seusai Baratayuda.

Dalam kehidupan perkawinan Arjuna, yang dianggap sebagai istri utama atau 'permaisuri' adalah Dewi Wara Subadra, adik Prabu Kresna. Tetapi perkawinan mereka tidak berjalan gampang karena sebenarnya ditentang oleh Prabu Baladewa. Raja Mandura ini ingin agar Dewi Subadra dinikahkan dengan Burisrawa, putra Prabu Salyapati. Kisah perkawinan itu dalam pewayangan diceritakan dalam satu lakon wayang tersendiri: Parta Krama. Meskipun Subadra bukan wanita pertama yang menjadi istrinya, dalam pewayangan adik Kresna itu dianggap sebagai permaisuri Arjuna.

Karena istrinya banyak, anak ketiga dari Pandu Dewanata itu juga banyak anaknya, kebanyakan laki-laki. Anak Arjuna yang terkenal antara lain adalah Abimanyu, Bambang Irawan, Bambang Sumitra, Wisanggeni, Bratalaras, Wilugangga, Priyambada, Wijanarka, dan Caranggana. Sedangkan anak perempuannya, antara lain Dewi Pregiwa dan Pregiwati. Semua anak laki-lakinya gugur dalam Baratayuda, tidak seorang pun yang hidup. Demikian pula salah seorang istrinya, Srikandi. Prajurit wanita yang berjasa karena mengalahkan Resi Bisma itu tewas dibunuh Aswatama pada saat tidur.

Dewi Banowati, Janda Prabu Anom Duryudana, yang hanya beberapa waktu menjadi istrinya juga mati dibunuh Aswatama. Tentang banyaknya istri Arjuna, budayawan dan penulis buku-buku wayang Soenarto Timoer berpendapat, bahwa itu hanya merupakan simbolisme. Sebagian besar istri Arjuna adalah putri pendeta, pertapa, yang merupakan guru Arjuna. Memperistri putri para resi yang menjadi gurunya, merupakan simbol dari keberhasilan Arjuna menyadap ilmu sang Guru. Pendapat seperti ini juga dianut banyak pecinta wayang lainnya di Indonesia.

Dalam Baratayuda, ketika mengetahui bahwa Abimanyu gugur secara aniaya, Arjuna mengamuk. Abimanyu adalah putra kesayangannya, yang diharapkan akan menjadi pewaris takhta Astina kelak. Jayadrata, yang telah menghancurkan tubuh Abimanyu dengan injakan kaki gajahnya dan meremukkan kepala anak sulungnya dengan pukulan gada Kyai Glinggang, diancam. Hari itu juga Arjuna mengumumkan tekadnya, bahwa pada peperangan esok hari, sebelum matahari terbenam ia harus sudah berhasil membunuh Jayadrata. Jika tak berhasil, ia akan bunuh diri, bela pati, dengan cara menerjunkan diri ke dalam kobaran api pembakar jenazah anaknya.

Sumpah dan ancaman Arjuna ini oleh Patih Sengkuni justru dipakai sebagai siasat untuk membunuh Arjuna. Esok harinya, Jayadrata dilarangnya turun ke gelanggang perang. Ia disembunyikan di sebuah benteng kokoh, dijaga ketat. Sementara itu untuk melindungi anaknya, Begawan Sapwani, ayah angkat Jayadrata, menciptakan seratus orang jadi-jadian yang semuanya amat mirip dengan Jayadrata. Menurut perhitungan Patih Sengkuni, kalau Arjuna gagal membunuh Jayadrata hari itu, sebagai seorang ksatria utama ia tentu akan menepati janjinya, bunuh diri. Kematian Arjuna tentu amat menguntungkan Kurawa. Akibat siasat yang diatur Sengkuni itu, sampai menjelang sore hari Arjuna tidak berhasil bertemu dengan pembunuh putranya itu.

Menyaksikan kenyataan itu Prabu Kresna mulai cemas. Jika tak berhasil membunuh Jayadrata, maka tidak bisa dicegah lagi Arjuna tentu akan melaksanakan janjinya: bunuh diri, bela-pati pada saat upacara pembakaran jenazah anak kesayangannya. Menjelang sore hari, Prabu Kresna kemudian menggunakan senjata pusakanya, Cakra untuk menghalangi sinar matahari. Suasana di medan perang pun gelap, seolah matahari telah terbenam. Pada saat itulah kepala Jayadrata muncul dari jendela benteng. Jayadrata merasa aman karena mengira hari telah senja dan matahari telah terbenam. Ia juga ingin menyaksikan Arjuna bunuh diri. Kesempatan ini tidak disia-siakan, secepat kilat Arjuna melepaskan anak panah Pasopati menebas leher Jayadrata hingga kepalanya terpotong, tewas seketika. Saat berikutnya, Prabu Kresna menarik kembali senjata Cakra sehingga suasana menjadi terang benderang kembali.

Riwayat Arjuna menurut versi Mahabarata pada beberapa bagian agak berbeda dengan pewayangan. Dalam Mahabarata antara lain disebutkan: Arjuna belajar ilmu perang dari Begawan Drona dan menjadi murid kesayangannya. Karena memenangkan lomba memanah, Arjuna memenangkan sayembara merebut putri mahkota Kerajaan Pancala (di pewayangan kerajaan ini disebut Cempala), Draupadi (di pewayangan disebut Dewi Drupadi). Sedangkan menurut cerita di pewayangan, yang memenangkan sayembara itu adalah Bima, karena berhasil mengalahkan Patih Gandamana, paman Dewi Drupadi. Di pewayangan sayembaranya bukan adu ketrampilan memanah, melainkan berperang tanding sampai mati.

Dalam Kitab Mahabarata, Arjuna juga merupakan salah seorang suami Dewi Drupadi. Menurut kesepakatan di antara para Pandawa, Dewi Drupadi secara bergilir menemani salah seorang dari mereka. Pada suatu hari, seorang brahmana mohon pertolongan pada Arjuna untuk menghadapi kawanan raksasa yang mengganggu pertapaan. Saat itu Arjuna dihadapkan pada pilihan sulit, karena untuk menolong brahmana itu, ia harus masuk ke kamar untuk mengambil senjatanya. Padahal saat itu kakak sulungnya, Yudistira, sedang berada di dalam kamar bersama Dewi Drupadi.

Setelah menimbang-nimbang, Arjuna akhirnya memasuki kamar dan mengambil senjatanya, lalu mengusir para raksasa pengganggu pertapaan. Sesudah selesai, segera ia menjumpai Yudistira dan Drupadi untuk memohon maaf, serta menyatakan siap menerima hukuman. Mereka memaafkannya dan tidak menjatuhkan hukuman apa pun. Tetapi Arjuna menyatakan, ia akan menghukum dirinya sendiri, dengan cara hidup dalam pengasingan selama 12 tahun. Karena bagian kisah ini menyangkut perihal masalah poliandri, maka pewayangan di Indonesia pada umumnya mengabaikan bagian ini. Menurut Kitab Mahabarata, Arjuna antara lain pernah berguru pada Begawan Parasurama (di pewayangan disebut Rama Parasu atau Rama Bargawa). Dari pertapa itu Arjuna memperoleh ilmu tentang cara mempergunakan senjata dan peralatan perang lainnya. Tetapi dalam pewayangan, Arjuna tak pernah berguru pada Rama Bargawa, karena Arjuna berdarah ksatria, sedangkan Rama Bargawa tidak mau menerima murid dari golongan ksatria.

Selain itu, dalam Mahabarata diceritakan pengembaraan Arjuna mencari ilmu juga sampai ke negeri Naga. Di sana ia bertemu dengan putri bangsawan suku Naga bernama Ulupi (di pewayangan disebut Dewi Palupi dan tinggal di Pertapaan Yasarata), dan menikahinya. Mereka berputra Irawat (dalam pewayangan disebut Bambang Irawan). Ketika di Kerajaan Manipura, Arjuna kawin dengan putri mahkota bernama Citranggada. Sebelum meninggalkan negeri Manipura, Citranggada melahirkan seorang putra bernama Babruwahana.

Pengembaraan Arjuna dalam usaha menambah ilmu sampai di negeri Dwaraka (Dwarawati). Di negeri ini Arjuna bertemu dengan Krishna, yang di kemudian hari menjadi pengemudi keretanya dalam Baratayuda di medan Kuruksetra dan sekaligus menjadi guru spiritualnya. Di negara Dwaraka, Arjuna menikah dengan adik Krishna, Dewi Subadra. Dari perkawinan ini lahir Abimanyu.

Arjuna meneruskan pengembaraannya. Dari Batara Agni ia memperoleh busur dan panah pusaka yang dinamakan Gandiwa. Hadiah ini diberikan kepada Arjuna berkat bantuannya kepada Batara Agni dalam melawan Batara Indra dengan membakar hutan Kandawa.

