Latest update :
Recent Updates

Arimbi, Dewi

ARIMBI, DEWI, adalah istri kedua Bima atau Bratasena. Perkawinan mereka membuahkan anak yang kemudian menjadi ksatria terkenal dalam pewayangan di Indonesia, yaitu Gatotkaca.

Arimbi sebenarnya seorang raksasa perempuan (raseksi, Bhs. Jawa). Ia adalah anak kedua Prabu Trembaka. Kakak sulungnya bernama Arimba, yang mewarisi takhta Kerajaan Pringgadani setelah Prabu Tremboko tewas dibunuh oleh Pandu Dewanata, raja Astina. Waktu Prabu Arimba berkelahi dengan Bima untuk membalas. kematian Prabu Tremboko, Dewi Arimbi berusaha mencegah. Ini disebabkan karena Arimbi jatuh cinta setelah melihat kegagahan Bima. Usaha melerai perkelahian itu tidak berhasil dan Arimba pun tewas. Sebelum ajal menjemput, Arimba berpesan pada Arimbi bahwa ia mewariskan takhta Pringgadani bagi adiknya itu. Selain itu Arimba pun merestui cinta adiknya pada Bima. Ia merasa bangga mati ditangan Bima yang berkelahi dengan jujur.
Pada mulanya cinta Arimbi pada Bima tidak mendapat sambutan. Tetapi Dewi Kunti yang arif, menyadari besarnya cinta Arimbi pada anaknya. Dewi Kunti pun berkata: "Aduh cantiknya gadis ini....." dan seketika itu pula Arimbi berubah ujud dari raksasa wanita menjadi putri cantik yang bertubuh tinggi besar. Dengan restu Kunti, Arimbi kemudian menjadi istri Bima. la juga menjadi ratu di Kerajaan Pringgadani. Sesudah Gatotkaca dewasa, takhta Pringgadani diserahkan oleh Arimbi kepadanya.

Tatkala mendengar berita gugurnya Gatotkaca di medan laga Baratayuda, Arimbi segera lari ke Kurusetra dan memeluk jasad anaknya sambil meraung keras. Tangisan Arimbi sebagai seorang raseksi terdengar jauh sampai di luar gelanggang Kurusetra. Dewi Arimbi kemudian minta ijin pada Bima, suaminya agar dibolehkan melakukan belapati pada saat pembakaran jenazah Gatotkaca. Menurut pewayangan, di antara nyala api pembakaran jenazah itu Bima menyaksikan arwah Dewi Arimbi dan Gatotkaca bergandengan menuju sorga.

Di Jawa Timur cerita mengenai Dewi Arimbi agak berbeda. Di sana Prabu Tremboko disebut Prabu Kala Baka. Arimbi merupakan anak ketiga, dan satu-satunya perempuan. Kedua abangnya adalah Kala Arumba dan Kala Arimba, sedangkan dua adiknya bernama Kala Prabakesa dan Kala Bendana. Karena Arimbi paling disayang ayahnya, sejak kecil ia sudah diberi mahkota. Berbeda dengan ayahnya, Kala Arumba dan Kala Arimba adalah pemangsa manusia. Larangan ayahnya tidak dipedulikan kedua abang Arimbi itu. Karena marah dan kecewa, Prabu Kala Baka lalu mengadakan sayembara, siapa yang dapat membunuh kedua anaknya yang durhaka itu, akan dikawinkan dengan Dewi Arimbi, dan akan dijadikan pewaris singgasana Pringgadani. Ternyata seorang ksatria gagah bernama Pujasena (sebutan populer Bima di Jawa Timur) berhasil. Kepala Kala Arumba dan Kala Arimba diadu, dibenturkan satu sama lainnya, sehingga keduanya tewas seketika (diadu kumba - Bhs Jawa).

Namun Pujasena tidak mau menerima hadiah yang disediakan. Takhta Pringgadani ditolak karena ia hanya membutuhkan dua bungkus nasi, sedangkan Dewi Arimbi ditolak karena ia tidak berkeinginan kawin dengan seorang raseksi. Dewi Kunti dibantu Puntadewa lalu merias Arimbi, sehingga raseksi itu menjelma menjadi wanita cantik. Dengan demikian Bima lalu menerimanya sebagai istri, sedangkan takhta Pringgadani kelak akan diberikan kepada anaknya yang akan lahir.

Dalam Mahabarata, Dewi Arimbi disebut Hi-dimbah atau Hidimbi dan tidak pernah berubah ujud menjadi wanita cantik. Dalam kitab itu Hidimbi selamanya berujud raksasa.

Di pentas Wayang Orang, pemeran Dewi Arimbi biasanya dipilih penari wanita yang bertubuh tinggi besar. Karma pada dasarnya Arimbi adalah seorang raseksi, pada seni kriya Wayang Kulit Purwa zaman dulu, Gatotkaca dilukiskan sebagai raksasa pula. Perubahan bentuk seni kriya wayang Gatotkaca menjadi ksatria gagah baru dilakukan pada akhir abad ke-19. Tetapi pada kotak perangkat Wayang Kulit Purwa yang lengkap, biasanya terdapat dua peraga wayang Arimbi, yakni ketika masih berupa raksasa, dan setelah menjadi putri cantik. Yang berujud raksasa, rambutnya diurai sampai ke kaki dengan hiasan grudha mungkur. Arimbi raksasa ini hanya ditampilkan pada lakon Arimba Lena. Sedangkan setelah cantik, dan tampil sebagai ibu Gatotkaca, ia dilukiskan dengan ujud wanita cantik.

Di Jawa Timur, peraga wayang Arimbi, baik yang rakseksi maupun yang putri cantik, keduanya mengenakan mahkota.


ARIMBI wanda sedet, dalam bentuk wanita cantik,
Wayang Kulit Purwa gagrak Yogyakarta 


DEWI ARIMBI sebagai putri cantik,
gambar grafis Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta


 DEWI ARIMBI dalam wujud raksasa,
gambar grafis Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta


 DEWI ARIMBI, ketika masih berujud raseksi, Wayang Kulit Purwa gagrak Jawatimuran.
Sebagai pewaris singgasana Kerajaan Pringgadani, Arimbi mengenakan mahkota. 


 DEWI ARIMBI, Wayang Golek Purwa Sunda 
{[['']]}

Arimba, Prabu

ARIMBA, PRABU, raja Pringgadani berujud raksasa. Ayahnya yang bernama Prabu Tremboko tewas dalam perang tanding melawan Prabu Pandu Dewanata, raja Astina. Ketika kemudian mendengar kabar bahwa para Pandawa, sedang membabat Hutan Wanamarta, Prabu Arimba pergi mencegat ke sana. Arimba bertemu dengan Bima dan tahu bahwa Bima adalah anak Pandu Dewanata. Kepada Bimalah ia hendak membalas dendam. Niatnya ini dicegah oleh Dewi Arimbi, adiknya, yang jatuh cinta pada Bima. Namun niat Arimba untuk membalas dendam tidak dapat dihalangi. Akhirnya raja raksasa itu tewas dalam perkelahian melawan Bima.Sebelum mati, Prabu Arimba menyatakan keikhlasan dan restunya pada maksud Dewi Arimbi untuk menjadi istri Bima. Walaupun gagal membalaskan dendamnya Arimba hormat pada Bima yang telah mengalahkannya dalam perkelahian secara jujur. Ia juga menyerahkan takhta Kerajaan Pringgadani pada Dewi Arimbi.

Pedalangan di Jawa Timur mempunyai versi yang berbeda tentang Arimba. Menurut versi Jawatimuran, Arimba bersama saudaranya Arumba dan Arimbi adalah anak Prabu Kala Baka. Mereka masih mempunyai dua orang adik, yaitu Kala Prabakesa dan Kala Bendana. Kedua adiknya ini, meskipun berujud raksasa, mempunyai sifat-sifat baik. Di antara kelima anaknya itu, Arimbilah yang paling disayang oleh Prabu Kala Baka. Arimba dan Arumba bahkan dimusuhi, karena keduanya gemar menyantap daging manusia. Karena merasa dibenci, Arimba dan Arumba berniat memberontak. Untuk menghadapi niat buruk kedua anaknya, Prabu Kala Baka mengumumkan sayembara, siapa saja yang dapat membunuh kedua anak durhaka itu akan dikawinkan dengan Arimbi, dan akan diwarisi takhta Kerajaan Pringgadani. Bima yang mengikuti sayembara itu akhirnya berperang tanding melawan kedua raksasa itu. Arimba dan Arumba tewas pada saat bersamaan, ketika kepala mereka diadu, dibenturkan satu sama lain. Jadi, menurut versi pedalangan gagrak Jawatimuran, Arimba tidak sempat menjadi raja.

Selain Arimbi, Prabu Arimba punya beberapa adik laki-laki, yaitu: Brajadenta, Brajamusti, Prabakesa Brajawikalpa, Brajalamatan, dan Kala Bendana.
Dalam Kitab Mahabarata, Prabu Arimba disebut Hidimba.