Selanjutnya Arjuna mendaki Gunung Himalaya. la berharap dapat bertemu dengan para dewata untuk memperoleh senjata sakti untuk melawan para Kurawa kelak bila masa pengasingannya telah usai. Di Gunung Himalaya ia menyerang Kirata (Kerata), orang gunung. Tatkala ia sadar siapa sebenarnya yang dihadapi, Arjuna menyembah Kirata, jelmaan Batara Siwa, dan mengakui kekhilafannya. Dari dewa ini Arjuna memperoleh senjata bernama Pasupata atau Pasopati, senjata yang ampuh. Mengetahui hal ini, Batara Indra, Batara Baruna (Waruna), Batara Yama dan Batara Kuwera berdatangan dan menghadiahkan berbagai senjata pusaka. Batara Indra kemudian mengajak Arjuna masuk ke dalam kereta gaib dan membawanya ke sorga, ke ibukota negeri Batara Indra, Amarawati. Di tempat ini Arjuna menghabiskan waktunya beberapa tahun untuk mempelajari ilmu perang, termasuk ilmu perang melawan raksasa dan makhluk halus di lautan. Batara Indra puas akan kemahiran Arjuna, lalu menghadiahkan sebuah mahkota bertakhtakan emas berlian dan berbagai pusaka sakti.

Dengan bantuan para gandarwa Hutan Wanamarta, dalam waktu singkat Kerajaan Amarta tumbuh menjadi negeri yang makmur dan luas jajahannya. Namun karena Pandawa kalah dan tertipu oleh Patih Sengkuni dalam permainan judi dadu, mereka kehilangan Kerajaan Amarta dan terpaksa menjalani pengasingan selama 12 tahun dalam hutan belantara. Pada masa pembuangan itulah Arjuna sering mengembara mencari ilmu. Sebagai hukuman terakhir dalam pengasingannya, di tahun ke-12, Pandawa harus sanggup menyamar sehingga tidak bisa ditemukan para Kurawa. Pandawa menyusup masuk ke wilayah Kerajaan Wirata. Di sini mereka menyamar. Yudistira menyamar sebagai ahli politik dan ketatanegaraan bernama Kangka. Ia menjadi penasihat tak resmi raja Wirata, Prabu Matswapati.

Bima menyaru sebagai pemotong hewan dan ahli masak bernama Balawa, dan Arjuna berperan sebagai banci yang mengajarkan musik dan tari. Waktu itu Arjuna menggunakan nama Brehanala. Sedangkan Nakula dan Sahadewa masing-masing menjadi gembala dan penjinak serta pelatih kuda. Ketika berada dalam masa penyamaran di Kerajaan Wirata ini, ada perbedaan cerita mengenai Arjuna dalam pewayangan dan pada Kitab Mahabarata. Menurut pewayangan, di negeri itu Arjuna menyamar sebagai banci. Tetapi menurut Kitab Mahabarata Arjuna benar-benar menjadi banci. Keadaan ini adalah akibat kutukan Dewi Uruwasi, salah satu bidadari kahyangan.

Kutukan itu kejadiannya begini:
Setelah berhasil membantu para dewa mengalahkan Prabu Niwatakawaca, Arjuna mendapat berbagai anugerah. Selain berbagai senjata pusaka, Arjuna diperkenankan tinggal dengan kedudukan setara raja di Kahyangan, dengan gelar Prabu Kariti. Di tempat ini banyak para bidadari yang terpikat pada ketampanan Arjuna. Dewi Uruwasi, salah satu bidadari yang paling agresif di kahyangan, suatu saat datang merayu Arjuna. Namun Arjuna tidak tergoda. Sang Bidadari menjelaskan bahwa rayuannya itu bukan godaan tetapi perujudan akan hausnya cinta. Dengan sopan Arjuna tetap menolak dengan mengatakan, menurutnya tidak pantas bilamana seorang pria manusia biasa bercinta dengan wanita golongan bidadari.

Dewi Uruwasi memberi alasan bahwa makhluk bidadari tidak terikat akan norma kepantasan yang dibuat manusia. Bidadari boleh bercinta dengan siapa saja, karena itu tidak ada halangan baginya untuk bercinta dengan Arjuna. Karena dengan penjelasan seperti itu Arjuna tetap tidak bersedia melayani hasrat cintanya, maks Dewi Uruwasi pun marah dan menjatuhkan kutukannya: "Sikapmu seperti banci saja ..."
Arjuna menjadi sedih dengan kutukan itu. Namun, Batara Indra Setelah mendengar adanya kutukan itu menghiburnya.
"Kelak dalam perjalanan hidupmu, suatu masa engkau harus menyamar. Dan, kutukan Dewi Uruwasi itu kelak sama sekali tidak akan merugikan engkau, sebaliknya justru akan menguntungkan."

Menurut Kitab Mahabarata, dalam Baratayuda Arjuna berhasil membunuh antara lain raja Trigata. Susarman dan 14 saudaranya, Kama, Jayadrata, dll. serta membantu Srikandi melumpuhkan Resi Bisma. Setelah perang dahsyat di Medan Kurusetra usai. Pandawa yang dipimpin Yudistira menyelenggarakan upacara Aswameda, yaitu upacara korban kuda. Sesudah itu para Pandawa pergi bertapa ke Gunung Himalaya. Sebelumnya, pemerintahan Kerajaan Astina diserahkan kepada putra mahkota, yaitu Parikesit, anak Abimanyu.
Begitu antara lain kisah Arjuna menurut Mahabarata.

Dalam pewayangan, sesudah Arjuna bersama sekalian saudaranya dan ibunya lolos dari usaha pembunuhan di Bale Sigala-gala, berkat pertolongan Sang Hyang Antaboga, mereka mengembara dari hutan ke hutan, hingga akhirnya tiba di wilayah Cempalaradya. Setelah berhasil mendapatkan Dewi Drupadi untuk diperistri Yudistira, Yama Widura, paman para Pandawa menjemput mereka kembali ke Astina. Atas saran Resi Bisma dan Yama Widura para Pandawa diberi tanah berupa Hutan Wanamarta. Bersama saudaranya yang lain, Arjuna ikut membabat Hutan Wanamarta. Saat itu Pandawa mendapat perlawanan dari makhluk halus penghuni hutan itu. Perlawanan makhluk halus itu amat merepotkan karena makhluk halus itu tidak terlihat. Untunglah ketampanan Arjuna menguntungkan seluruh Pandawa.

Waktu itu Dewi Jimambang, putri Begawan Wilwuk, seorang pertapa dari wilayah Kerajaan Pringgadani jatuh cinta kepadanya, dan mereka pun kawin. Dewi Jimambang inilah yang sebenarnya merupakan istri pertama Arjuna. Dari mertuanya Arjuna mendapat minyak pusaka Jayengkaton yang menyebabkannya sanggup melihat segala jenis makhluk halus. Karena minyak sakti itu pula Arjuna dan saudara-saudaranya dapat mengalahkan semua siluman gandarwa penghuni hutan angker itu. Dengan begitu pekerjaan membabat Hutan Wanamarta bisa dirampungkan dan Kerajaan Amarta dapat dibangun.

Dalam pewayangan Arjuna mempunyai banyak nama, antara lain: Permadi, Pamade, Janaka, Palguna, Anaga, Panduputra, Barata, Baratasatama, Danasmara, Dananjaya, Gudakesa, Ciptaning, Kritin, Kaliti, Kariti, Kumbawali, Kumbang Ali-ali, Kuntiputra, Kuruprawira, Kurusatama, Kurusreta, Mahabahu, Margana, Parantapa, dan Parta.

Arti nama-nama Arjuna dalam pewayangan antara lain Panduputra, karena ia anak Pandu: Kuntadi, karena ia memiliki senjata panah sakti; Palguna, karena ia pandai mengukur kekuatan lawan, Dananjaya, karena ia tidak mementingkan harta benda, Prabu Kariti, karena ia pernah diwisuda menjadi raja Tenjamaya — yaitu kahyangan para bidadari; Margana, karena ia dapat terbang walaupun tanpa sayap; Parta karena ia seorang yang berbudi luhur dan sentosa; Parantapa karena ia amat tekun bertapa; Kuruprawira dan Kurusatama karena ia adalah pahlawan Baratayuda yang dilangsungkan di Medan Kurusetra, Mahabahu karena walaupun tubuhnya tidak besar tetapi memiliki kekuatan yang dahsyat; nama Danasmara karena ia tak pernah menolak cinta wanita mana pun.