Ditya Kala ARIMBA, gambar grafis Wayang Kulit Purwa
gagrak Surakarta
{[['']]}

Antasena

ANTASENA, kadang-kadang disebut Anantasena, oleh sebagian pecinta wayang dianggap sebagai nama lain dari Antareja. Jadi, Antasena dianggap identik dengan Antareja. Versi ini menganut Kitab Pustakaraja, salah satu buku acuan pedalangan. Tetapi sebagian pecinta wayang yang lain, mengatakan Antasena adalah adik Antareja dari lain ibu. Menurut versi yang ini, yang menganut Kitab Purwakanda, ibu Antasena adalah Dewi Urangayu, putri Begawan Mintuna.

Para dalang di daerah Surakarta ke timur pada umumnya menganggap Antasena adalah nama lain dari Antareja. Sedangkan para dalang di Yogyakarta dan daerah sebelah baratnya, dan juga Wayang Golek Sunda, umumnya menganggap Antasena anak Bima dari Dewi Urangayu. Menurut pedalangan gagrak Yogyakarta yang berdasar Kitab Purwakanda, kelahiran Antasena bermula pada niat Resi Bisma untuk memberi kegiatan yang bermanfaat pada Kurawa dan Pandawa, yang waktu itu masih remaja, agar mereka tidak selalu bertengkar. Bisma membuat semacam perlombaan, menggali sungai dari daerah Kurujenggala di utara Astina sampai tembus ke Sungai Gangga.

Dalam penggalian sungai baru itu, para Pandawa diam-diam mendapat bantuan dari anak buah Begawan Mintuna, yakni puluhan ribu ketam, dan belut Dengan demikian pembuatan sungai oleh Pandawa itu dapat dikerjakan dengan lancar dan selesai sebelum waktunya. Sementara para Kurawa, yang juga mengerjakan pembuatan sungai itu dengan giat, mulanya merasa menang karena sungai buatan mereka telah tembus ke sebuah sungai besar yang dikiranya Sungai Gangga. Ternyata, sungai yang dikira Gangga itu sebenarnya adalah sungai buatan Pandawa. Resi Bisma menamakan sungai buatan Kurawa dengan sebutan Sungai Kelawing, sedangkan yang buatan Pandawa dinamai Sungai Serayu. Setelah peristiwa itu, Resi Mintuna memungut Bima sebagai menantunya, dan dikawinkan dengan putrinya yang bernama Dewi Urangayu. Perkawinan inilah yang membuahkan seorang anak, diberi nama Antasena. Dengan demikian, Antasena sesungguhnya adalah anak sulung Bima, karena ia lahir sebelum peristiwa Bale Sigala-gala.

Ketika masih bayi, Antasena pernah diangkat sebagai jago para dewa untuk melawan Prabu Kalarudra, dari Kerajaan Girikedasar. Antasena ternyata menang. Sebagai rasa terima kasih, para dewa menghadiahkan negeri Girikedasar pada Antasena, sedangkan Begawan Mintuna diangkat kedudukannya sederajat dengan para dewa. Dalam pewayangan Antasena akrab dengan Bambang Irawan, putra Arjuna dari Dewi Palupi. Sewaktu Irawan kawin dengan Dewi Titisari, putri Prabu Kresna. Antasena banyak membantunyaa Antara lain Antasena membawakan harimau berbulu putih yang digunakan sebagai mas kawin yang diminta oleh Dewi Titisari.

Dalam lakon Randa Widada Antasena ketika itu pernah menjadi pertapa di Padepokan Randuwatangan dengan nama Begawan Curiganata. Sama dengan nama yang digunakan Prabu Baladewa setelah lengser keprabon, dan menjadi pendeta. Nama 'Antasena' mengandung arti 'keprajuritan atau keperwiraan yang tidak terbatas'. Kata 'an' atau artinya 'tidak'; kata 'anta' artinya 'batas'; dan kata 'sena' atinya 'prajurit, keprajuritan, atau keperwiraan'. Tokoh Antasena, yang tidak terdapat dalam Kitab Mahabarata, menurut pewayangan mati muksa sebagai tumbal (korban) bagi kemenangan keluarga Pandawa, beberapa saat sebelum pecah Baratayuda. Dengan ikhlas ia memilih kematian dengan cara memandang mata kakek buyutnya, Sang Hyang Wenang. Saat itulah tubuhnya mengecil, dan akhirnya hilang.

Cara kematian Antasena ini amat mirip dengan Wisanggeni, anak Arjuna dari Dewi Dresanala. Dulu, sebelum tahun 1950-an, tokoh Antasena hanya dikenal pecinta wayang di daerah Yogyakarta dan wilayah sebelah baratnya yang dalang-dalangnya memakai Kitab Purwakanda sebagai acuannya. Tetapi kemudian dalang-dalang dari daerah lainnya yang menggunakan Kitab Pustakaraja sebagai acuan, termasuk daerah Surakarta, juga menganggap Antasena sebagai tokoh wayang tersendiri, tidak lagi identik dengan Antareja.


ANTASENA, Wayang Kulit Purwa gagrak Yogyakarta


ANTASENA, gambar grafis Wayang Kulit Purwa gagrak Banyumas


ANTASENA, gambar grafis Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta

{[['']]}

Antareja

ANTAREJA, terkadang disebut Anantaraja, anak sulung Bima dengan Dewi Nagagini, dulu, oleh sebagian dalang - terutama yang menganut gagrak Surakarta - dianggap sama atau identik dengan Antasena. Tetapi oleh sebagian dalang yang lain, yaitu gagrak Yogyakarta, dianggap berbeda. Pendapat yang kedua menganggap Antareja adalah kakak Antasena.

Sementara itu menurut Pustakaraja, Antareja adalah nama Antasena setelah dewasa. Jadi, seperti halnya panggilan Bratasena ketika Bima masih muda. Tetapi Purwacarita dan Purwakanda, jelas-jelas menyebutkan bahwa Antareja adalah anak sulung Bima, sedangkan Antasena adalah anak bungsunya. Pedalangan gagrak Yogyakarta memang banyak menganut Kitab Purwakanda. Antareja tidak tinggal bersama ayahnya, melainkan tetap di Kahyangan Saptapratala bersama kakeknya, Hyang Antaboga, dan ibunya. Kesaktian Antareja luar biasa. Semburan ludahnya yang mengandung bisa, akan mematikan siapa saja yang terkena. Bahkan tanah bekas telapak kaki orang yang dijilatnya pun akan menyebabkan si empunya tapak akan meninggal seketika. Antareja bahkan juga dapat menghidupkan orang mati, jika garis ajalnya belum sampai. Kemampuan menghidupkan orang mati sebelum ajalnya ini disebabkan karena Antareja memiliki air suci Tirta Amerta, hadiah dari kakeknya. Dalam lakon Sembadra Larung, ia menghidupkan kembali Wara Subadra yang telah mati dibunuh Burisrawa.

Ketika masih bayi Antareja pernah diadu melawan raja Jangkarbumi bernama Prabu Nagabaginda. Sebelum bertarung, Antareja lebih dulu dikulum oleh kakeknya sehingga tubuhnya basah oleh air liur Sang Hyang Antaboga. Dengan begitu tubuh Antareja menjadi licin dan kebal. Dalam pertarungan ini Antareja menang, sehingga Kerajaan Jangkarbumi menjadi miliknya. Walaupun demikian, hampir sepanjang hidupnya ia tinggal bernama kakeknya di Kahyangan Saptapertala. Karena kesaktiannya, yang tak tertandingi oleh siapa pun itu, para dewa bingung. Dalam perang besar yang disebut Baratayuda, Antareja tentu akan mengacaukan suratan rencana para dewa yang tertulis pada Kitab Jiptasara. Anak sulung Bima itu tentu akan dapat membunuh siapa saja. Padahal menurut Kitab Jiptasara, yakni buku yang berisi suratan nasib setiap orang yang ikut dalam Baratayuda, Antareja akan berhadapan dengan Prabu Baladewa. Karena itu Prabu Kresna yang berhasil mempelajari isi Kitab Jiptasara, berusaha mencari jalan keluarnya.

Prabu Kresna berpendapat, bagaimana pun Antareja tentu akan muncul dalam Baratayuda karena ia tentu merasa berkewajiban membela keluarga besar Pandawa. Satu-satunya cara untuk mencegah keikutsertaan Antareja dalam perang besar itu, menjelang Baratayuda Antareja harus sudah mati. Untuk menyelamatkan abangnya, Prabu Kresna dengan tipu muslihat secara tidak langsung membunuh Antareja. Kresna menanyakan kepada anak sulung Bima itu apakah ia mau berkorban jiwa demi kejayaan para Pandawa. Antareja berkata sanggup. Kresna lalu menyuruhnya menjilat telapak kaki sendiri.

Istri Antareja bernama Dewi Ganggi, putri Prabu Ganggapranawa, raja ular dari negeri Tawingnarmada. Dari perkawinan ini mereka mendapat seorang anak bernama Arya Danurwenda. Kelak Danurwenda menjadi salah seorang patih di Astina, pada zaman pemerintahan Parikesit. Sementara itu, ada dalang yang menyebutkan bahwa istri Antareja adalah Dewi Sridantari, adik Prabu Sridenta, raja Jumapala.

Pada Wayang Parwa Bali, Antareja mempunyai nama alias Windusegara. Tokoh Antareja tidak terdapat dalam Kitab Mahabarata. Dalam pewayangan, tokoh-tokoh yang tidak terdapat dalam Mahabarata, yaitu tokoh ciptaan pujangga Indonesia sendiri, semuanya 'dimatikan' menjelang berlangsungnya Baratayuda. Karena jika tidak demikian, alur cerita Baratayuda menjadi kacau. Selain Antareja, tokoh yang harus mati sebelum Baratayuda, adalah Antasena dan Wisanggeni.

Nama Antareja artinya yang memiliki kekuasaan atau kesaktian yang tidak terbatas. Karena kata 'an' atau 'a' artinya 'tidak'; kata 'anta' artinya 'batas'; kata 'reja' artinya 'kuasa, kekuasaan, atau kesaktian'.
Dalam seni kriya Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta, Antareja dilukiskan dalam dua wanda, yakni wanda Jaka dan Guntur. Wanda Jaka untuk adegan rembagan, sedangkan wanda Guntur untuk adegan perang. Sedangkan pada Wayang Kulit Purwa gagrak Yogyakarta terdapat empat wanda, yakni wanda Jaka, Indu, Wisuna dan Naga. Walaupun demikian, sosok peraga wayang Antareja di berbagai daerah digambarkan dalam bentuk yang cukup banyak perbedaannya, baik bentuk maupun sunggingannya.

Di Jawa Timur, pada seni kriyanya, wayang Antareja ditampilkan dua macam, yaitu Antareja dalam keadaan biasa, dan yang dalam keadaan marah atau sedang triwikrama. Antareja yang biasa, hampir serupa dengan wayang gagrak Surakarta. Tetapi yang sedang marah, raut wayahnya menyerupai moncong naga, lengkap dengan lidahnya yang bercabang. Bentuk wayang Antareja serupa ini khas Jawa Timur. Selain pada Wayang Purwa, dalam Wayang Gedog juga ada tokoh bernama Antareja, yaitu salah seorang cucu Prabu Amiluhur, raja Jenggala, dari salah seorang selir. Antareja Wayang Gedog adalah putra ketiga Wasi Curiganata. Curiganata yang ini pun, bukan Curiganata yang juga ada pada Wayang Purwa.

Lakon-lakon yang melibatkan Antareja:
  • Antareja Lahir
  • Sembadra Larung
  • Antareja Krama
  • Irawan Maling
  • Jangkar Bumi
  • Wisanggeni Krama
  • Prabu Sumilih (Gatotkaca Nagih Janji)


ANTAREJA wanda Hindu, Wayang Kulit Purwa gagrak Yogyakarta
(koleksi Keraton Yogyakarta)
 ANTAREJA wanda Wisuna, Wayang Kulit Purwa gagrak Yogyakarta
(koleksi Keraton Yogyakarta)
 ANTAREJA Kyai Inten, Wayang Kulit Purwa gagrak Yogyakarta
ANTAREJA wanda Naga, Wayang Kulit Purwa gagrak Yogyakarta
(koleksi Keraton Yogyakarta) 
ANTAREJA, Wayang Kulit Purwa gagrak Cirebon
 ANTAREJA, Wayang Kulit Purwa gagrak Banyumas


 ANTAREJA, Wayang Kulit Purwa gagrak Jawa Timur


 ANTAREJA saat tiwikrama, Wayang Kulit Purwa gagrak Jawa Timur
 ANTAREJA, Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta
 ANTAREJA, gambar grafis Wayang Kulit Purwa gagrak Jawa Timur
 ANTAREJA, gambar grafis Wayang Kulit Purwa gagrak Cirebon
 ANTAREJA, gambar grafis Wayang Kulit Purwa gagrak Banyumas
 ANTAREJA, Wayang Golek Purwa Sunda
ANTAREJA, gambar grafis bergaya buku komik wayang
berdasarkan penampilan pada panggung Wayang Orang gaya Surakarta. 
{[['']]}

Antagopa, Demang

ANTAGOPA, DEMANG, dikenal dalam dunia pewayangan karena ia mendapat tugas dari Prabu Basudewa untuk mengasuh dan mendidik, sekaligus menyembunyikan tiga orang putranya. Ketiga putra raja Mandura itu, Kakrasana, Narayana, dan Rara Ireng atau Bratajaya, terancam keselamatannya karena menjadi sasaran usaha pembunuhan yang akan dilakukan oleh Kangsa. Dengan berbagai kesulitan, Antaboga dan istrinya berhasil menunaikan tugas itu dengan baik.

Selain itu Demang Antagopa juga berjasa pada Kerajaan Mandura karena dianggap menyelamatkan nama baik kerajaan. Ia bersedia menjadi suami Ken Sayuda, dayang istana yang terlibat skandal dengan Aryaprabu Rukma, Ugrasena, Basudewa, dan bahkan juga dengan Prabu Basukunti sendiri. Skandal itu mengakibatkan Ken Sayuda melahirkan lima orang anak gelap, yakni Pragota, Prabawa, Udawa, Adimenggala, dan Rarasati atau Larasati. Setelah menjadi istri Demang Antagopa, nama Ken Sayuda diganti menjadi Nyai Segopi. Sebelum diserahi mengasuh tiga putra Basudewa, Antagopa telah lebih dulu mengasuh Dewi Larasati, yang sebenarnya putri gelap Ugrasena, adik Basudewa. Karena jasanya menyelamatkan nama baik keluarga Kerajaan Mandura itulah, Antagopa yang semula hanya seorang penggembala ternak, diangkat menjadi demang di Widarakandang.

Nama Antagopa artinya adalah penjaga perbatasan atau gembala. Kata 'anta' artinya 'batas', sedangkan kata 'gopa' artinya 'penjaga'. Sementara itu 'gopa' juga bisa berarti lain, karena kata 'go' artinya 'sapi'; dan kata 'pa' artinya 'penjaga'. Dalam seni kriya Wayang Kulit Purwa gagrak Yogyakarta, tokoh Antagopa dirupakan dalam wanda Boren.

Catatan:
Demang, jabatan semacam camat di masa kini. Menurut Kitab Hariwangsa yang merupakan lampiran Kitab Mahabarata, Antagopa yang dalam kitab itu disebut Gopa dan istrinya yang bernama Yasoda, hanya dititipi bayi Krishna (Kresna). Mereka tinggal di Desa Wajra, di tepi Kerajaan Mathura. Sedangkan bayi Baladewa, diberikan oleh Dewi Nendra, seorang dewi yang berkuasa atas rasa ngantuk, kepada Rohini, salah seorang istri Basudewa (Vasudewa) yang tidak ikut dipenjara.





 Demang ANTAGOPA, gambar grafis Wayang Kulit Purwa
gagrak Surakarta.

   
{[['']]}

Antaga, Sang Hyang

ANTAGA, SANG HYANG, nama lain dari Togog, panakawan bagi golongan jahat. Dalam pewayangan, Togog juga disebut Hyang Maha Punggung. Sebagai dewa, Sang Hyang Antaga tinggal di Kahyangan Sabaluri. Ia adalah putra sulung Sang Hyang Tunggal, sedangkan ibunya bernama Dewi Rekatawati.
Sang Hyang Antaga mempunyai adik bernama Sang Hyang Ismaya alias Semar, sedangkan adiknya yang bungsu bernama Sang Hyang Manikmaya alias Batara Guru.

Menurut buku Pakem Pedalangan Lampahan Wayang Purwa karangan S. Probohardjono, ketika dunia terbentuk, Hyang Maha Kawasa menciptakan empat sosok makhluk yang berujud manusia. Yang berasal dari cahya menjadi Sang Hyang Narada, yang berasal dari teja menjadi Sang Hyang Antaga, yang berasal dari manik menjadi Sang Hyang Guru, sedangkan yang berasal dari maya menjadi Sang Hyang Ismaya.
Namun yang lebih sering dipergelarkan di pedalangan adalah versi yang menyebutkan bahwa Sang Hyang Antaga adalah anak Sang Hyang Tunggal. Kakeknya bernama Sang Hyang Wenang, sedangkan kakek buyutnya adalah Sang Hyang Nurrasa.

Versi yang lebih sering tampil dalam pedalangan di Pulau Jawa adalah versi yang terakhir ini, yang bersumber pada Serat Kanda dan Pustaka Raja Purwa.


SANG HYANG ANTAGA, Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta.
{[['']]}

Antaboga, Sang Hyang

ANTABOGA, SANG HYANG, atau Sang Sang Nagasesa atau Sang Hyang Anantaboga atau Sang Hyang Basuki adalah dewa penguasa dasar bumi. Dewa itu beristana di Kahyangan Saptapratala, atau lapisan ke tujuh dasar bumi. Dari istrinya yang bernama Dewi Supreti, ia mempunyai dua anak, yaitu Dewi Nagagini dan Naga Tatmala. Dalam pewayangan disebutkan, walaupun terletak di dasar bumi, keadaan di Saptapratala tidak jauh berbeda dengan di kahyangan lainnya.