Dalam Wayang Golek Purwa Sunda Arjuna juga mempunyai banyak nama alias, di antaranya Bang-bang Manonbawa, Banjarasa, Lalumita, Banjarsekti, dan Enasabda. Para dalang Wayang Purwa di Indonesia umumnya menggunakan nama Permadi atau Pamade, untuk menyebut Arjuna ketika masih muda remaja, sebelum kawin dengan Dewi Subadra. Sedangkan nama Janaka atau Arjuna biasa digunakan untuk menyebut Arjuna setelah ia dewasa. Bima, abangnya, menggunakan nama panggilan khusus untuk Arjuna, yakni Jlamprong, yang artinya 'bulu merak'. Sedangkan Dewi Subadra sering menyebutnya 'bapakne kulup' yang artinya lebih kurang sama dengan 'bapaknya si Ucok'. Sementara Dewi Srikandi dan Larasati sering memanggilnya Pangeran, karena Arjuna memang seorang anak raja.

Ksatria berwajah tampan itu pada mulanya tinggal di Kasatrian Madukara. Namun setelah Baratayuda usai ia tinggal di Banakeling, kerajaan kecil yang sebelumnya diperintah oleh Jayadrata. Kasatrian Madukara semula adalah sebuah kerajaan yang diperintah oleh raja gandarwa atau raja jin bernama Kumbang Ali-ali atau Kumbawali. Setelah raja gandarwa ini dikalahkan, ia menyusup ke tubuh Arjuna, dan namanya digunakan sebagai nama alias.

Tentang anak-anak Arjuna yang banyak itu, dapat disebutkan antara lain: Abimanyu, putra tunggal hasil perkawinan dengan Dewi Subadra; dengan Dewi Larasati (Rarasati) seorang anak yaitu Brantalaras. Dengan Dewi Srikandi tidak berputra; dengan Dewi Ratri mendapat seorang putra diberi nama Bambang Wijanarka; dengan Dewi Palupi (ini perkawinan kedua) mendapat seorang putra bernama Bambang Irawan; dengan bidadari Dewi Dresanala berputra Bambang Wisanggeni; dengan Dewi Juwitaningrat berputra Bambang Senggoto; dengan Dewi Jimambang (ini perkawinan pertama) menghasilkan dua putra yakni Bambang Kumaladewa dan Bambang Kumalasekti; dengan bidadari Dewi Wilutama berputra Wilugangga; dengan bidadari Dewi Supraba menurunkan Bambang Prabaksuma; dengan Endang Manuhara mendapat dua orang putri, yakni Dewi Pergiwa dan Pergiwati; sedangkan dengan Dewi Banowati yang dikawininya setelah selesai Baratayuda, Arjuna tidak sempat mendapat anak karena Banowati tidak lama setelah dinikahinya tewas dibunuh Aswatama.

Walaupun demikian ada juga sebagian dalang yang secara tersamar menyebutkan bahwa dua orang anak Dewi Banowati yang resminya putra putri Prabu Anom Suyudana, sesungguhnya juga anak gelap Arjuna. Kedua anak itu adalah Lesmana Mandrakumara dan Dewi Lesmanawati. Dalang penganut versi ini, menyebutkan ketika Lesmana Mandrakumara lahir dan ternyata wajahnya mirip dengan dirinya, Arjuna lalu memohon pada para dewa agar setelah besar kelak bayi itu jangan mirip dirinya. Permohonan itu dikabulkan, karena para dewa telah banyak berhutang budi pada Arjuna. Menurut versi ini, Dewi Banowati sering berselingkuh dengan Arjuna, pada masa ia masih menjadi permaisuri Suyudana.

Selain berkemampuan terbang, Arjuna juga banyak memiliki senjata pusaka. Sebagian besar senjata itu pemberian para dewa, di antaranya, Pulanggeni, Pasopati, Kalanadah, Sarotama, Kalamisani. Keris Kyai Kalanadah yang dalam pewayangan dikatakan berasal dari taring Batara Kala, kemudian dihadiahkan kepada Gatotkaca sebagai 'kancing gelung' ketika putra Bima itu menikahi Dewi Pregiwa. Anak panah pusaka milik Arjuna juga cukup banyak, di antaranya adalah Pasopati, Sarutama, Ardadedali, dan Agnirastra. Cundamanik, anak panah pusaka yang semula milik Begawan Drona yang berasal dari pemberian Dewi Wilutama dan kemudian diwariskan pada Aswatama, akhirnya juga menjadi milik Arjuna, sebagai barang sitaan, seusai Baratayuda. Selain itu, anak panah Arya Sengkali adalah hadiah Begawan Drona bagi Arjuna.

Kisah perkawinan Arjuna dengan Dewi Subadra di pewayangan, agak jauh berbeda dengan yang diceritakan di Kitab Mahabarata. Menurut Kitab Mahabarata, Subadra bisa menjadi istrinya, setelah Arjuna menculik dan melarikannya pada suatu pesta. Peristiwa penculikan Subadra ini membuat Baladewa amat marah dan hendak menghukum ksatria Pandawa itu, namun Kresna mencegahnya. Setelah kemarahan Baladewa reda, Kresna justru mengundang Arjuna ke Dwaraka (Dwarawati) untuk merayakan pernikahan mereka secara pantas, sesuai dengan kedudukan Subadra selaku putri raja Mandura.

Menurut Empu Panuluh, dalam Kitab Hariwangsa yang merupakan lampiran dari Kitab Mahabarata, Arjuna pun sebenarnya juga merupakan titisan Batara Wisnu, sebagaimana halnya dengan Kresna. Menurut Empu Panuluh, sewaktu Kresna menculik Dewi Rukmini, raja Kumbina meminta tolong pada Pandawa agar bersedia menghadapi Kresna, merebut kembali Dewi Rukmini. Yudistira menyanggupi permintaan tolong itu, sehinggga Pandawa terpaksa berperang melawan Kresna. Baladewa, raja Mandura, membela Kresna dan berperang tanding melawan Bima. Keduanya mati sampyuh. Yudistira gugur sewaktu berperang tanding melawan Kresna. Waktu tiba giliran Arjuna berhadapan dengan Kresna, kesaktiannya ternyata seimbang. Sama kuat dan sama sakti. Karenanya Kresna lalu mengubah ujud dirinya menjadi Batara Wisnu. Arjuna pun tidak mau kalah, ia pun mengubah dirinya menjadi Wisnu, sehingga terjadilah perang tanding antara dua Batara Wisnu. Hal ini menyebabkan kahyangan geger clan para dewa terpaksa turun tangan melerainya. Sesudah dilerai para dewa, Arjuna diberi tahu bahwa menurut ketentuan para dewa Dewi Rukmini memang merupakan jodoh Kresna, tidak dapat diganggu gugat. Kresna, dengan Cangkok Wijayakusuma miliknya, lalu menghidupkan kembali Bima, Baladewa dan Yudistira. Intisari tulisan Empu Panuluh ini menyimpulkan bahwa sesungguhnya Arjuna pun memiliki sifat-sifat Wisnu. Tetapi berbeda dengan Kresna, sifat Wisnu pada Arjuna hampir tidak pernah muncul.

Dari sekian banyak anaknya, Arjuna paling sayang pada Abimanyu. Meskipun anak-anaknya yang laim tidak protes, Semar merasa perlu untuk menyadarkan Arjuna agar jangan membeda-bedakan anak dalam soal kasih sayang. Ini terjadi ketika Bambang Sumitra, anak Arjuna dari Dewi Larasati hendak kawin dengan Dewi Asmarawati. Waktu itu Arjuna menanggapi rencana pernikahan itu dengan tak acuh. Karenanya Semar lalu mengambil alih tugas pelaksanaan perkawinan itu. Dalam kapasitasnya sebagai Batara Ismaya ia minta bantuan beberapa orang dewa untuk membantu penyelenggaraanya. Selain itu Semar juga mengerahkan puluhan bidadari yang bertindak sebagai pelayan tamu pada perayaan pernikahan itu, sedangkan hidangan yang disajikan semuanya berasal dari kahyangan. Dengan cara diwelehake (disadarkan secara memalukan dan menyakitkan) ini, Arjuna isyaf bahwa kepada semua anaknya ia harus rata membagi kasih sayang dan perhatian.

Dalam seni kriya pewayangan di Pulau Jawa, rambut Arjuna bergelung Minangkara, mengenakan kain Kampuh Limar Sawo atau Limar Sumbul, kalungnya bernama Candra Katon, dan ikat pingpngnya Limar Ketanggi. Dalam seni kriya Wayang Kulit Purwa, tokoh Arjuna ditampilkan dalam beberapa wanda, yaitu wanda Kinanti, Jimat, Mangu, Renteng, Melati dan Janggleng. Sementara Arjuna muda, yang dalam pedalangan sering disebut Permadi, wandanya adalah Pengasih, Jimat, Pengawe, Pacel, Kinanti dan Penganten.