Sang Hyang Antaboga adalah putra Anantanaga. Ibunya bernama Dewi Wasu, putri Anantaswara.
Walaupun dalam keadaan biasa Sang Hyang Antaboga serupa dengan ujud manusia, tetapi dalam keadaan triwikrama, tubuhnya berubah menjadi ular naga besar. Selain itu, setiap 1000 tahun sekali, Sang Hyang Antaboga berganti kulit (jw. m1ungsungi). Dalam pewayangan, dalang menceritakan bahwa Sang Hyang Antaboga memiliki Aji Kawastrawam, yang membuatnya dapat menjelma menjadi apa saja, sesuai dengan yang dikehendakinya. Antara lain ia pernah menjelma menjadi garangan putih (semacam musang hutan atau cerpelai) yang menyelamatkan Pandawa dan Kunti dari amukan api pada peristiwa Bale Sigala-gala.
Putrinya, Dewi Nagagini, menikah dengan Bima, orang kedua dalam keluarga Pandawa. Cucunya yang lahir dari Dewi Nagagini bernama Antareja atau Anantaraja.

Sang Hyang Antaboga mempunyai kemampuan menghidupkan orang mati yang kematiannya belum digariskan, karena ia memiliki air suci Tirta Amerta. Air sakti itu kemudian diberikan kepada cucunya Antareja dan pernah dimanfaatkan untuk menghidupkan Dewi Wara Subadra yang mati karena dibunuh Burisrawa dalam lakon Subadra Larung.
Sang Hyang Antaboga pernah dimintai tolong Batara Guru menangkap Bambang Nagatatmala, anaknya sendiri. Waktu itu Nagatatmala kepergok sedang berkasih-kasihan dengan Dewi Mumpuni, istri Batara Yamadipati. Namun para dewa gagal menangkapnya karena kalah sakti. Karena Nagatatmala memang bersalah, walau itu anaknya, Sang Hyang Antaboga terpaksa menangkapnya. Namun Dewa Ular itu tidak menyangka Batara Guru akan menjatuhkan hukuman mati pada anaknya, dengan memasukkannya ke Kawah Candradimuka. Untunglah Dewi Supreti, istrinya, kemudian menghidupkan kembali Bambang Nagatatmala dengan Tirta Amerta.

Batara Guru juga pernah mengambil kulit yang tersisa ketika Sang Hyang Antaboga mlungsungi dan menciptanya menjadi makhluk ganas yang mengerikan. Batara Guru menamakan makhluk ganas Aji Candrabirawa.   
Sang Hyang Antaboga, ketika masih muda disebut Nagasesa. Walaupun ia cucu Sang Hyang Wenang, ujudnya tetap seekor naga, karena ayahnya yang bernama Antawisesa juga seekor naga. Ibu Nagasesa bernama Dewi Sayati, putri Sang Hyang Wenang.
Suatu ketika para, dewa berusaha mendapatkan Tirta Amerta yang membuat mereka bisa menghidupkan orang mati. Guna memperoleh Tirta Amerta para dewa harus mengebor dasar samudra. Mereka mencabut Gunung Mandira dari tempatnya, dibawa ke samudra, dibalikkan sehingga puncaknya berada di bawah, lalu memutarnya untuk melubangi dasar samudra itu. Namun setelah berhasil memutamya, para dewa tidak sanggup mencabut kembali gunung itu. Padahal jika gunung itu tidak bisa dicabut, mustahil Tirta Amerta dapat diambil. Pada saat para dewa sedang bingung itulah Nagasesa datang membantu. Dengan cara melingkarkan badannya yang panjang ke gunung itu dan membetotnya ke atas, Nagasesa berhasil menjebol Gunung Mandira, dan kemudian menempatkannya di tempat semula. Dengan demikian para dewa dapat mengambil Tirta Amerta yang mereka inginkan. Itu pula sebabnya, Nagasesa yang kelak lebih dikenal dengan nama Sang Hyang Antaboga juga memiliki Tirta Amerta.

Jasa Nagasesa yang kedua adalah ketika ia menyerahkan Cupu Linggamanik kepada Batara Guru. Para dewa memang sangat menginginkan cupu mustika itu. Waktu itu Nagasesa sedang bertapa di Guwaringrong dengan mulut terbuka. Tiba-tiba melesatlah seberkas cahaya terang memasuki mulutnya. Nagasesa langsung mengatupkan mulutnya, dan saat itulah muncul Batara Guru. Dewa itu menanyakan kemana perginya cahaya berkilauan yang memasuki Guwaringrong. Nagasesa menjawab, cahaya mustika itu ada pada dirinya dan akan diserahkan kepada Batara Guru, bilamana pemuka dewa itu mau memeliharanya baik-baik. Batara Guru menyanggupinya, sehingga ia mendapatkan Cupu Linggamanik yang semula berujud cahaya itu.
Cupu Linggamanik sangat penting bagi para dewa, karena benda itu mempunyai khasiat dapat membawa ketentraman di kahyangan. Itulah sebabnya semua dewa di kahyangan merasa berhutang budi pada kebaikan hati Nagasesa.
Karena jasa-jasanya itu para dewa lalu menghadiahi Nagasesa kedudukan yang sederajat dengan para dewa, dan berhak atas gelar Batara atau Sang Hyang. Sejak itu ia bergelar Sang Hyang Antaboga. Para dewa juga memberinya hak sebagai penguasa alam bawah tanah. Tidak hanya itu, oleh para dewa Nagasesa juga diberi Aji Kawastram yang membuatnya sanggup mengubah ujud dirinya menjadi manusia atau makhluk apa pun yang dikehendakinya.
Untuk membangun ikatan keluarga, para dewa juga menghadiahkan seorang bidadari bernama Dewi Supreti sebagai istrinya.
Perlu diketahui, cucu Sang Hyang Antaboga, yakni Antareja, hanya terdapat dalam pewayangan di Indonesia. Dalam Kitab Mahabarata, Antareja tidak pernah ada, karena tokoh itu memang asli ciptaan nenek moyang orang Indonesia.

Sang Hyang Antaboga pernah berbuat khilaf ketika dalam sebuah lakon carangan terbujuk hasutan Prabu Boma Narakasura, cucunya, untuk meminta Wahyu Senapati pada Batara Guru. Bersama dengan menantunya, Prabu Kresna, yang suami Dewi Pertiwi, Antaboga berangkat ke kahyangan. Ternyata Batara Guru tidak bersedia memberikan wahyu itu pada Boma, karena menurut pendapatnya Gatotkaca lebih pantas dan lebih berhak. Selisih pendapat yang hampir memanas ini karena Sang Hyang Antaboga hendak bersikeras, tetapi akhimya silang pendapat itu dapat diredakan oleh Batara Narada. Wahyu Senapati tetap diperuntukkan bagi Gatotkaca.
Nama Antaboga atau Anantaboga artinya (naga yang) kelokannya tidak mengenal batas. Kata 'an' atau artinya tidak; kata 'anta' artinya batas; sedangkan kata 'boga' atau 'bhoga' atinya kelokan. Yang kelokannya tidak mengenal batas, maksudnya adalah ular naga yang besarnya luar biasa.


SANG HYANG ANTABOGA, Wayang Kulit Purwa gagrak Yogyakarta,
Wayang Kyai Inten.

ANTABOGA, Wayang Kulit Purwa gagrak Yogyakarta.


SANG HYANG ANTABOGA dalam bentuk ular naga,
Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta .

SANG HYANG ANTABOGA, gambar grafis Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta.

SANG HYANG ANTABOGA, Wayang Golek Purwa Sunda.
{[['']]}

Anoman

ANOMAN, tokoh wayang terkenal dalam seri Ramayana, yang dalam Wayang Purwa juga sering muncul dalam kisah-kisah Mahabarata. Ia berujud kera berbulu putih. Ibunya adalah Dewi Anjani, sedangkan ayahnya Batara Guru. Pada saat Ramawijaya mengerahkan bala tentara kera menyerbu Kerajaan Alengka untuk membebaskan Dewi Sinta yang diculik Prabu Dasamuka, Anoman bertindak sebagai salah satu senapati.

Dalam pewayangan, kisah kelahiran Anoman diceritakan sebagai berikut:
Ketika suatu saat Batara Guru sedang terbang melalang di atas Telaga Nirmala, ia menyaksikan seorang wanita muda sedang melakukan tapa kungkum. Melihat tubuh wanita muda itu, Dewi Anjani namanya, Batara Guru tidak dapat menahan birahinya dan jatuhlah kama benihnya, menimpa sehelai daun asam muda yang mengapung di permukaan telaga. Daun asam muda yang oleh orang Jawa disebut sinom itu hanyut terbawa arus dan akhirnya tertelan oleh Dewi Anjani. Seketika itu juga Dewi Anjani hamil. Karena merasa tidak pernah disentuh pria, segera Anjani menuntut Batara Guru untuk bertanggung jawab atas kehamilannya. Ternyata pemuka dewa itu tidak mengelakkan tanggung jawab. Ia mengakui bayi yang berada dalam kandungan Anjani sebagai anaknya, dan memerintahkan para bidadari menolong kelahirannya. Bayi itu kemudian diberi nama Anoman.

Kelahiran Anoman ditandai dengan gara-gara yang melanda dunia. Gunung-gunung meletus, badai dan air bah terjadi di mana-mana. Para dewa segera mengutus beberapa bidadari untuk menolong persalinan Dewi Anjani. Sesudah Anoman lahir, para bidadari membawa Dewi Anjani dan bayinya ke kahyangan. Atas perkenan para dewa, sesudah melahirkan anaknya wanita berwajah kera itu berubah ujud menjadi wanita cantik kembali. Selama sisa hidupnya ia pun diperkenankan hidup di kahyangan sebagai bidadari. Batara Guru memberi nama Anoman kepada bayi kera berbulu putih bersih Anoman dan memerintahkan kepada Batara Bayu untuk mengasuhnya. Itulah sebabnya, Anoman juga bernama Bayusuta atau Bayutanaya, Maruti atau Marutaseta. (Selain Anoman, sebutan Bayusuta atau Bayutanaya juga dipakai untuk menyebut Bima. Jadi menurut pewayangan, terutama di Pulau Jawa, Anoman adalah anak Batara Guru yang diasuh oleh Batara Bayu atau Batara Maruta).

Sebagai putra angkat atau anak asuh Batara Bayu, Anoman mengenakan kain Poleng Bang Bintulu Aji dan berkuku Pancanaka. Dalam pewayangan ada Sembilan tokoh yang merupakan "saudara tunggal Bayu". Mereka adalah:
  • Batara Bayu sendiri,
  • Anoman,
  • Bima,
  • Wil Jajahwreka,
  • Begawan Maenaka,
  • Liman Situbanda,
  • Dewa Ruci,
  • Garuda Mahambira,
  • Naga Kuwara.

    Versi-versi lainnya:
    Menurut Kitab Ramayana asli karangan Walmiki, Anoman bukan anak Batara Guru, melainkan anak Dewa Maruta, penguasa angin. Itulah sebabnya ia juga bernama Maruti atau Marutasuta. Sementara menurut Serat Kanda Anoman adalah anak Prabu Ramawijaya dan Dewi Sinta, yang lahir di tengah Hutan Dandaka. sebelum Dewi Sinta diculik Rahwana. Versi Anoman anak Rama-Sinta ini tidak begitu lazim dalam dunia pedalangan di Indonesia.

    Pedalangan Jawa Timuran yang banyak terpengaruh Serat Kanda. Kisah kelahiran Anoman di pewayangan Jawatimuran, dimulai pada saat pengembaraan Rama, Dewi Sinta, dan Laksmana di hutan, pada masa pembuangan. Pada saat itu Dewi Sinta telah hamil muda. Suatu ketika, segera setelah Rama dan Dewi Sinta mandi di Telaga Tirta Sumala, dari tubuh mereka keluar bulu-bulu putih.
    Tanpa diketahui sebabnya, tiba-tiba Dewi Sinta keguguran. Dari rahim Sinta keluar gumpalan darah. Ramawijaya kemudian menyuruh Laksmana membungkus gumpalan darah itu dengan daun lumbu (talas), dengan menyertakan sebelah anting-anting emas miliknya ke dalam bungkusan itu. Bungkusan itu lalu dilempar jauh-jauh oleh Laksmana. Tepat pada saat itu, Batara Guru yang sedang melanglang buana, menangkap bungkusan itu dan membawanya. Beberapa waktu kemudian, ketika dari angkasa Batara Guru melihat seorang wanita dengan tapa ngodok, tanpa busana. Karena terpana melihat keindahan lekuk tubuh wanita itu, tanpa terasa bungkusan yang dipegangnya jatuh tepat di hadapan sang Tapa. Sementara itu, karena birahinya menggejolak, jatuhlah kama benih (mani) Batara Guru, tepat menimpa bungkusan itu.
    Dewi Anjani, Sang Tapa, segera memakan bungkusan daun talas itu. Maka, hamillah Dewi Anjani. Ketika kemudian lahir, bayi yang berujud kera putih itu dinamai Anjali Kencana.

    Sebagaimana tokoh wayang terkenal lainnya, Anoman memiliki banyak nama lain.
    Ia juga disebut: Anjaniputra, Anjali Kencana, Bambang Senggana, Prabancana, Ramandayapati, Maruti, Marmasuta, Kapiwara, dan Begawan Mayangkara. Nama Anoman yang terakhir ini digunakan ketika Anoman sudah tua, dan hidup sebagai pertapa di Pertapaan Kendalisada.

    Tetapi menurut pedalangan gagrak Jawatimuran, nama Anoman baru disandang Setelah ia menjadi utusan Ramawijaya ke Alengka untuk menjumpai Dewi Sinta di Taman Argasoka. Di negara itu ia membunuh senapati raksasa bernama Ditya Kala Anoman, Ditya Kala Ndayapati, dan Ditya Kala Prabancana. Nama-nama raksasa yang mati itu lalu diambil sebagai nama aliasnya. Sebelumnya, ia bernama Anjila Kencana. Setelah dewasa, oleh Batara Guru Anoman diperintahkan turun ke dunia untuk mengabdi pada Ramawijaya yang merupakan titisan Batara Wisnu. Anoman menjumpai Rama dan Laksmana ketika kedua ksatria itu sedang dalam perjalanan menuju Kerajaan Alengka. Saat itu Anoman sedang diperintah Sugriwa raja Guwakiskenda mencari bantuan untuk mengalahkan Subali. Setelah Rama membunuh Resi Subali, Sugriwa menyatakan bersedia membantu usaha Rama membebaskan Dewi Sinta dengan mengerahkan seluruh bala tentara keranya.

    Pada waktu Dewi Sinta disekap di Taman Argasoka, Alengka, Ramawijaya mengutus Anoman untuk menemui istrinya secara diam-diam. Kera putih itu berhasil menyelundup masuk dan bertemu muka serta menyampaikan pesan Ramawijaya kepada Dewi Sinta. Sesudah menunaikan tugas pokoknya Anoman sengaja membuat gara-gara dengan membuat kerusakan di lingkungan Keraton Alengka. Prabu Dasamuka segera mengutus putranya, Indrajit, untuk menangkapnya. Dengan panah Nagapasa, yang jika dilepaskan dari busurnya berubah menjadi ribuan ular dan melilit tubuhnya, Anoman tertangkap. Dalam keadaan terikat, Anoman dibakar hidup-hidup. Tetapi justru ketika itulah, dalam keadaan bulunya terbakar, Anoman meloloskan diri sambil membakari Istana Alengka. Peristiwa itu diceritakan dalam lakon Senggana Duta atau Anoman Obong.

    Waktu bala tentara Ramawijaya yang terdiri atas pasukan kera menyerbu Kerajaan Alengka, Anoman bertindak sebagai salah seorang senapatinya. Anoman pula yang menindih tubuh Prabu Dasamuka dengan gunung karena raja Alengka itu selalu dapat hidup kembali setelah mati terpanah oleh Ramawijaya. Karena jasa-jasanya membantu Ramawijaya dalam usaha merebut kembali Dewi Sinta dari tangan Dasamuka, Anoman diangkat anak oleh Rama. Karena itu Anoman juga mendapat sebutan Ramandayapati.

    Anoman sebenarnya jatuh cinta pada Dewi Trijata, putri Gunawan Wibisana. Wanita cantik itu dijumpainya sewaktu Anoman menjalankan tugas sebagai duta menemui Dewi Sinta di Taman Argasoka di Alengka. Tetapi karena ia tahu bahwa Dewi Trijata sebenarnya berharap dapat menjadi istri Laksmana, Anoman mengurungkan niatnya untuk memperistri Trijata.

    Sebelumnya, dalam perjalanan menuju Alengka pahlawan kera berbulu putih itu sempat dirayu seorang bidadari bernama Dewi Sayempraba, putri Batara Wiswakrama. Dewi Sayempraba sesungguhnya adalah salah seorang istri Dasamuka. Untuk mencegah jangan sampai Anoman tiba di Alengka, Dewi Sayempraba mencegatnya dan merayu, kemudian memberinya makanan berupa buah-buahan. Ternyata makanan itu sudah lebih dahulu dibubuhi racun. Akibatnya, setelah makan Anoman menjadi buta dan hilang kekuatannya. Ia hampir pingsan sewaktu seekor burung garuda bernama Sempati datang menolongnya. Anoman disembuhkan dari kebutaan dan diberi petunjuk caranya pergi ke Alengka.

    Namun rayuan Dewi Sayempraba sempat membuat bidadari, yang juga istri Dasamuka, itu hamil. Anak yang kemudian lahir juga berujud kera, dinamakan Tringganga atau Triyangga. Versi lain menyebutkan Anoman mempunyai anak Trigangga bukan dari Dewi Sayempraba melainkan dari Dewi Urangayu (sebagian dalang menyebut bukan Urang Ayu melainkan Dewi Urang Rayung) putri Begawan Mintuna. Istri Anoman yang lain adalah Dewi Purwati, yang melahirkan anak bernama Purwaganti.

    Dalam cerita pewayangan di Indonesia, Anoman berumur sangat panjang. Menurut Serat Mayangkara ia hidup pada zaman Ramawijaya, zaman Pandawa, dan baru meninggal beratus tahun setelah Prabu Parikesit meninggal, yakni pada zaman pemerintahan Prabu Jayabaya di Kediri. Sedangkan dalam cerita asli Ramayana, Anoman hanya hidup pada zaman Ramawijaya saja.