Selain itu ada juga Arjuna yang memakai samir, atau yang mengenakan selendang. Biasanya Arjuna semacam ini digunakan pada saat pergelaran lakon-lakon sewaktu Arjuna bertapa, dan kadang-kadang dipakai juga untuk peraga tokoh leluhur Pandawa, antara lain Manumayasa. Selain itu ada juga Arjuna lain yang mengenakan mahkota, mirip dengan yang dikenakan oleh Adipati Karna. Peraga wayang Arjuna makutan ini hanya digunakan pada pergelaran lakon Karna Tanding, yaitu salah satu lakon Baratayuda. Pada perang itu, menurut jalinan kisahnya, Arjuna memang mengenakan makhota, agar seimbang dengan lawannya, yaitu Adipati Karna. Perbedaan yang nyata antara bentuk Arjuna dan Permadi dalam seni kriya Wayang Kulit Purwa adalah Permadi atau Pamade mengenakan lebih banyak perhiasan, antara lain kelat bahu dan gelang. Sedangkan pakaian Arjuna lebih sederhana. Di masa tuanya, setelah ia lebih dikenal dengan nama Arjuna atau Janaka, ia hampir tidak mengenakan perhiasan apa pun.

Dalam pergelaran Wayang Orang gaya Surakarta, tokoh Arjuna diperankan oleh penari wanita, sedangkan di daerah Yogyakarta biasanya tokoh itu diperankan penari pria yang bertubuh ramping dan relatif kecil.

Berbagai lakon yang melibatkan Arjuna:
  • Arjuna Lahir
  • Arjuna Papa
  • Babad Wanamarta
  • Arjuna Pingit
  • Arjuna Terus
  • Janaka Banteng
  • Gajah Putih Srati Putri (Kurupati Rabi)
  • Alap-Alapan Rukmini
  • Alap-Alapan Setyaboma
  • Bambang Kandihawa
  • Parta Krama (Perkawinan Arjuna-Subadra)
  • Janaka Papat (Kate Kencana)
  • Babad Wisamarta
  • Semar Mbarang Jantur (Erawati Hilang)
  • Janaka Rangka
  • Janaka Sendang
  • Palguna - Palgunadi
  • Sindusena
  • Cekel Indralaya
  • Sidajati - Sidalamong
  • Pandu Pregola
  • Bambang Margana
  • Sukmadadari
  • Sumong
  • Bambang Manonbawa
  • Makuta Rama
  • Cocogan (Perkawinan Arjuna-Srikandi)
  • Cakranegara
  • Swarga Bandang
  • Alap-Alapan Larasati (Arjuna-Larasati)
  • Alap-Alapan Palupi (Arjuna-Palupi)
  • Arjuna Sendang (Arjuna-Bidadari)
  • Arjuna Wiwaha (Begawan Ciptoning)
  • Semar Minta Bagus
  • Alap-Alapan Surtikanti (Karna-Surtikanti)
  • Endang Werdiningsih (Baladewa Kawin)
  • Kangsa Adu Jago
  • Parta Dewa
  • Abimanyu Lena (Abimanyu Gugur)
  • Jayadrata Lena (Jayadrata Gugur)
  • Karna Tanding (Perang Arjuna-Karna)


 ARJUNA wanda Janggleng, Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta.


ARJUNA wanda Kanyut, Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta


ARJUNA wanda Janggleng, Wayang Kulit Purwa gagrak Yogyakarta



ARJUNA wanda Yudasmara, Wayang Kulit Purwa gagrak Yogyakarta


 ARJUNA wanda Kinanti, Wayang Kulit Purwa gagrak Yogyakarta


ARJUNA Topong, Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta


 ARJUNA Topong, Wayang Kulit Purwa gagrak Yogyakarta


 ARJUNA bermahkota, atau ArjunaTopong, 
digunakan ketika Arjuna berhadapan dengan Adipati Karna
dalam Bharatayuda. 


ARJUNA , gambar grafis Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta


 ARJUNA , gambar grafis Wayang Kulit Purwa gagrak Cirebon (kiri)
dan gandarwa Wiramaya (kanan) yang dikalahkan Arjuna dalam lakon Babad Alas Amerta.
Wanamaya kemudian menyatu dalam diri Arjuna.  


 ARJUNA, Wayang Kulit Purwa Bali  


ARJUNA, gambar grafis Wayang Kulit Purwa Bali 


 ARJUNA, dalam penampilan pada panggung sendratari dengan penari pria.
Tetapi di panggung wayang orang gaya Surakarta, biasanya diperankan penari wanita.


 ARJUNA, Wayang Golek Purwa Sunda  


 ARJUNA, gambar grafis bergaya buku komik, 
berdasarkan penampilan pada panggung Wayang Orang gaya Surakarta


Beberapa Ajian atau Ilmu yang dimiliki oleh Arjuna:
  •  Panglimunan atau Kemayan, untuk membuat dirinya tidak terlihat atau menghilang.
  • Sepiangin, dapat berjalan tanpa membuat jejak.
  • Tunggengmaya, dapat menciptakan sumber air.
  • Mayabumi, dapat memperbesar wibawa sehingga musuhnya takut sebelum berperang.
  • Mundri atau Maundri atau Pengantep-antep, dapat menambah berat tubuhnya, sehingga musuh tak kuat mengangkatnya.
  • Pengasihan, membuatnya dikasihi sesama makhluk.
  • Asmaracipta, menambah kemampuan olah pikir.
  • Asmaratantra, menambah kekuatan dalam peperangan.
  • Asmarasedya, menambah keteguhan hati menghadapi peperangan.
  • Asmaraturida, menambah kekuatan dalam berolah rasa.
  • Asmaragama, menambah kemampuan berolah asmara.
  • Anima, dapat membuat tubuh Arjuna mengecil sehingga tidak terlihat oleh mata.
  • Lahima, dapat membuat tubuh Arjuna menjadi ringan, sehingga ia dapat melayang.
  • Prapki, dapat membuat sampai kie tempat tujuan yang dinginkannya.
  • Matima, dapat megubah ujud dirinya.
  • Kamawasita, membuat Arjuna menjadi perkasa dalam berolah asmara.
{[['']]}

ARIMUKA

ARIMUKA dan Wahmuka adalah putra Prabu Darmamuka atau Prabu Darmahambara dari Kerajaan Giyantipura atau Kasipura. la mempunyai saudara empat orang, yaitu Wahmuka, Dewi Amba, Dewi Ambika, dan Dewi Ambalika. Arimuka dan Wahmuka lahir dengan ujud raksasa, sedangkan saudaranya yang perempuan lahir sebagai putri cantik.

Mengenai ketiga putri ini, nama mereka berbeda antara buku yang satu dengan lainnya. Ada yang menyebut nama mereka Dewi Ambalmi, Ambiki, dan Ambaliki; sementara buku lainnya mengatakan nama mereka Dewi Amba, Ambahini, dan Ambaliki. Wahmuka dan Arimuka memiliki kesaktian yang hebat. Bilamana salah satu di antara mereka mati, dan yang lain melompati mayat saudaranya, maka yang mati akan hidup kembali. Waktu saudara-saudaranya yang perempuan meningkat dewasa, atas izin Prabu Darmamuka, Arimuka dan Wahmuka sepakat mengadakan sayembara untuk mencari calon suami Amba, Ambika, dan Am-balika. Hanya pelamar yang sanggup mengalahkan Arimuka dan Wahmuka, akan dinikahkan dengan ketiga putri raja itu.

Wahmuka dan Arimuka memang sakti. Jika salah seorang di antara mereka mati, dan lainnya melompati jenasahnya, maka yang mati akan hidup kembali. Jadi, untuk membunuh mereka, hanya dilakukan secara bersamaan. Tetapi itu juga tidak mudah, karena Arimuka dan Wahmuka memiliki ilmu kebal. Banyak ksatria dan raja yang mengikuti sayembara itu, tetapi semuanya dapat dikalahkan oleh Arimuka dan Wahmuka. Baru sesudah seorang ksatria muda dari Kerajaan Astina bernama Dewabrata tampil, Arimuka dan Wahmuka kalah. Keduanya gugur karena dari Ki Lurah Semar, Dewabrata mendapat rahasia tentang bagaimana cara membunuh kedua raksasa kakak beradik itu. Menurut Semar, kedua raksasa sakti itu sebenarnya adalah penjelmaan air kawah dan ari-ari ketiga putri Prabu Darmamuka itu. Keduanya kebal, tidak mempan segala macam senjata. Oleh karena itu, untuk dapat membunuhnya kedua telapak tangan Dewabrata harus dilumuri dengan kunir (kunyit) dan apu (kapur sirih). Jika Dewabrata dapat memukul mereka bersama-sama sekaligus, maka Wahmuka dan Arimuka pasti akan mati. Ternyata saran Semar itu terbukti. Kedua raksasa itu mati dalam waktu bersamaan, dan tidak bangun lagi, sewaktu Dewabrata menempelengnya dalam waktu yang bersamaan.

Kisah tentang Arimuka dan Wahmuka ini berbeda benar dengan jalan cerita pada Kitab Mahabarata. Pada kitab itu tokoh Arimuka dan Wahmuka tidak ada. Lagi pula, untuk dapat mempersunting Dewi Amba, Ambika, dan Ambalika, yang diselenggarakan bukan sayembara perang tanding, melainkan sayembara pilih.
Pada sayembara pilih itu, para pelamar akan duduk berjajar, kemudian para putri raja itu akan mengalungkan untaian bunga pada pelamar yang dipilihnya.