    Ada lagi dalang yang menganut versi bahwa Anoman hidup sepanjang masa, yakni masa lalu, masa kini, dan masa mendatang. Versi ini menyebutkan, Anoman memang ditugasi para dewa untuk menjaga Dasamuka. Raja Alengka ini tidak dapat mati karena memiliki Aji Pancasona yang diwarisinya dari Resi Subali. Karena itu setiap kali Dasamuka mati dan tubuhnya menyentuh bumi, ia akan hidup kembali. Karena itulah untuk menjaga jangan sampai Prabu Dasamuka membuat onar kembali di dunia, Anoman diharuskan tetap hidup selamanya, sampai saat dunia kiamat nanti.

    Sebuah versi lain menyebutkan tentang kematian Anoman sebagai berikut:
    Waktu itu, jauh sesudah selesainya Baratayuda, sewaktu di Pulau Jawa telah berdiri Kerajaan Mamenang (Kediri atau Daha), Anoman pergi ke kahyangan menghadap para dewa. Kepada Batara Guru ia mengatakan sudah bosan hidup di dunia, dan menanyakan kapan ia akan mati. Batara Guru menjawab, belum waktunya. Anoman tidak puas dengan jawaban itu, kemudian berkata, bahwa selama "hidup ratusan tahun, ia telah mendarmabaktikan segala kemampuan dan kesaktiannya untuk kesejahteraan dan keamanan dunia. Kini Anoman menuntut agar permintaannya yang terakhir, yaitu agar ia segera mati, dipenuhi oleh para dewa. Batara Guru menjawab: "Baik! Tetapi engkau lebih dahulu masih harus menjalankan sebuah tugas lagi, yaitu menjodohkan ketiga orang putra Prabu Sriwahana (sebagian dalang menyebut Prabu Sriwahana dengan sebutan Prabu Sariwahana) dari Kerajaan Yawastina."

    Dalam pelaksanaan tugas itu nanti, menurut Batara Guru, Anoman akan gugur. Karena, seorang ksatria agung seperti Anoman tidak layak bila mati di tempat tidur. Para dewa memutuskan, Anoman harus gugur sebagai ksatria sejati di medan tugas. Anoman menyanggupi tugas itu karena ia memang ingin mati sebagai prajurit.
    Pertarna-tama ia menemui Prabu Sriwahana dan menguraikan tentang maksud para dewa menjodohkan ketiga putra raja Yawastina itu dengan putri-putri Prabu Jayabaya. Prabu Sriwahana menyetujui. Maka berangkatlah Anoman ke Mamenang. Sebenarnya lamaran yang diajukan Anoman untuk ketiga putra raja Yawastina itu diterima oleh Prabu Jayabaya. Namun, sebelum pembicaran itu tuntas, tiba-tiba datanglah Prabu Yaksadewa. Raja raksasa itu ternyata juga akan melamar ketiga putri Prabu Jayabaya.
    Perkelahian tidak dapat dihindari. Seperti janji para dewa, dalam pertempuran itu Anoman gugur. Menyaksikan peristiwa itu, Prabu Jayabaya marah, dan berhadapan dengan Prabu Yaksadewa.
    Raja raksasa itu berhasil dikalahkannya, dan berubah ujud menjadi Batara Kala, yang kemudian lari pulang ke tempat kediamannya di Setra Gandamayit.

    Dari cerita ini jelas bahwa Anoman, menurut pewayangan, tewas oleh Batara Kala, pada zaman Kerajaan Mamenang, atau Kerajaan Kediri.

    Menurut Mahabarata versi Jawa Kuna, yakni pada bagian Tritayatra Parwa, Anoman pernah berjumpa dengan Bima. Waktu itu para Pandawa sedang menjalani pembuangan selama 12 tahun di hutan. Waktu Bima hendak lewat di sebuah jalan sempit di tebing jurang, seekor kera putih sedang berbaring melintang jalan. Dengan sopan Bima minta agar kera putih itu menepi agar ia bisa lewat.
    Sang Kera Putih menjawab: "Jika aku menghalangi perjalananmu, mengapa bukan kau lompati saja aku, atau engkau singkirkan saja tubuhku ke tepi?" Bima menolak melompati kera itu karena perbuatan itu tidak sopan. Ia pun tidak mau menyingkirkan kera itu, karena itu berarti memaksakan kehendak.
    Sang Kera lalu mengatakan: "Bila engkau dapat mengangkat ekorku, maka dengan sukarela aku akan menyingkir dari tempat ini."
    Tanpa banyak bicara Bima mencoba mengangkat ekor kera itu, namun ternyata tidak sanggup, meskipun ia telah mengerahkan segenap kesaktiannya. Kini tahulah Bima bahwa ia berhadapan dengan seekor kera Sakti berilmu tinggi. Karenanya, Bima segera memohon agar diterima sebagai muridnya. Permohonan Bima dipenuhi. Anoman lalu memperkenalkan diri bahwa sebenamya ia dan Bima "saudara Tunggal Bayu". Ia pun memberikan beberapa ilmu pada "saudara Tunggal Bayu"nya itu. Di antara yang diwariskan adalah ilmu mengenai pembagian zaman yang selalu berlangsung di alam dunia ini.

    Pembagian zaman di dunia menurut Anoman adalah:
    Zaman Kreta atau Kretayuga, yakni zaman ke-utamaan yang sempurna. Di dunia hanya ada satu agama, tidak ada kejahatan, belum ada tradisi jual beli, yang ada hanya memberi dan menerima. Setiap manusia menjalankan kewajiban (derma) masing-masing dengan sebaik-baiknya, tanpa ada rasa iri atau sirik pada orang lain. Semua manusia mempunyai kedudukan sama terhadap manusia lainnya.

    Zaman Tirta atau Tirtayuga, yakni ketika di dunia ini mulai terdapat orang-orang yang berhati jahat. Seperempat penduduk dunia menjadi orang yang berperilaku dengki, iri dan sutra mengambil yang bukan miliknya. Yang baik hanya tinggal tiga perempat bagian saja. pada zaman ini muncul kebiasaan orang mengadakan sesaji, dan timbul berbagai macam agama. pada zaman Tirta pula dimulai adanya pembagian golongan masyarakat: golongan brahmana, ksatria, waisya, dan sudra.

    Zaman Dupara atau Duparayuga, ketika manusia di dunia ini terbagi menjadi dua bagian. Yang separuh menjadi orang jahat dan separuh sisanya tetap baik. Jumlah agama makin banyak, tetapi yang memperhatikan kaidah dan norma agama itu makin sedikit. Banyak orang bertapa dan mencari kesaktian, namun sebagian dari mereka bertujuan buruk. Orang yang ingin berbuat kebaikan makin banyak godaan dan halangannya.

    Zaman Kali atau Kaliyuga, yakni zaman di mana keburukan menang atas kebaikan. Golongan manusia yang masih berjalan di jalan keutamaan tinggal seperempat bagian saja. Sisanya sudah menjadi orang jahat. Agama, walaupun makin banyak macamnya, seakan sudah tidak lagi dipedulikan orang. Banyak orang malas, tetapi mereka selalu iri pada keberhasilan orang yang rajin. Orang takut melarat, tetapi tidak berusaha untuk menjadi kaya. Zaman ini adalah zaman ketika usia dunia telah tua, telah mendekati akhir zaman.

    Selain itu, Anoman masih banyak memberikan wejangan dan bimbingan kepada Bima mengenai rahasia hidup, dan kehidupan alam. Iapun mengajarkan beberapa ilmu, di antaranya ilmu Sepi Angin.
    Tetapi selain memberikan ilmu-ilmunya pada Bima, Anoman pun pernah berguru pada Bima. Waktu Bima mengajarkan berbagai ilmu spiritual kepada anak-anak dan keponakannya di Gunung Argakelasa, Anoman pun ikut menjadi muridnya. Waktu itu Anoman menggunakan nama Kapiwara.

    Pada seni kriya Wayang Kulit Purwa gaya Surakarta, tokoh Anoman dilukiskan bermata satu (karena dipandang dari satu sisi), sedangkan pada gaya Yogyakarta dan Kedu, bermata dua.
    Setelah Anoman lanjut usia dan menjadi pertapa di Kendalisada, ia lebih dikenal dengan nama Resi Mayangkara, dan figur wayangnya mengenakan sampir, yakni selendang di bahunya.
    Dalam Wayang Orang, tokoh Anoman ditarikan oleh seorang penari pria. Ia mengenakan topeng mulut dan hidung, dan berpakaian kaus putih menutupi badan dan tangan serta kakinya.

    Lakon yang melibatkan Anoman:
    • Anoman Lahir
    • Anoman Takon Bapa
    • Anoman Duta
    • Resi Mayangkara
    • Rama Tambak
    • Anggada Balik
    • Brubuh Alengka
    • Rama Nitis
    • Rama Nitik
    • Pejahipun Trinetra - Trikaya

     ANOMAN, Wayang Kulit Purwa gagrak Cirebon.
       