Tetapi yang terjadi pada sayembara pilih di Kerajaan Giyantipura (di Kitab Mahabarata disebut negeri Kasi) itu yang terjadi adalah, tiba-tiba Dewabrata masuk ke ruangan, dan menggandeng ketiga putri itu.


Ditya Kala ARIMUKA, gambar grafis Wayang Kulit Purwa
gagrak Surakarta
{[['']]}

Arimbi, Dewi

ARIMBI, DEWI, adalah istri kedua Bima atau Bratasena. Perkawinan mereka membuahkan anak yang kemudian menjadi ksatria terkenal dalam pewayangan di Indonesia, yaitu Gatotkaca.

Arimbi sebenarnya seorang raksasa perempuan (raseksi, Bhs. Jawa). Ia adalah anak kedua Prabu Trembaka. Kakak sulungnya bernama Arimba, yang mewarisi takhta Kerajaan Pringgadani setelah Prabu Tremboko tewas dibunuh oleh Pandu Dewanata, raja Astina. Waktu Prabu Arimba berkelahi dengan Bima untuk membalas. kematian Prabu Tremboko, Dewi Arimbi berusaha mencegah. Ini disebabkan karena Arimbi jatuh cinta setelah melihat kegagahan Bima. Usaha melerai perkelahian itu tidak berhasil dan Arimba pun tewas. Sebelum ajal menjemput, Arimba berpesan pada Arimbi bahwa ia mewariskan takhta Pringgadani bagi adiknya itu. Selain itu Arimba pun merestui cinta adiknya pada Bima. Ia merasa bangga mati ditangan Bima yang berkelahi dengan jujur.
Pada mulanya cinta Arimbi pada Bima tidak mendapat sambutan. Tetapi Dewi Kunti yang arif, menyadari besarnya cinta Arimbi pada anaknya. Dewi Kunti pun berkata: "Aduh cantiknya gadis ini....." dan seketika itu pula Arimbi berubah ujud dari raksasa wanita menjadi putri cantik yang bertubuh tinggi besar. Dengan restu Kunti, Arimbi kemudian menjadi istri Bima. la juga menjadi ratu di Kerajaan Pringgadani. Sesudah Gatotkaca dewasa, takhta Pringgadani diserahkan oleh Arimbi kepadanya.

Tatkala mendengar berita gugurnya Gatotkaca di medan laga Baratayuda, Arimbi segera lari ke Kurusetra dan memeluk jasad anaknya sambil meraung keras. Tangisan Arimbi sebagai seorang raseksi terdengar jauh sampai di luar gelanggang Kurusetra. Dewi Arimbi kemudian minta ijin pada Bima, suaminya agar dibolehkan melakukan belapati pada saat pembakaran jenazah Gatotkaca. Menurut pewayangan, di antara nyala api pembakaran jenazah itu Bima menyaksikan arwah Dewi Arimbi dan Gatotkaca bergandengan menuju sorga.

Di Jawa Timur cerita mengenai Dewi Arimbi agak berbeda. Di sana Prabu Tremboko disebut Prabu Kala Baka. Arimbi merupakan anak ketiga, dan satu-satunya perempuan. Kedua abangnya adalah Kala Arumba dan Kala Arimba, sedangkan dua adiknya bernama Kala Prabakesa dan Kala Bendana. Karena Arimbi paling disayang ayahnya, sejak kecil ia sudah diberi mahkota. Berbeda dengan ayahnya, Kala Arumba dan Kala Arimba adalah pemangsa manusia. Larangan ayahnya tidak dipedulikan kedua abang Arimbi itu. Karena marah dan kecewa, Prabu Kala Baka lalu mengadakan sayembara, siapa yang dapat membunuh kedua anaknya yang durhaka itu, akan dikawinkan dengan Dewi Arimbi, dan akan dijadikan pewaris singgasana Pringgadani. Ternyata seorang ksatria gagah bernama Pujasena (sebutan populer Bima di Jawa Timur) berhasil. Kepala Kala Arumba dan Kala Arimba diadu, dibenturkan satu sama lainnya, sehingga keduanya tewas seketika (diadu kumba - Bhs Jawa).

Namun Pujasena tidak mau menerima hadiah yang disediakan. Takhta Pringgadani ditolak karena ia hanya membutuhkan dua bungkus nasi, sedangkan Dewi Arimbi ditolak karena ia tidak berkeinginan kawin dengan seorang raseksi. Dewi Kunti dibantu Puntadewa lalu merias Arimbi, sehingga raseksi itu menjelma menjadi wanita cantik. Dengan demikian Bima lalu menerimanya sebagai istri, sedangkan takhta Pringgadani kelak akan diberikan kepada anaknya yang akan lahir.

Dalam Mahabarata, Dewi Arimbi disebut Hi-dimbah atau Hidimbi dan tidak pernah berubah ujud menjadi wanita cantik. Dalam kitab itu Hidimbi selamanya berujud raksasa.

Di pentas Wayang Orang, pemeran Dewi Arimbi biasanya dipilih penari wanita yang bertubuh tinggi besar. Karma pada dasarnya Arimbi adalah seorang raseksi, pada seni kriya Wayang Kulit Purwa zaman dulu, Gatotkaca dilukiskan sebagai raksasa pula. Perubahan bentuk seni kriya wayang Gatotkaca menjadi ksatria gagah baru dilakukan pada akhir abad ke-19. Tetapi pada kotak perangkat Wayang Kulit Purwa yang lengkap, biasanya terdapat dua peraga wayang Arimbi, yakni ketika masih berupa raksasa, dan setelah menjadi putri cantik. Yang berujud raksasa, rambutnya diurai sampai ke kaki dengan hiasan grudha mungkur. Arimbi raksasa ini hanya ditampilkan pada lakon Arimba Lena. Sedangkan setelah cantik, dan tampil sebagai ibu Gatotkaca, ia dilukiskan dengan ujud wanita cantik.

Di Jawa Timur, peraga wayang Arimbi, baik yang rakseksi maupun yang putri cantik, keduanya mengenakan mahkota.


ARIMBI wanda sedet, dalam bentuk wanita cantik,
Wayang Kulit Purwa gagrak Yogyakarta 


DEWI ARIMBI sebagai putri cantik,
gambar grafis Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta


 DEWI ARIMBI dalam wujud raksasa,
gambar grafis Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta


 DEWI ARIMBI, ketika masih berujud raseksi, Wayang Kulit Purwa gagrak Jawatimuran.
Sebagai pewaris singgasana Kerajaan Pringgadani, Arimbi mengenakan mahkota. 


 DEWI ARIMBI, Wayang Golek Purwa Sunda 
{[['']]}

Arimba, Prabu

ARIMBA, PRABU, raja Pringgadani berujud raksasa. Ayahnya yang bernama Prabu Tremboko tewas dalam perang tanding melawan Prabu Pandu Dewanata, raja Astina. Ketika kemudian mendengar kabar bahwa para Pandawa, sedang membabat Hutan Wanamarta, Prabu Arimba pergi mencegat ke sana. Arimba bertemu dengan Bima dan tahu bahwa Bima adalah anak Pandu Dewanata. Kepada Bimalah ia hendak membalas dendam. Niatnya ini dicegah oleh Dewi Arimbi, adiknya, yang jatuh cinta pada Bima. Namun niat Arimba untuk membalas dendam tidak dapat dihalangi. Akhirnya raja raksasa itu tewas dalam perkelahian melawan Bima.Sebelum mati, Prabu Arimba menyatakan keikhlasan dan restunya pada maksud Dewi Arimbi untuk menjadi istri Bima. Walaupun gagal membalaskan dendamnya Arimba hormat pada Bima yang telah mengalahkannya dalam perkelahian secara jujur. Ia juga menyerahkan takhta Kerajaan Pringgadani pada Dewi Arimbi.

Pedalangan di Jawa Timur mempunyai versi yang berbeda tentang Arimba. Menurut versi Jawatimuran, Arimba bersama saudaranya Arumba dan Arimbi adalah anak Prabu Kala Baka. Mereka masih mempunyai dua orang adik, yaitu Kala Prabakesa dan Kala Bendana. Kedua adiknya ini, meskipun berujud raksasa, mempunyai sifat-sifat baik. Di antara kelima anaknya itu, Arimbilah yang paling disayang oleh Prabu Kala Baka. Arimba dan Arumba bahkan dimusuhi, karena keduanya gemar menyantap daging manusia. Karena merasa dibenci, Arimba dan Arumba berniat memberontak. Untuk menghadapi niat buruk kedua anaknya, Prabu Kala Baka mengumumkan sayembara, siapa saja yang dapat membunuh kedua anak durhaka itu akan dikawinkan dengan Arimbi, dan akan diwarisi takhta Kerajaan Pringgadani. Bima yang mengikuti sayembara itu akhirnya berperang tanding melawan kedua raksasa itu. Arimba dan Arumba tewas pada saat bersamaan, ketika kepala mereka diadu, dibenturkan satu sama lain. Jadi, menurut versi pedalangan gagrak Jawatimuran, Arimba tidak sempat menjadi raja.

Selain Arimbi, Prabu Arimba punya beberapa adik laki-laki, yaitu: Brajadenta, Brajamusti, Prabakesa Brajawikalpa, Brajalamatan, dan Kala Bendana.
Dalam Kitab Mahabarata, Prabu Arimba disebut Hidimba.


Ditya Kala ARIMBA, gambar grafis Wayang Kulit Purwa
gagrak Surakarta
{[['']]}

Antasena

ANTASENA, kadang-kadang disebut Anantasena, oleh sebagian pecinta wayang dianggap sebagai nama lain dari Antareja. Jadi, Antasena dianggap identik dengan Antareja. Versi ini menganut Kitab Pustakaraja, salah satu buku acuan pedalangan. Tetapi sebagian pecinta wayang yang lain, mengatakan Antasena adalah adik Antareja dari lain ibu. Menurut versi yang ini, yang menganut Kitab Purwakanda, ibu Antasena adalah Dewi Urangayu, putri Begawan Mintuna.

Para dalang di daerah Surakarta ke timur pada umumnya menganggap Antasena adalah nama lain dari Antareja. Sedangkan para dalang di Yogyakarta dan daerah sebelah baratnya, dan juga Wayang Golek Sunda, umumnya menganggap Antasena anak Bima dari Dewi Urangayu. Menurut pedalangan gagrak Yogyakarta yang berdasar Kitab Purwakanda, kelahiran Antasena bermula pada niat Resi Bisma untuk memberi kegiatan yang bermanfaat pada Kurawa dan Pandawa, yang waktu itu masih remaja, agar mereka tidak selalu bertengkar. Bisma membuat semacam perlombaan, menggali sungai dari daerah Kurujenggala di utara Astina sampai tembus ke Sungai Gangga.

Dalam penggalian sungai baru itu, para Pandawa diam-diam mendapat bantuan dari anak buah Begawan Mintuna, yakni puluhan ribu ketam, dan belut Dengan demikian pembuatan sungai oleh Pandawa itu dapat dikerjakan dengan lancar dan selesai sebelum waktunya. Sementara para Kurawa, yang juga mengerjakan pembuatan sungai itu dengan giat, mulanya merasa menang karena sungai buatan mereka telah tembus ke sebuah sungai besar yang dikiranya Sungai Gangga. Ternyata, sungai yang dikira Gangga itu sebenarnya adalah sungai buatan Pandawa. Resi Bisma menamakan sungai buatan Kurawa dengan sebutan Sungai Kelawing, sedangkan yang buatan Pandawa dinamai Sungai Serayu. Setelah peristiwa itu, Resi Mintuna memungut Bima sebagai menantunya, dan dikawinkan dengan putrinya yang bernama Dewi Urangayu. Perkawinan inilah yang membuahkan seorang anak, diberi nama Antasena. Dengan demikian, Antasena sesungguhnya adalah anak sulung Bima, karena ia lahir sebelum peristiwa Bale Sigala-gala.

Ketika masih bayi, Antasena pernah diangkat sebagai jago para dewa untuk melawan Prabu Kalarudra, dari Kerajaan Girikedasar. Antasena ternyata menang. Sebagai rasa terima kasih, para dewa menghadiahkan negeri Girikedasar pada Antasena, sedangkan Begawan Mintuna diangkat kedudukannya sederajat dengan para dewa. Dalam pewayangan Antasena akrab dengan Bambang Irawan, putra Arjuna dari Dewi Palupi. Sewaktu Irawan kawin dengan Dewi Titisari, putri Prabu Kresna. Antasena banyak membantunyaa Antara lain Antasena membawakan harimau berbulu putih yang digunakan sebagai mas kawin yang diminta oleh Dewi Titisari.

Dalam lakon Randa Widada Antasena ketika itu pernah menjadi pertapa di Padepokan Randuwatangan dengan nama Begawan Curiganata. Sama dengan nama yang digunakan Prabu Baladewa setelah lengser keprabon, dan menjadi pendeta. Nama 'Antasena' mengandung arti 'keprajuritan atau keperwiraan yang tidak terbatas'. Kata 'an' atau artinya 'tidak'; kata 'anta' artinya 'batas'; dan kata 'sena' atinya 'prajurit, keprajuritan, atau keperwiraan'. Tokoh Antasena, yang tidak terdapat dalam Kitab Mahabarata, menurut pewayangan mati muksa sebagai tumbal (korban) bagi kemenangan keluarga Pandawa, beberapa saat sebelum pecah Baratayuda. Dengan ikhlas ia memilih kematian dengan cara memandang mata kakek buyutnya, Sang Hyang Wenang. Saat itulah tubuhnya mengecil, dan akhirnya hilang.

Cara kematian Antasena ini amat mirip dengan Wisanggeni, anak Arjuna dari Dewi Dresanala. Dulu, sebelum tahun 1950-an, tokoh Antasena hanya dikenal pecinta wayang di daerah Yogyakarta dan wilayah sebelah baratnya yang dalang-dalangnya memakai Kitab Purwakanda sebagai acuannya. Tetapi kemudian dalang-dalang dari daerah lainnya yang menggunakan Kitab Pustakaraja sebagai acuan, termasuk daerah Surakarta, juga menganggap Antasena sebagai tokoh wayang tersendiri, tidak lagi identik dengan Antareja.


ANTASENA, Wayang Kulit Purwa gagrak Yogyakarta


ANTASENA, gambar grafis Wayang Kulit Purwa gagrak Banyumas


ANTASENA, gambar grafis Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta

{[['']]}

Antareja

ANTAREJA, terkadang disebut Anantaraja, anak sulung Bima dengan Dewi Nagagini, dulu, oleh sebagian dalang - terutama yang menganut gagrak Surakarta - dianggap sama atau identik dengan Antasena. Tetapi oleh sebagian dalang yang lain, yaitu gagrak Yogyakarta, dianggap berbeda. Pendapat yang kedua menganggap Antareja adalah kakak Antasena.

Sementara itu menurut Pustakaraja, Antareja adalah nama Antasena setelah dewasa. Jadi, seperti halnya panggilan Bratasena ketika Bima masih muda. Tetapi Purwacarita dan Purwakanda, jelas-jelas menyebutkan bahwa Antareja adalah anak sulung Bima, sedangkan Antasena adalah anak bungsunya. Pedalangan gagrak Yogyakarta memang banyak menganut Kitab Purwakanda. Antareja tidak tinggal bersama ayahnya, melainkan tetap di Kahyangan Saptapratala bersama kakeknya, Hyang Antaboga, dan ibunya. Kesaktian Antareja luar biasa. Semburan ludahnya yang mengandung bisa, akan mematikan siapa saja yang terkena. Bahkan tanah bekas telapak kaki orang yang dijilatnya pun akan menyebabkan si empunya tapak akan meninggal seketika. Antareja bahkan juga dapat menghidupkan orang mati, jika garis ajalnya belum sampai. Kemampuan menghidupkan orang mati sebelum ajalnya ini disebabkan karena Antareja memiliki air suci Tirta Amerta, hadiah dari kakeknya. Dalam lakon Sembadra Larung, ia menghidupkan kembali Wara Subadra yang telah mati dibunuh Burisrawa.

Ketika masih bayi Antareja pernah diadu melawan raja Jangkarbumi bernama Prabu Nagabaginda. Sebelum bertarung, Antareja lebih dulu dikulum oleh kakeknya sehingga tubuhnya basah oleh air liur Sang Hyang Antaboga. Dengan begitu tubuh Antareja menjadi licin dan kebal. Dalam pertarungan ini Antareja menang, sehingga Kerajaan Jangkarbumi menjadi miliknya. Walaupun demikian, hampir sepanjang hidupnya ia tinggal bernama kakeknya di Kahyangan Saptapertala. Karena kesaktiannya, yang tak tertandingi oleh siapa pun itu, para dewa bingung. Dalam perang besar yang disebut Baratayuda, Antareja tentu akan mengacaukan suratan rencana para dewa yang tertulis pada Kitab Jiptasara. Anak sulung Bima itu tentu akan dapat membunuh siapa saja. Padahal menurut Kitab Jiptasara, yakni buku yang berisi suratan nasib setiap orang yang ikut dalam Baratayuda, Antareja akan berhadapan dengan Prabu Baladewa. Karena itu Prabu Kresna yang berhasil mempelajari isi Kitab Jiptasara, berusaha mencari jalan keluarnya.