      ANOMAN, gambar grafis Wayang Kulit Purwa gagrak Yogyakarta 

      ANOMAN, gambar grafis Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta.

       
      ANJILA KENCANA dan ANOMAN,
      Wayang Kulit Purwa gagrak Jawatimuran

      ANOMAN, gambar grafis Wayang Kulit Purwa Bali.


      ANOMAN, Wayang Golek Purwa Sunda.

      DEWI SAYEMPRABA dan DEWI PURWATI,
      dua wanita yang pernah mewarnai kehidupan Anoman.
      Gambar grafis Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta.


      ANOMAN, dalam gambar grafis bergaya komik wayang,
      berdasarkan penampilan pada panggung Wayang Orang gaya Surakarta.
      {[['']]}

      Anjani, Dewi

      ANJANI, DEWI, walau resminya adalah putri sulung Begawan Gotama dari pertapaan Gratina, di Gunung Sukendra, ayah yang sebenarnya adalah Batara Surya. Ibunya seorang bidadari bernama Dewi Indradi atau Dewi Windradi. Adiknya dua, laki-laki semua. Namanya Subali alias Guwarsi, dan Sugriwa alias Guwarsa. Keduanya sesungguhnya juga anak Batara Surya. Karena peristiwa Cupumanik Astagina, Dewi Anjani yang semula seorang gadis cantik berubah menjadi wanita berwajah kera.

      Peristiwanya adalah sebagai berikut:
      Suatu hari Dewi Anjani memergoki ibunya sedang bermain-main dengan Cupumanik Astagina, yakni sebuah alat yang berkhasiat untuk melihat menikmati keindahan alam dunia. Dewi Anjani menyaksikan, betapa ibunya asyik dengan Cupu Manik Astagina, yang dikiranya alat permainan itu. Waktu Anjani meminta mainan itu, ibunya terpaksa memberikannya karena takut putrinya itu akan mengadukan soal adanya Cupumanik Astagina pada Begawan Gotama, suaminya. Dewi Indradi wanti-wanti berpesan agar Dewi Anjani menyembunyikan dan senantiasa merahasiakan alat permainan itu.

      "Jangan sampai ada orang yang mengetahui adanya alat permainan itu", kata Dewi Indradi.

      Namun Dewi Anjani ternyata tidak mematuhi pesan ibunya. la justru memamerkan Cupumanik Astagina pada kedua adiknya. Segera terjadilah keributan di antara mereka. Ketiga bersaudara itu saling memperebutkan Cupumanik Astagina.

      Keributan karena pertengkaran itu akhirnya mengganggu Begawan Gotama yang sedang samadi. Ia mendatangi ketiga anaknya dan melihat apa yang mereka perebutkan. Betapa terkejutnya Begawan Gotama ketika tabu bahwa yang diperebutkan anak-anaknya adalah Cupumanik Astagina, yang diketahuinya sebagai milik Batara Surya. Dewi Indradi pun segera dipanggil dan ditanya mengenai asal usul Cupumanik Astagina. Karena takut, Dewi Indradi bungkam, tak berani menjawab. Begawan Gotama marah dan cupu itu dilemparkannya jauh-jauh. Kepada ketiga anaknya is berkata, siapa yang dapat menemukan cupu itu, maka ia boleh memilikinya.

      Kepada Dewi Indradi yang diam saja waktu ditanya, ia pun berkata: "Ditanya kok diam saja, seperti tugu ..." Kesaktian Begawan Gotama menyebabkan kata-katanya bertuah, dan seketika itu juga Dewi Indradi berubah ujud menjadi tugu.

      Cupumanik Astagina yang dilemparkan Begawan Gotama jatuh di Telaga Mandirda (di pewayangan disebut Telaga Sumala, "mala" artinya cacat, penyakit, dosa, atau kesalahan; "su" berarti banyak atau sangat, sedangkan Telaga Nirmala artinya bebas dari penyakit, karena "nir" berarti bebas atau tidak terkena).  Guwarsa dan Guwarsi yang larinya lebih cepat dibandingkan Dewi Anjani, sampai ke telaga itu lebih dahulu. Kedua kakak beradik itu segera terjun dan menyelam ke dalam air telaga mencari Cupumanik Astagina. Dewi Anjani yang datang lebih lambat, sampai ke telaga itu dalam keadaan lelah. la segera membungkuk dan mencuci muka dengan air telaga itu untuk menghilangkan lelahnya. Sementara itu, dua orang pengasuh Guwarsa dan Guwarsi yaitu Menda dan Jembawan, berlarian pula mengikuti anak asuhannya. Mereka pun ikut terjun ke telaga.

      Terjadilah keajaiban.
      Begitu muncul kembali ke permukaan telaga, Sugriwa dan Subali (atau Guwarsa dan Guwarsi) telah berubah ujud menjadi kera. Sedangkan Dewi Anjani, hanya wajahnya saja yang berubah ujud menjadi kera, tetapi tubuhnya tetap manusia biasa. Wajah keranya, tidak mengurangi keindahan tubuh Dewi Anjani yang masih remaja itu. Menda dan Jembawan, yang juga berubah ujud menjadi kera, selanjutnya disebut Kapi Menda dan Kapi Jembawan. Kapi berarti kera.

      Ketiga anak Begawan Gotama menyesal sekali atas kejadian yang mereka alarm itu. Mereka lalu kembali ke pertapaan. Begawan Gotama menyarankan agar anak-anaknya mau menerima takdir. Selain itu ia juga mengganti nama mereka. Guwarsa diganti namanya menjadi Subali, sedangkan Guwarsi menjadi Sugriwa. Keduanya lalu disuruh pergi ke tengah hutan untuk bertapa. Dewi Anjani pun melakukan hal yang serupa. la bertapa nyantoka, yaitu bertelanjang, membenamkan tubuhnya, hanya kepalanya saja yang menyembul di permukaan air Telaga Nirmala selama berbulan-bulan. Selama bertapa itu Dewi Anjani hanya memakan apa saja yang hanyut di permukaan air telaga itu.

      Pada suatu ketika, Batara Guru sedang melayang di angkasa mengendarai Lembu Andini. Saat itulah pemuka dewa itu melihat seorang wanita tanpa busana berendam di Telaga Nirmala. Timbul birahi Batara Guru menyaksikan keindahan tubuh wanita itu sehingga jatuhlah kama benih (mani)nya menimpa setangkai daun asam muda, yang dalam bahasa Jawa disebut sinom. Daun yang telah ternoda kama benih itu hanyut ke arah Dewi Anjani, yang segera meraih dan memakannya. Betapa sedihnya Anjani ketika ia menyadari tiba-tiba dirinya hamil, padahal merasa belum pernah tersentuh pria. Maka ia pun protes kepada para dewa. Batara Guru dan Batara Narada kemudian datang nenemuinya, memberi penjelasan mengenai apa yang telah terjadi. Batara Guru juga menyatakan bersedia mengaku, bahwa janin yang dikandung Dewi Anjani adalah anaknya.

      Ketika datang waktunya bersalin, timbul huru hara dunia. Gunung meletus, banjir mengganas dan badai terjadi di mana-mana. Setelah mengetahui penyebab  bencana itu, Batara Guru mengutus beberapa orang bidadari menolong Dewi Anjani. Setelah lahir, anak Dewi Anjani itu diberi nama Anoman, berupa seekor kera berbulu putih mulus. Selanjutnya Dewi Anjani diperkenankan masuk ke kahyangan dan kembali pada ujudnya semula, seorang wanita cantik. Anaknya pun dibesarkan dan dididik di kahyangan. Kelak, anak yang dilahirkan Anjani itu akan menjadi ksatria perkasa yang berumur panjang, walaupun ia berujud kera.




      DEWI ANJANI, Wayang Kulit Purwa gagrak Yogyakarta. 
      Selain wajahnya, kedua telapak tangan Dewi Anjani serupa dengan telapak tangan kera, 
      karena terkena air Telaga Sumala sewaktu mencuci muka.
      DEWI ANJANI, dalam ujud sebagai putri cantik (kiri) dan sebagai raseksi (kanan).
      Gambar grafis Wayang Kulit Purwa gagrak Yogyakarta.
       DEWI ANJANI, dalam bentuk wanita berwajah wanara atau kera.
      Gambar grafis Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta.
      DEWI ANJANI, dalam bentuk wanita cantik, 
      gambar grafis Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta.


      DEWI ANJANI, Wayang Kulit Purwa gagrak Jawatimuran.
      DEWI ANJANI dalam Wayang Golek Purwa Sunda.
      DEWI ANJANI, dalam bentuk wanita berwajah kera,
      gambar grafis bergaya komik wayang sesuai penampilan di panggung Wayang Orang 
      gaya Surakarta.
      {[['']]}

      Animandaya, Begawan

      ANIMANDAYA, BEGAWAN, terkadang disebut Begawan Nimandaya atau Nimandawya, adalah pertapa Sakti yang mengutuk Batara Darma sehingga dewa kejujuran, keadilan, dan kebenaran itu harus menjalani hidup sebagai manusia biasa yang dilahirkan oleh wanita berdarah sudra.