Prabu Kresna berpendapat, bagaimana pun Antareja tentu akan muncul dalam Baratayuda karena ia tentu merasa berkewajiban membela keluarga besar Pandawa. Satu-satunya cara untuk mencegah keikutsertaan Antareja dalam perang besar itu, menjelang Baratayuda Antareja harus sudah mati. Untuk menyelamatkan abangnya, Prabu Kresna dengan tipu muslihat secara tidak langsung membunuh Antareja. Kresna menanyakan kepada anak sulung Bima itu apakah ia mau berkorban jiwa demi kejayaan para Pandawa. Antareja berkata sanggup. Kresna lalu menyuruhnya menjilat telapak kaki sendiri.

Istri Antareja bernama Dewi Ganggi, putri Prabu Ganggapranawa, raja ular dari negeri Tawingnarmada. Dari perkawinan ini mereka mendapat seorang anak bernama Arya Danurwenda. Kelak Danurwenda menjadi salah seorang patih di Astina, pada zaman pemerintahan Parikesit. Sementara itu, ada dalang yang menyebutkan bahwa istri Antareja adalah Dewi Sridantari, adik Prabu Sridenta, raja Jumapala.

Pada Wayang Parwa Bali, Antareja mempunyai nama alias Windusegara. Tokoh Antareja tidak terdapat dalam Kitab Mahabarata. Dalam pewayangan, tokoh-tokoh yang tidak terdapat dalam Mahabarata, yaitu tokoh ciptaan pujangga Indonesia sendiri, semuanya 'dimatikan' menjelang berlangsungnya Baratayuda. Karena jika tidak demikian, alur cerita Baratayuda menjadi kacau. Selain Antareja, tokoh yang harus mati sebelum Baratayuda, adalah Antasena dan Wisanggeni.

Nama Antareja artinya yang memiliki kekuasaan atau kesaktian yang tidak terbatas. Karena kata 'an' atau 'a' artinya 'tidak'; kata 'anta' artinya 'batas'; kata 'reja' artinya 'kuasa, kekuasaan, atau kesaktian'.
Dalam seni kriya Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta, Antareja dilukiskan dalam dua wanda, yakni wanda Jaka dan Guntur. Wanda Jaka untuk adegan rembagan, sedangkan wanda Guntur untuk adegan perang. Sedangkan pada Wayang Kulit Purwa gagrak Yogyakarta terdapat empat wanda, yakni wanda Jaka, Indu, Wisuna dan Naga. Walaupun demikian, sosok peraga wayang Antareja di berbagai daerah digambarkan dalam bentuk yang cukup banyak perbedaannya, baik bentuk maupun sunggingannya.

Di Jawa Timur, pada seni kriyanya, wayang Antareja ditampilkan dua macam, yaitu Antareja dalam keadaan biasa, dan yang dalam keadaan marah atau sedang triwikrama. Antareja yang biasa, hampir serupa dengan wayang gagrak Surakarta. Tetapi yang sedang marah, raut wayahnya menyerupai moncong naga, lengkap dengan lidahnya yang bercabang. Bentuk wayang Antareja serupa ini khas Jawa Timur. Selain pada Wayang Purwa, dalam Wayang Gedog juga ada tokoh bernama Antareja, yaitu salah seorang cucu Prabu Amiluhur, raja Jenggala, dari salah seorang selir. Antareja Wayang Gedog adalah putra ketiga Wasi Curiganata. Curiganata yang ini pun, bukan Curiganata yang juga ada pada Wayang Purwa.

Lakon-lakon yang melibatkan Antareja:
  • Antareja Lahir
  • Sembadra Larung
  • Antareja Krama
  • Irawan Maling
  • Jangkar Bumi
  • Wisanggeni Krama
  • Prabu Sumilih (Gatotkaca Nagih Janji)


ANTAREJA wanda Hindu, Wayang Kulit Purwa gagrak Yogyakarta
(koleksi Keraton Yogyakarta)
 ANTAREJA wanda Wisuna, Wayang Kulit Purwa gagrak Yogyakarta
(koleksi Keraton Yogyakarta)
 ANTAREJA Kyai Inten, Wayang Kulit Purwa gagrak Yogyakarta
ANTAREJA wanda Naga, Wayang Kulit Purwa gagrak Yogyakarta
(koleksi Keraton Yogyakarta) 
ANTAREJA, Wayang Kulit Purwa gagrak Cirebon
 ANTAREJA, Wayang Kulit Purwa gagrak Banyumas


 ANTAREJA, Wayang Kulit Purwa gagrak Jawa Timur


 ANTAREJA saat tiwikrama, Wayang Kulit Purwa gagrak Jawa Timur
 ANTAREJA, Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta
 ANTAREJA, gambar grafis Wayang Kulit Purwa gagrak Jawa Timur
 ANTAREJA, gambar grafis Wayang Kulit Purwa gagrak Cirebon
 ANTAREJA, gambar grafis Wayang Kulit Purwa gagrak Banyumas
 ANTAREJA, Wayang Golek Purwa Sunda
ANTAREJA, gambar grafis bergaya buku komik wayang
berdasarkan penampilan pada panggung Wayang Orang gaya Surakarta. 
{[['']]}

Antagopa, Demang

ANTAGOPA, DEMANG, dikenal dalam dunia pewayangan karena ia mendapat tugas dari Prabu Basudewa untuk mengasuh dan mendidik, sekaligus menyembunyikan tiga orang putranya. Ketiga putra raja Mandura itu, Kakrasana, Narayana, dan Rara Ireng atau Bratajaya, terancam keselamatannya karena menjadi sasaran usaha pembunuhan yang akan dilakukan oleh Kangsa. Dengan berbagai kesulitan, Antaboga dan istrinya berhasil menunaikan tugas itu dengan baik.

Selain itu Demang Antagopa juga berjasa pada Kerajaan Mandura karena dianggap menyelamatkan nama baik kerajaan. Ia bersedia menjadi suami Ken Sayuda, dayang istana yang terlibat skandal dengan Aryaprabu Rukma, Ugrasena, Basudewa, dan bahkan juga dengan Prabu Basukunti sendiri. Skandal itu mengakibatkan Ken Sayuda melahirkan lima orang anak gelap, yakni Pragota, Prabawa, Udawa, Adimenggala, dan Rarasati atau Larasati. Setelah menjadi istri Demang Antagopa, nama Ken Sayuda diganti menjadi Nyai Segopi. Sebelum diserahi mengasuh tiga putra Basudewa, Antagopa telah lebih dulu mengasuh Dewi Larasati, yang sebenarnya putri gelap Ugrasena, adik Basudewa. Karena jasanya menyelamatkan nama baik keluarga Kerajaan Mandura itulah, Antagopa yang semula hanya seorang penggembala ternak, diangkat menjadi demang di Widarakandang.

Nama Antagopa artinya adalah penjaga perbatasan atau gembala. Kata 'anta' artinya 'batas', sedangkan kata 'gopa' artinya 'penjaga'. Sementara itu 'gopa' juga bisa berarti lain, karena kata 'go' artinya 'sapi'; dan kata 'pa' artinya 'penjaga'. Dalam seni kriya Wayang Kulit Purwa gagrak Yogyakarta, tokoh Antagopa dirupakan dalam wanda Boren.

Catatan:
Demang, jabatan semacam camat di masa kini. Menurut Kitab Hariwangsa yang merupakan lampiran Kitab Mahabarata, Antagopa yang dalam kitab itu disebut Gopa dan istrinya yang bernama Yasoda, hanya dititipi bayi Krishna (Kresna). Mereka tinggal di Desa Wajra, di tepi Kerajaan Mathura. Sedangkan bayi Baladewa, diberikan oleh Dewi Nendra, seorang dewi yang berkuasa atas rasa ngantuk, kepada Rohini, salah seorang istri Basudewa (Vasudewa) yang tidak ikut dipenjara.





 Demang ANTAGOPA, gambar grafis Wayang Kulit Purwa
gagrak Surakarta.

   
{[['']]}

Antaga, Sang Hyang

ANTAGA, SANG HYANG, nama lain dari Togog, panakawan bagi golongan jahat. Dalam pewayangan, Togog juga disebut Hyang Maha Punggung. Sebagai dewa, Sang Hyang Antaga tinggal di Kahyangan Sabaluri. Ia adalah putra sulung Sang Hyang Tunggal, sedangkan ibunya bernama Dewi Rekatawati.
Sang Hyang Antaga mempunyai adik bernama Sang Hyang Ismaya alias Semar, sedangkan adiknya yang bungsu bernama Sang Hyang Manikmaya alias Batara Guru.