      Pada suatu saat ketika:
      Begawan Animandaya sedang bertapa membisu, seorang pencuri masuk ke pertapaannya. Pencuri itu menyembunyikan barang curiannya di salah satu sudut pertapaan, kemudian ia bersembunyi. Beberapa saat kemudian datanglah para punggawa kerajaan yang mengejar pencuri itu. Mereka menanyakan kepada sang Pertapa, di manakah pencuri itu bersembunyi. Namun karena selama bertapa mbisu tidak boleh berbicara, Begawan Animandaya tidak menjawab sepatah kata pun. la tetap saja meneruskan tapanya.
      Karena tidak mendapat jawaban, para prajurit lalu masuk dan menggeledah pertapaan. Tidak lama kemudian mereka menemukan barang curian itu. Karena adanya barang bukti itu Begawan Animandaya ditangkap dan dibawa ke hadapan raja.

      Sang Raja menanyakan soal barang curian yang ditemukan di pertapaan itu kepada Begawan Animandaya, tetapi pertapa itu tetap saja membisu. Akibatnya, sang Raja marah dan menjatuhkan hukuman yang amat berat kepada Begawan Animandaya. Tubuh pertapa itu ditusuk dengan tombak di bagian anusnya, tembus hingga ke ubun-ubun. Namun karena kesaktian yang dimilikinya, Begawan Animandaya tidak mati. ia tetap hidup dan sehat segar, walaupun sebatang tombak membuat tubuhnya seperti sate. Melihat kesaktian sang Pertapa yang luar biasa ini sang Raja menyesal dan minta maaf atas kecerobohannya menjatuhkan hukuman. Sang Pertapa memaafkannya.

      Bertahun-tahun kemudian Begawan Animandaya meninggal karena usia tua. Di kahyangan suksma sang Pertapa datang menemui Batara Darma dan menanyakan tentang pengalamannya ketika hidup di dunia. Mengapa ketika masih hidup dulu ia harus menerima nasib buruk dan mengalami penyiksaan keji padahal selalu berbuat kebaikan. Batara Darma menjawab, memang seingat Animandaya ia selalu berbuat kebaikan dan tidak pernah berbuat keji. Namun Batara Darma mengingatkan, ketika masih kecil Animandaya pernah menyiksa seekor belalang dengan menusuk tubuh binatang itu hidup-hidup dengan sebatang lidi. Menurut Dewa Keadilan, apa yang pernah dialami oleh Begawan Animandaya semasa hidupnya sudah sesuai dengan karmanya.

      Jawaban Batara Darma ini tidak memuaskan Begawan Animandaya. Setahu pertapa itu, aturan agama apa pun tidak menyebutkan bahwa perbuatan anak-anak tidak dianggap sebagai suatu dosa, apa lagi bilamnna si Anak yang berbuat itu belum paham mengenai soal salah dan benar. Mendengar bantahan Animandaya itu, Batara Darma terdiam. Ia tidak dapat menjawab.

      Karena tidak puas, Animandaya lalu mengucapkan kutukannya, Batara Darma harus menjalani hidup di dunia sebagai manusia biasa, dan dilahirkan oleh seorang wanita berdarah sudra. Kutukan itu ternyata terbukti, Batara Darma terpaksa turun ke dunia dan menitis pada Yama Widura, putra Abiyasa dari Dayang Drati, seorang pelayan istana yang berdarah sudra.


      BEGAWAN ANIMANDAYA, gambar grafis Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta.
      {[['']]}

      Anila

      ANILA, berujud kera bertubuh kecil, pendek, dan agak gendut, tetapi berakal cerdik seperti manusia. Dalam pewayangan ia dianggap berderajat ksatria. Karena kesaktian serta kecerdikannyalah maka ia diangkat sebagai patih di Kerajaan Guwakiskenda pada masa pemerintahan Prabu Sugriwa.
      Kera yang berbulu ungu nila ini dianggap sebagai anak Batara Narada, walaupun sebenarnya ia tidak pernah dilahirkan oleh siapa pun. Anila ada karena tercipta oleh kesaktian Batara Guru, dan diakukan sebagai anak Batara Narada.

      Kisahnya begini:
      Ketika Anoman lahir dan kemudian bersama ibunya dibawa ke kahyangan, Batara Guru sebagai ayahnya menggendong dan menimang-nimang bayi kera berbulu putih itu. Melihat hal itu, Batara Narada tidak dapat menahan rasa gelinya, sehingga is tertawa terbahak. Batara Guru merasa tersinggung, lalu berkata: "Cobalah lihat punggung Anda sendiri..." Ternyata, pada saat itu juga di punggung Batara Narada telah menempel seekor bayi kera berwarna ungu. Ketika Batara Narada sedang bingung karena tiba-tiba ada bayi kera menggelendot di punggungnya, Batara Guru berkata lagi: "Itulah anak Anda ......"

      Sesudah dewasa, Anila menjadi patih di Kerajaan Guwakiskenda, yakni ketika Prabu Sugriwa menjadi raja negeri itu. Seperti juga rajanya, Patih Anila pun ikut bertempur di pihak Ramawijaya ketika menggempur Kerajaan Alengka untuk membebaskan Dewi Sinta. Dalam peperangan itu Patih Anila dengan bantuan Kapi Pramudya berhasil merebut Kembang Dewaretna yang sempat dirampas oleh Prabu Dasamuka dari tangan Batara Ganesya. Anila kemudian bahkan berhasil membunuh Patih    Prahasta yang mencoba mempertahankan Kembang Dewaretna. Kepala Patih Prahasta, paman Prabu Dasamuka, diremukkan dengan sebuah tugu batu. Tugu itu adalah penjelmaan Dewi Windradi atau Indradi yang dikutuk oleh suaminya, Begawan Gotama.

      Lakon-lakon yang melibatkan Anila:
      • Anggada Duta
      • Rama Tambak
      • Prahasta Lena
      • Bukbis
      • Brubuh Alengka

       
      PATIH ANILA, Wayang Kulit Purwa gagrak Jawa timuran. 

       
      ANILA, gambar grafis Wayang Kulit Purwa gagrak Yogyakarta.

      ANILA, gambar grafis Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta.

       
      ANILA, Wayang Kulit Purwa Bali.
      {[['']]}

      Anggraini, Dewi

      ANGGRAINI, DEWI, oleh para penggemar wayang di Indonesia sering digunakan sebagai lambang kesetiaan seorang istri pada suaminya. Wanita cantik itu adalah permaisuri Bambang Ekalaya alias Palgunadi, raja negeri Nisada atau Kerajaan Paranggelung. Dewi Anggraini memilih mati daripada mengkhianati cintanya pada suami.

      Suatu ketika Anggraini bertemu dengan Arjuna. Walaupun telah diberi tahu bahwa Anggraini sudah bersuami, Arjuna, yang merasa dirinya tampan dan sakti, dengan berbagai cara tetap berusaha merayunya. Setelah rayuannya gagal, Arjuna mencoba hendak memaksakan kehendaknya dengan cara kekerasan. Namun Dewi Anggraini memilih mati bunuh diri. Karena peristiwa ini Prabu Ekalaya marah. Ia menuntut agar Arjuna melayaninya berperang tanding. Alkirnya, dengan tipu daya Kresna yang membantu Arjuna, Ekalaya pun mati menyusul istrinya.

      Jalan cerita mengenai kematian Ekalaya atau Palgunadi dan Dewi Anggraini, dalam pewayangan agak berbeda. Ketika Arjuna hampir berhasil memaksakan kehendaknya pada Dewi Anggraini, Aswatama memergokinya. Putra Begawan Drona itu berhasil mencegah perbuatan nista yang akan dilakukan Arjuna pada Anggraini. Terjadilah perkelahian.

      Kesempatan itu digunakan Anggraini untuk lari pulang ke Kerajaan Paranggelung. Segera Anggraini mengadukan peristiwa itu pada suaminya. Namun Palgunadi tidak percaya. Ia tidak yakin Arjuna yang dikenalnya sebagai ksatria berbudi luhur mau berlaku senista itu. Prabu Palgunadi bahkan mencurigai istrinya sengaja hendak mengadu dia dengan Arjuna, dan bila ia mati terbunuh, Anggraini akan mempunyai kesempatan menjadi istri Arjuna.

      Dewi Anggraini berusaha keras meyakinkan suaminya bahwa ia berkata yang sebenarnya, namun Palgunadi tetap tidak man percaya. Kecurigaan Palgunadi pada istrinya dapat dihilangkan setelah Aswatama datang memberikan kesaksian akan kebenaran laporan Dewi Anggraini.

      Sesudah yakin istrinya berada di pihak yang benar, Prabu Palgunadi dengan kemarahan yang meluap segera berangkat ke Kasatrian Madukara, tempat tinggal Arjuna, untuk menyelesaikan soal itu sebagai secara laki-laki. Dalam perang tanding di antara keduanya, Palgunadi gugur. Mendengar berita kematian suaminya, Dewi Anggraini bunuh diri.


      DEWI ANGGRAINI, gambar grafis Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta.
      {[['']]}

      About

       
      Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
      Copyright © 2011. Blvckshadow - All Rights Reserved
      Template Created by Creating Website Published by Mas Template
      Proudly powered by Blogger