Menurut buku Pakem Pedalangan Lampahan Wayang Purwa karangan S. Probohardjono, ketika dunia terbentuk, Hyang Maha Kawasa menciptakan empat sosok makhluk yang berujud manusia. Yang berasal dari cahya menjadi Sang Hyang Narada, yang berasal dari teja menjadi Sang Hyang Antaga, yang berasal dari manik menjadi Sang Hyang Guru, sedangkan yang berasal dari maya menjadi Sang Hyang Ismaya.
Namun yang lebih sering dipergelarkan di pedalangan adalah versi yang menyebutkan bahwa Sang Hyang Antaga adalah anak Sang Hyang Tunggal. Kakeknya bernama Sang Hyang Wenang, sedangkan kakek buyutnya adalah Sang Hyang Nurrasa.

Versi yang lebih sering tampil dalam pedalangan di Pulau Jawa adalah versi yang terakhir ini, yang bersumber pada Serat Kanda dan Pustaka Raja Purwa.


SANG HYANG ANTAGA, Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta.
{[['']]}

Antaboga, Sang Hyang

ANTABOGA, SANG HYANG, atau Sang Sang Nagasesa atau Sang Hyang Anantaboga atau Sang Hyang Basuki adalah dewa penguasa dasar bumi. Dewa itu beristana di Kahyangan Saptapratala, atau lapisan ke tujuh dasar bumi. Dari istrinya yang bernama Dewi Supreti, ia mempunyai dua anak, yaitu Dewi Nagagini dan Naga Tatmala. Dalam pewayangan disebutkan, walaupun terletak di dasar bumi, keadaan di Saptapratala tidak jauh berbeda dengan di kahyangan lainnya.

Sang Hyang Antaboga adalah putra Anantanaga. Ibunya bernama Dewi Wasu, putri Anantaswara.
Walaupun dalam keadaan biasa Sang Hyang Antaboga serupa dengan ujud manusia, tetapi dalam keadaan triwikrama, tubuhnya berubah menjadi ular naga besar. Selain itu, setiap 1000 tahun sekali, Sang Hyang Antaboga berganti kulit (jw. m1ungsungi). Dalam pewayangan, dalang menceritakan bahwa Sang Hyang Antaboga memiliki Aji Kawastrawam, yang membuatnya dapat menjelma menjadi apa saja, sesuai dengan yang dikehendakinya. Antara lain ia pernah menjelma menjadi garangan putih (semacam musang hutan atau cerpelai) yang menyelamatkan Pandawa dan Kunti dari amukan api pada peristiwa Bale Sigala-gala.
Putrinya, Dewi Nagagini, menikah dengan Bima, orang kedua dalam keluarga Pandawa. Cucunya yang lahir dari Dewi Nagagini bernama Antareja atau Anantaraja.

Sang Hyang Antaboga mempunyai kemampuan menghidupkan orang mati yang kematiannya belum digariskan, karena ia memiliki air suci Tirta Amerta. Air sakti itu kemudian diberikan kepada cucunya Antareja dan pernah dimanfaatkan untuk menghidupkan Dewi Wara Subadra yang mati karena dibunuh Burisrawa dalam lakon Subadra Larung.
Sang Hyang Antaboga pernah dimintai tolong Batara Guru menangkap Bambang Nagatatmala, anaknya sendiri. Waktu itu Nagatatmala kepergok sedang berkasih-kasihan dengan Dewi Mumpuni, istri Batara Yamadipati. Namun para dewa gagal menangkapnya karena kalah sakti. Karena Nagatatmala memang bersalah, walau itu anaknya, Sang Hyang Antaboga terpaksa menangkapnya. Namun Dewa Ular itu tidak menyangka Batara Guru akan menjatuhkan hukuman mati pada anaknya, dengan memasukkannya ke Kawah Candradimuka. Untunglah Dewi Supreti, istrinya, kemudian menghidupkan kembali Bambang Nagatatmala dengan Tirta Amerta.

Batara Guru juga pernah mengambil kulit yang tersisa ketika Sang Hyang Antaboga mlungsungi dan menciptanya menjadi makhluk ganas yang mengerikan. Batara Guru menamakan makhluk ganas Aji Candrabirawa.   
Sang Hyang Antaboga, ketika masih muda disebut Nagasesa. Walaupun ia cucu Sang Hyang Wenang, ujudnya tetap seekor naga, karena ayahnya yang bernama Antawisesa juga seekor naga. Ibu Nagasesa bernama Dewi Sayati, putri Sang Hyang Wenang.
Suatu ketika para, dewa berusaha mendapatkan Tirta Amerta yang membuat mereka bisa menghidupkan orang mati. Guna memperoleh Tirta Amerta para dewa harus mengebor dasar samudra. Mereka mencabut Gunung Mandira dari tempatnya, dibawa ke samudra, dibalikkan sehingga puncaknya berada di bawah, lalu memutarnya untuk melubangi dasar samudra itu. Namun setelah berhasil memutamya, para dewa tidak sanggup mencabut kembali gunung itu. Padahal jika gunung itu tidak bisa dicabut, mustahil Tirta Amerta dapat diambil. Pada saat para dewa sedang bingung itulah Nagasesa datang membantu. Dengan cara melingkarkan badannya yang panjang ke gunung itu dan membetotnya ke atas, Nagasesa berhasil menjebol Gunung Mandira, dan kemudian menempatkannya di tempat semula. Dengan demikian para dewa dapat mengambil Tirta Amerta yang mereka inginkan. Itu pula sebabnya, Nagasesa yang kelak lebih dikenal dengan nama Sang Hyang Antaboga juga memiliki Tirta Amerta.

Jasa Nagasesa yang kedua adalah ketika ia menyerahkan Cupu Linggamanik kepada Batara Guru. Para dewa memang sangat menginginkan cupu mustika itu. Waktu itu Nagasesa sedang bertapa di Guwaringrong dengan mulut terbuka. Tiba-tiba melesatlah seberkas cahaya terang memasuki mulutnya. Nagasesa langsung mengatupkan mulutnya, dan saat itulah muncul Batara Guru. Dewa itu menanyakan kemana perginya cahaya berkilauan yang memasuki Guwaringrong. Nagasesa menjawab, cahaya mustika itu ada pada dirinya dan akan diserahkan kepada Batara Guru, bilamana pemuka dewa itu mau memeliharanya baik-baik. Batara Guru menyanggupinya, sehingga ia mendapatkan Cupu Linggamanik yang semula berujud cahaya itu.
Cupu Linggamanik sangat penting bagi para dewa, karena benda itu mempunyai khasiat dapat membawa ketentraman di kahyangan. Itulah sebabnya semua dewa di kahyangan merasa berhutang budi pada kebaikan hati Nagasesa.
Karena jasa-jasanya itu para dewa lalu menghadiahi Nagasesa kedudukan yang sederajat dengan para dewa, dan berhak atas gelar Batara atau Sang Hyang. Sejak itu ia bergelar Sang Hyang Antaboga. Para dewa juga memberinya hak sebagai penguasa alam bawah tanah. Tidak hanya itu, oleh para dewa Nagasesa juga diberi Aji Kawastram yang membuatnya sanggup mengubah ujud dirinya menjadi manusia atau makhluk apa pun yang dikehendakinya.
Untuk membangun ikatan keluarga, para dewa juga menghadiahkan seorang bidadari bernama Dewi Supreti sebagai istrinya.
Perlu diketahui, cucu Sang Hyang Antaboga, yakni Antareja, hanya terdapat dalam pewayangan di Indonesia. Dalam Kitab Mahabarata, Antareja tidak pernah ada, karena tokoh itu memang asli ciptaan nenek moyang orang Indonesia.

Sang Hyang Antaboga pernah berbuat khilaf ketika dalam sebuah lakon carangan terbujuk hasutan Prabu Boma Narakasura, cucunya, untuk meminta Wahyu Senapati pada Batara Guru. Bersama dengan menantunya, Prabu Kresna, yang suami Dewi Pertiwi, Antaboga berangkat ke kahyangan. Ternyata Batara Guru tidak bersedia memberikan wahyu itu pada Boma, karena menurut pendapatnya Gatotkaca lebih pantas dan lebih berhak. Selisih pendapat yang hampir memanas ini karena Sang Hyang Antaboga hendak bersikeras, tetapi akhimya silang pendapat itu dapat diredakan oleh Batara Narada. Wahyu Senapati tetap diperuntukkan bagi Gatotkaca.
Nama Antaboga atau Anantaboga artinya (naga yang) kelokannya tidak mengenal batas. Kata 'an' atau artinya tidak; kata 'anta' artinya batas; sedangkan kata 'boga' atau 'bhoga' atinya kelokan. Yang kelokannya tidak mengenal batas, maksudnya adalah ular naga yang besarnya luar biasa.


SANG HYANG ANTABOGA, Wayang Kulit Purwa gagrak Yogyakarta,
Wayang Kyai Inten.

ANTABOGA, Wayang Kulit Purwa gagrak Yogyakarta.


SANG HYANG ANTABOGA dalam bentuk ular naga,
Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta .

SANG HYANG ANTABOGA, gambar grafis Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta.

SANG HYANG ANTABOGA, Wayang Golek Purwa Sunda.
{[['']]}

About

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Blvckshadow - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger