Latest update :
Recent Updates

Anjani, Dewi

ANJANI, DEWI, walau resminya adalah putri sulung Begawan Gotama dari pertapaan Gratina, di Gunung Sukendra, ayah yang sebenarnya adalah Batara Surya. Ibunya seorang bidadari bernama Dewi Indradi atau Dewi Windradi. Adiknya dua, laki-laki semua. Namanya Subali alias Guwarsi, dan Sugriwa alias Guwarsa. Keduanya sesungguhnya juga anak Batara Surya. Karena peristiwa Cupumanik Astagina, Dewi Anjani yang semula seorang gadis cantik berubah menjadi wanita berwajah kera.

Peristiwanya adalah sebagai berikut:
Suatu hari Dewi Anjani memergoki ibunya sedang bermain-main dengan Cupumanik Astagina, yakni sebuah alat yang berkhasiat untuk melihat menikmati keindahan alam dunia. Dewi Anjani menyaksikan, betapa ibunya asyik dengan Cupu Manik Astagina, yang dikiranya alat permainan itu. Waktu Anjani meminta mainan itu, ibunya terpaksa memberikannya karena takut putrinya itu akan mengadukan soal adanya Cupumanik Astagina pada Begawan Gotama, suaminya. Dewi Indradi wanti-wanti berpesan agar Dewi Anjani menyembunyikan dan senantiasa merahasiakan alat permainan itu.

"Jangan sampai ada orang yang mengetahui adanya alat permainan itu", kata Dewi Indradi.

Namun Dewi Anjani ternyata tidak mematuhi pesan ibunya. la justru memamerkan Cupumanik Astagina pada kedua adiknya. Segera terjadilah keributan di antara mereka. Ketiga bersaudara itu saling memperebutkan Cupumanik Astagina.

Keributan karena pertengkaran itu akhirnya mengganggu Begawan Gotama yang sedang samadi. Ia mendatangi ketiga anaknya dan melihat apa yang mereka perebutkan. Betapa terkejutnya Begawan Gotama ketika tabu bahwa yang diperebutkan anak-anaknya adalah Cupumanik Astagina, yang diketahuinya sebagai milik Batara Surya. Dewi Indradi pun segera dipanggil dan ditanya mengenai asal usul Cupumanik Astagina. Karena takut, Dewi Indradi bungkam, tak berani menjawab. Begawan Gotama marah dan cupu itu dilemparkannya jauh-jauh. Kepada ketiga anaknya is berkata, siapa yang dapat menemukan cupu itu, maka ia boleh memilikinya.

Kepada Dewi Indradi yang diam saja waktu ditanya, ia pun berkata: "Ditanya kok diam saja, seperti tugu ..." Kesaktian Begawan Gotama menyebabkan kata-katanya bertuah, dan seketika itu juga Dewi Indradi berubah ujud menjadi tugu.

Cupumanik Astagina yang dilemparkan Begawan Gotama jatuh di Telaga Mandirda (di pewayangan disebut Telaga Sumala, "mala" artinya cacat, penyakit, dosa, atau kesalahan; "su" berarti banyak atau sangat, sedangkan Telaga Nirmala artinya bebas dari penyakit, karena "nir" berarti bebas atau tidak terkena).  Guwarsa dan Guwarsi yang larinya lebih cepat dibandingkan Dewi Anjani, sampai ke telaga itu lebih dahulu. Kedua kakak beradik itu segera terjun dan menyelam ke dalam air telaga mencari Cupumanik Astagina. Dewi Anjani yang datang lebih lambat, sampai ke telaga itu dalam keadaan lelah. la segera membungkuk dan mencuci muka dengan air telaga itu untuk menghilangkan lelahnya. Sementara itu, dua orang pengasuh Guwarsa dan Guwarsi yaitu Menda dan Jembawan, berlarian pula mengikuti anak asuhannya. Mereka pun ikut terjun ke telaga.

Terjadilah keajaiban.
Begitu muncul kembali ke permukaan telaga, Sugriwa dan Subali (atau Guwarsa dan Guwarsi) telah berubah ujud menjadi kera. Sedangkan Dewi Anjani, hanya wajahnya saja yang berubah ujud menjadi kera, tetapi tubuhnya tetap manusia biasa. Wajah keranya, tidak mengurangi keindahan tubuh Dewi Anjani yang masih remaja itu. Menda dan Jembawan, yang juga berubah ujud menjadi kera, selanjutnya disebut Kapi Menda dan Kapi Jembawan. Kapi berarti kera.

Ketiga anak Begawan Gotama menyesal sekali atas kejadian yang mereka alarm itu. Mereka lalu kembali ke pertapaan. Begawan Gotama menyarankan agar anak-anaknya mau menerima takdir. Selain itu ia juga mengganti nama mereka. Guwarsa diganti namanya menjadi Subali, sedangkan Guwarsi menjadi Sugriwa. Keduanya lalu disuruh pergi ke tengah hutan untuk bertapa. Dewi Anjani pun melakukan hal yang serupa. la bertapa nyantoka, yaitu bertelanjang, membenamkan tubuhnya, hanya kepalanya saja yang menyembul di permukaan air Telaga Nirmala selama berbulan-bulan. Selama bertapa itu Dewi Anjani hanya memakan apa saja yang hanyut di permukaan air telaga itu.

Pada suatu ketika, Batara Guru sedang melayang di angkasa mengendarai Lembu Andini. Saat itulah pemuka dewa itu melihat seorang wanita tanpa busana berendam di Telaga Nirmala. Timbul birahi Batara Guru menyaksikan keindahan tubuh wanita itu sehingga jatuhlah kama benih (mani)nya menimpa setangkai daun asam muda, yang dalam bahasa Jawa disebut sinom. Daun yang telah ternoda kama benih itu hanyut ke arah Dewi Anjani, yang segera meraih dan memakannya. Betapa sedihnya Anjani ketika ia menyadari tiba-tiba dirinya hamil, padahal merasa belum pernah tersentuh pria. Maka ia pun protes kepada para dewa. Batara Guru dan Batara Narada kemudian datang nenemuinya, memberi penjelasan mengenai apa yang telah terjadi. Batara Guru juga menyatakan bersedia mengaku, bahwa janin yang dikandung Dewi Anjani adalah anaknya.

Ketika datang waktunya bersalin, timbul huru hara dunia. Gunung meletus, banjir mengganas dan badai terjadi di mana-mana. Setelah mengetahui penyebab  bencana itu, Batara Guru mengutus beberapa orang bidadari menolong Dewi Anjani. Setelah lahir, anak Dewi Anjani itu diberi nama Anoman, berupa seekor kera berbulu putih mulus. Selanjutnya Dewi Anjani diperkenankan masuk ke kahyangan dan kembali pada ujudnya semula, seorang wanita cantik. Anaknya pun dibesarkan dan dididik di kahyangan. Kelak, anak yang dilahirkan Anjani itu akan menjadi ksatria perkasa yang berumur panjang, walaupun ia berujud kera.




DEWI ANJANI, Wayang Kulit Purwa gagrak Yogyakarta. 
Selain wajahnya, kedua telapak tangan Dewi Anjani serupa dengan telapak tangan kera, 
karena terkena air Telaga Sumala sewaktu mencuci muka.
DEWI ANJANI, dalam ujud sebagai putri cantik (kiri) dan sebagai raseksi (kanan).
Gambar grafis Wayang Kulit Purwa gagrak Yogyakarta.
 DEWI ANJANI, dalam bentuk wanita berwajah wanara atau kera.
Gambar grafis Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta.
DEWI ANJANI, dalam bentuk wanita cantik, 
gambar grafis Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta.


DEWI ANJANI, Wayang Kulit Purwa gagrak Jawatimuran.
DEWI ANJANI dalam Wayang Golek Purwa Sunda.
DEWI ANJANI, dalam bentuk wanita berwajah kera,
gambar grafis bergaya komik wayang sesuai penampilan di panggung Wayang Orang 
gaya Surakarta.
{[['']]}

Animandaya, Begawan

ANIMANDAYA, BEGAWAN, terkadang disebut Begawan Nimandaya atau Nimandawya, adalah pertapa Sakti yang mengutuk Batara Darma sehingga dewa kejujuran, keadilan, dan kebenaran itu harus menjalani hidup sebagai manusia biasa yang dilahirkan oleh wanita berdarah sudra.

Pada suatu saat ketika:
Begawan Animandaya sedang bertapa membisu, seorang pencuri masuk ke pertapaannya. Pencuri itu menyembunyikan barang curiannya di salah satu sudut pertapaan, kemudian ia bersembunyi. Beberapa saat kemudian datanglah para punggawa kerajaan yang mengejar pencuri itu. Mereka menanyakan kepada sang Pertapa, di manakah pencuri itu bersembunyi. Namun karena selama bertapa mbisu tidak boleh berbicara, Begawan Animandaya tidak menjawab sepatah kata pun. la tetap saja meneruskan tapanya.
Karena tidak mendapat jawaban, para prajurit lalu masuk dan menggeledah pertapaan. Tidak lama kemudian mereka menemukan barang curian itu. Karena adanya barang bukti itu Begawan Animandaya ditangkap dan dibawa ke hadapan raja.

Sang Raja menanyakan soal barang curian yang ditemukan di pertapaan itu kepada Begawan Animandaya, tetapi pertapa itu tetap saja membisu. Akibatnya, sang Raja marah dan menjatuhkan hukuman yang amat berat kepada Begawan Animandaya. Tubuh pertapa itu ditusuk dengan tombak di bagian anusnya, tembus hingga ke ubun-ubun. Namun karena kesaktian yang dimilikinya, Begawan Animandaya tidak mati. ia tetap hidup dan sehat segar, walaupun sebatang tombak membuat tubuhnya seperti sate. Melihat kesaktian sang Pertapa yang luar biasa ini sang Raja menyesal dan minta maaf atas kecerobohannya menjatuhkan hukuman. Sang Pertapa memaafkannya.

Bertahun-tahun kemudian Begawan Animandaya meninggal karena usia tua. Di kahyangan suksma sang Pertapa datang menemui Batara Darma dan menanyakan tentang pengalamannya ketika hidup di dunia. Mengapa ketika masih hidup dulu ia harus menerima nasib buruk dan mengalami penyiksaan keji padahal selalu berbuat kebaikan. Batara Darma menjawab, memang seingat Animandaya ia selalu berbuat kebaikan dan tidak pernah berbuat keji. Namun Batara Darma mengingatkan, ketika masih kecil Animandaya pernah menyiksa seekor belalang dengan menusuk tubuh binatang itu hidup-hidup dengan sebatang lidi. Menurut Dewa Keadilan, apa yang pernah dialami oleh Begawan Animandaya semasa hidupnya sudah sesuai dengan karmanya.

Jawaban Batara Darma ini tidak memuaskan Begawan Animandaya. Setahu pertapa itu, aturan agama apa pun tidak menyebutkan bahwa perbuatan anak-anak tidak dianggap sebagai suatu dosa, apa lagi bilamnna si Anak yang berbuat itu belum paham mengenai soal salah dan benar. Mendengar bantahan Animandaya itu, Batara Darma terdiam. Ia tidak dapat menjawab.

Karena tidak puas, Animandaya lalu mengucapkan kutukannya, Batara Darma harus menjalani hidup di dunia sebagai manusia biasa, dan dilahirkan oleh seorang wanita berdarah sudra. Kutukan itu ternyata terbukti, Batara Darma terpaksa turun ke dunia dan menitis pada Yama Widura, putra Abiyasa dari Dayang Drati, seorang pelayan istana yang berdarah sudra.


BEGAWAN ANIMANDAYA, gambar grafis Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta.
{[['']]}

Anila

ANILA, berujud kera bertubuh kecil, pendek, dan agak gendut, tetapi berakal cerdik seperti manusia. Dalam pewayangan ia dianggap berderajat ksatria. Karena kesaktian serta kecerdikannyalah maka ia diangkat sebagai patih di Kerajaan Guwakiskenda pada masa pemerintahan Prabu Sugriwa.
Kera yang berbulu ungu nila ini dianggap sebagai anak Batara Narada, walaupun sebenarnya ia tidak pernah dilahirkan oleh siapa pun. Anila ada karena tercipta oleh kesaktian Batara Guru, dan diakukan sebagai anak Batara Narada.

Kisahnya begini:
Ketika Anoman lahir dan kemudian bersama ibunya dibawa ke kahyangan, Batara Guru sebagai ayahnya menggendong dan menimang-nimang bayi kera berbulu putih itu. Melihat hal itu, Batara Narada tidak dapat menahan rasa gelinya, sehingga is tertawa terbahak. Batara Guru merasa tersinggung, lalu berkata: "Cobalah lihat punggung Anda sendiri..." Ternyata, pada saat itu juga di punggung Batara Narada telah menempel seekor bayi kera berwarna ungu. Ketika Batara Narada sedang bingung karena tiba-tiba ada bayi kera menggelendot di punggungnya, Batara Guru berkata lagi: "Itulah anak Anda ......"

Sesudah dewasa, Anila menjadi patih di Kerajaan Guwakiskenda, yakni ketika Prabu Sugriwa menjadi raja negeri itu. Seperti juga rajanya, Patih Anila pun ikut bertempur di pihak Ramawijaya ketika menggempur Kerajaan Alengka untuk membebaskan Dewi Sinta. Dalam peperangan itu Patih Anila dengan bantuan Kapi Pramudya berhasil merebut Kembang Dewaretna yang sempat dirampas oleh Prabu Dasamuka dari tangan Batara Ganesya. Anila kemudian bahkan berhasil membunuh Patih    Prahasta yang mencoba mempertahankan Kembang Dewaretna. Kepala Patih Prahasta, paman Prabu Dasamuka, diremukkan dengan sebuah tugu batu. Tugu itu adalah penjelmaan Dewi Windradi atau Indradi yang dikutuk oleh suaminya, Begawan Gotama.

Lakon-lakon yang melibatkan Anila:
  • Anggada Duta
  • Rama Tambak
  • Prahasta Lena
  • Bukbis
  • Brubuh Alengka

 
PATIH ANILA, Wayang Kulit Purwa gagrak Jawa timuran. 

 
ANILA, gambar grafis Wayang Kulit Purwa gagrak Yogyakarta.

ANILA, gambar grafis Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta.

 
ANILA, Wayang Kulit Purwa Bali.
{[['']]}

Anggraini, Dewi

ANGGRAINI, DEWI, oleh para penggemar wayang di Indonesia sering digunakan sebagai lambang kesetiaan seorang istri pada suaminya. Wanita cantik itu adalah permaisuri Bambang Ekalaya alias Palgunadi, raja negeri Nisada atau Kerajaan Paranggelung. Dewi Anggraini memilih mati daripada mengkhianati cintanya pada suami.

Suatu ketika Anggraini bertemu dengan Arjuna. Walaupun telah diberi tahu bahwa Anggraini sudah bersuami, Arjuna, yang merasa dirinya tampan dan sakti, dengan berbagai cara tetap berusaha merayunya. Setelah rayuannya gagal, Arjuna mencoba hendak memaksakan kehendaknya dengan cara kekerasan. Namun Dewi Anggraini memilih mati bunuh diri. Karena peristiwa ini Prabu Ekalaya marah. Ia menuntut agar Arjuna melayaninya berperang tanding. Alkirnya, dengan tipu daya Kresna yang membantu Arjuna, Ekalaya pun mati menyusul istrinya.

Jalan cerita mengenai kematian Ekalaya atau Palgunadi dan Dewi Anggraini, dalam pewayangan agak berbeda. Ketika Arjuna hampir berhasil memaksakan kehendaknya pada Dewi Anggraini, Aswatama memergokinya. Putra Begawan Drona itu berhasil mencegah perbuatan nista yang akan dilakukan Arjuna pada Anggraini. Terjadilah perkelahian.

Kesempatan itu digunakan Anggraini untuk lari pulang ke Kerajaan Paranggelung. Segera Anggraini mengadukan peristiwa itu pada suaminya. Namun Palgunadi tidak percaya. Ia tidak yakin Arjuna yang dikenalnya sebagai ksatria berbudi luhur mau berlaku senista itu. Prabu Palgunadi bahkan mencurigai istrinya sengaja hendak mengadu dia dengan Arjuna, dan bila ia mati terbunuh, Anggraini akan mempunyai kesempatan menjadi istri Arjuna.

Dewi Anggraini berusaha keras meyakinkan suaminya bahwa ia berkata yang sebenarnya, namun Palgunadi tetap tidak man percaya. Kecurigaan Palgunadi pada istrinya dapat dihilangkan setelah Aswatama datang memberikan kesaksian akan kebenaran laporan Dewi Anggraini.

Sesudah yakin istrinya berada di pihak yang benar, Prabu Palgunadi dengan kemarahan yang meluap segera berangkat ke Kasatrian Madukara, tempat tinggal Arjuna, untuk menyelesaikan soal itu sebagai secara laki-laki. Dalam perang tanding di antara keduanya, Palgunadi gugur. Mendengar berita kematian suaminya, Dewi Anggraini bunuh diri.


DEWI ANGGRAINI, gambar grafis Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta.
{[['']]}

Anggawangsa, Resi

ANGGAWANGSA, RESI, dalam buku-buku wayang yang lama ditulis Hanggawangsa, adalah raksasa pertapa yang menolong Dewi Maerah setelah permaisuri Prabu Basudewa itu dibuang ke hutan dalam keadaan berbadan dua. Oleh Resi Anggawangsa, Dewi Maerah dibawa ke Pertapaan Wisarengga dan dirawat dengan baik sampai pada saat melahirkan. Setelah cukup bulannya, bayi dalam kandungan itu lahir dengan selamat dan diberi nama Kangsa. Namun beberapa hari kemudian Dewi Maerah meninggal dunia karena sakit setelah bersalin.

Resi Anggawangsa lalu mendidik dan mengajar Kangsa dengan berbagai ilmu sehingga anak Dewi Maerah itu tumbuh menjadi pemuda yang sakti. Setelah dewasa, Resi Anggawangsa mengatakan bahwa Kangsa sebenarnya adalah putra Dewi Maerah, permaisuri Prabu Basudewa. Karena itu Resi Anggawangsa lalu menyarankan agar Kangsa pergi ke Kerajaan Mandura. Penjelasan dan saran Resi Anggawangsa ini tidak salah, namun kurang tepat. Karena sesungguhnya Kangsa adalah anak Prabu Gorawangsa yang menyaru sebagai Basudewa, sehingga Dewi Maerah tertipu dan bersedia melayani hasrat cintanya.

RESI ANGGAWANGSA, gambar grafis Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta.
{[['']]}

Anggada

ANGGADA, salah satu tokoh wayang yang berujud kera berbulu merah. la anak tunggal Resi Subali, raja kcra dari Kerajaan Guwakiskenda, sedangkan ibunya seorang bidadari bernama Dewi Tara. itulah sebabnya, ia juga disehut Subaliputra atau Subalisuta. Ketika masih bayi, ayahnya tewas dipanah oleh Ramawijaya pada saat sedang berkelahi mclawan Sugriwa, adiknya. Mereka herkelahi memperebutkan Dewi Tara, sekaligus juga memperebutkan kekuasaan di Guwakiskenda. Setelah ayahnya meninggal dan ibunya kawin dengan Sugriwa, Anggada diasuh dan dididik dengan baik serta penuh kasih sayang oleh Sugriwa.
Dalam cerita Ramayana dikisahkan Anggada ikut berperang di pihak Prabu Ramawijaya dari Kerajaan Ayodya, yang waktu itu berperang melawan balatentara Krajaan Alengka yang dipimpin oleh Prabu Rahwana. Walaupun usianya masih muda, oleh Prabu Sugriwa, pamannya, Anggada dipercaya sebagai salah satu senapati bala tentara kera dari Guwakiskenda yang diperbantukan pada Rama. Karena itu sewaktu Rama merasa sudah cukup kuat untuk menggempur Alengka, ia mengutus Anggada menghadap Prabu Dasamuka. Tugas Anggada sebagai duta Rama adalah untuk menjajagi kekuatan Alengka, sekaligus memberi ultimatum.

Dengan mandat Rama, Anggada mengajukan pilihan pada raja Alengka itu: apakah bersedia membebaskan Dewi Sinta secara baik-baik, atau tetap bersikukuh mempertahankannya. Jika Dasamuka tetap mempertahankan Dewi Sinta, berarti akan pecah perang. Prabu Dasamuka bukan menanggapi pilihan itu, melainkan mengingatkan hahwa sesungguhnya Anggada adalah keponakannya. Dewi Tara, ibu Anggada adalah adik Dewi Tari, istri Dasamuka. Prabu Dasamuka juga mengingatkan bahwa ayah Anggada yaitu Resi Subali, adalah guru Dasamuka. Dengan demikian Dasamuka adalah murid ayahnya. Lagi Pula Resi Subali tewas karena dibunuh oleh Ramawijaya yang bersckutu dengan Sugriwa.

Hasutan Prabu Dasamuka ini akhirnya dapat mempengaruhi pendirian Anggada. Apalagi ketika itu Dasamuka sengaja menghidangkan berbagai minuman yang memabukkan pada Anggada. Karena itu Anggada kembali ke markas pasukan Rama di Suwelagiri dengan dada penuh dendam. Di Suwelagiri, tepat di perkemahan pasukan Rama, Anggada langsung mengamuk dan berteriak-teriak mengancam Rama. Sugriwa, pamannya, bersama dengan Anoman, segera datang meringkusnya. Prabu Sugriwa menjelaskan bahwa Rama membunuh Resi Subali semata-mata karena mengemban tugas dari para dewa. Oleh para dewa Subali dipersalahkan telah mengajarkan Ilmu Aji Pancasona kepada Rahwana, yang diketahui selama ini selalu bertindak angkara murka. Usaha Sugriwa untuk menyadarkan kembali Anggada akhirnya berhasil. Putra Subali itu akhirnya insyaf bahwa ia sudah dihasut oleh Dasamuka. Permohonan maafnya dikabulkan Ramawijaya.
Di Pewayangan, kisah itu diceritakan dalam lakon  Anggada Balik.

Lakon-lakon yang melibatkan Anggada:
  • Anggada Duta
  • Anggada Balik
  • Rama Tambak
  • Brubuh Alengka
  • Rama Nitis
ANGGADA, Wayang Kulit Purwa gagrak Yogyakarta.

 
ANGGADA, gambar grafis Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta.

ANGGADA, gambar grafis Wayang Kulit Purwa gagrak Yogyakarta. 




ANGGADA, Wayang Golek Purwa Sunda.


ANGGADA, Wayang Kulit Purwa Bali.

{[['']]}

Adirata

ADIRATA, yang juga bergelar Prabu Radeya, adalah raja Petapralaya. Istrinya bernama Dewi Nadha atau Radha. Mereka tidak mempunyai anak. Setelah mohon petunjuk para dewa, Adirata bertapa di tepi Sungai Swilugangga, dan tak lama kemudian ia menemukan sebuah kendaga, kotak kayu, berisi seorang bayi. Bayi itu dipungut anak, dan diberi nama Basukarna.

Adirata menurut Kitab Mahabarata, menjadi tokoh bukan karena is sakti atau mempunyai darah bangsawan. Ia adalah ayah angkat Adipati Karna, atau Basukarna, yang sebenarnya adalah anak sulung Dewi Kunti dari Batara Surya. Kedudukannya sebagai ayah angkat Karna itulah yang menyebubkan namanya tercatat dalam dunia pewayangan.

Adirata sendiri pada mulanya hanya seorang sais atau kusir kereta dan pemelihara kuda-kuda milik Kerajaan Astina. Suatu hari ketika pergi menangkap ikan, ia menemukan seorang bayi dalam sebuah peti yang terapung di sungai. Bayi itu adalah Karna yang dibuang oleh ibunya atas perintah Prabu Kuntiboja, raja Mandura, ayah Dewi Kunti Nalibrangta. Bersama istrinya yang bemama Nanda, dipeliharanya bayi itu balk-balk dengan penuh kasih sayang. Kebetulan Adirata dan Nanda memang tidak mempunyai anak. Kelak, setelah Karna dewasa, anak angkatnya itulah yang kemudian mengangkat derajat Adirata. Sampai menjelang pecahnya Baratayuda, Karna tetap mengira Adirata dan Nanda adalah ayah dan ibu kandungnya.

Tentang Adirata ini, sebagian dalang menyebutkan bahwa is adalah seorang raja di Petapralaya, kerajaan kecil jajahan Astina. Cerita mengenai Adirata ini agak berbeda antara pewayangan dengan Kitab Mahabarata. Pada Kitab Mahabarata, Adirata bukanlah sais kereta Kerajaan Astina, melainkan raja sebuah negeri kecil bernama Angga yang merupakan negeri taklukan Kerajaan Astina. Dalam Mahabarata Adirata dituliskan dengan ejaan Adhiratha, dan istrinya bukan bemama Nanda, melainkan Radha. Karena itulah Adipati Karna terkadang disebut Radhea, yang artinya anak Radha.


ADIRATA, Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta karya Ki Bambang Suwarno.


ADIRATA, gambar grafis Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta
{[['']]}

Adimanggala

ADIMANGGALA, resminya adalah anak Ki Demang Antagopa dari Widarakandang. Tetapi sebenarnya ia adalah anak gelap yang lahir dari skandal yang dilakukan ibunya, Ken Sayuda, dengan Ugrasena putra Prabu Basukunti, raja Mandura. Untuk menutupi berbagai skandal yang melibatkan Ken Sayuda, wanita cantik itu dikawinkan dengan Antagopa, Demang Widarakandang. Ken Sayuda, oleh sebagian dalang disebut Ken Yasoda.
Setelah dewasa Adimanggala menjadi patih di negri Awangga, pada zaman pemerintahan Adipati Karna. Dalam Baratayuda Patih Adimanggala bertempur di pihak Kurawa. Ia mati sampyuh, mati bersama lawannya, Patih Jayasemadi.
Namun tentang kematian Patih Adimanggala ini sebagian dalang menceritakan lain lagi. Begini:
Ketika berlangsung Baratayuda, Adimanggala ditugasi selalu melaporkan keadaan perang kepada Dewi Surtikanti. Suatu ketika Adimanggala memberi laporan yang tidak jelas, sehingga Dewi Surtikanti salah mengerti dan mengira suaminya gugur. Istri Adipati Karna itu lalu bunuh diri.
Dalam pewayangan, Ki Dalang menceritakan, ketika menghadap Dewi Surtikanti, antara lain Patih Adimanggala mengatakan: "... nyuwun sedah". Kata-kata itu terdengar oleh Sang Dewi sebagai: "... sampun seda. " Kalimat pertama artinya minta sirih, sedangkan yang kedua artinya sudah gugur.
Ketika Adipati Karna tahu peristiwa kematian istrinya ini, ia tidak dapat lagi menahan amarahnya, dan langsung membunuh Patih Adimanggala.
Sementara itu versi lain menyebutkan, kematian Adimanggala bukan karena dibunuh Adipati Karna, tetapi justru terjadi setelah Adipati Awangga itu gugur. Setelah junjungannya gugur, Patih Adimanggala mengamuk di gelanggang Kurusetra. Barisan prajurit Pandawa kewalahan menghadapinya, sehingga Kresna memerintahkan Patih Udawa untuk menghadapinya. Sebenarnya, Udawa tidak tega menghadapi saudara kandungnya sendiri di medan laga. Namun ia pun tidak berani membantah perintah Kresna. Karenanya, dengan menghunus Kyai Gandaludira, Udawa maju ke kancah pertempuran dengan memejamkan mata. Adimanggala akhirnya gugur tergores ujung keris kakaknya itu.



PATIH ADIMANGGALA, gambar grafis Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta.
{[['']]}

Abiyasa

ABIYASA, yang bergelar begawan, adalah kakek keluarga Pandawa dan Kurawa. Ayah Abiyasa adalah Begawan Palasara, pertapa terkenal dari gunung Rahtawu. Ibunya, yang bernama Dewi Durgandini telah pergi meninggalkannya sejak Abiyasa masih bayi. Ayahnyalah yang memelihara, merawat, membersarkan, dan mendidik Abiyasa. Mula-mula mereka berkelana dari negeri satu ke negeri lainnya, tetapi kemudian menetap di Pertapaan Sata Arga (di pedalangan sering disebut Sapta Arga). Dari Begawan Palasara ia mewarisi bakat sebagai pertapa, selain mendapat pengajaran mengenai ilmu kesusastraan dan ketatanegaraan.

Menurut cerita pewayangan, ketika masih bayi Abiyasa pernah berebut air susu Dewi Durgandini dengan bayi Dewabrata, yang kemudian lebih dikenal dengan Resi Bisma. Waktu itu, Sentanu datang ke Astina bersama Dewabrata, dan minta agar Dewi Durgandini mau membagi air susunya pada Dewabrata. Dewi Durgandini, yang saat itu menjadi permaisuri Palasara tidak berkeberatan. Tetapi ternyata Dewabrata amat rakus, sehingga Abiyasa sering tidak kebagian air susu ibunya sendiri. Ini membuat Palasara, yang ketika itu sudah menjadi raja dan bergelar Prabu Dipakiswara, marah.

Karena persoalan air susu itu akhirnya Sentanu berperang tanding dengan Palasara. Batara Narada yang turun dari Kahyangan segera datang melerai mereka. Dewa itu mengatakan bahwa sesuai kehendak para dewa, Palasara harus mengalah pada Sentanu. Ia harus merelakan tahta Kerajaan Astina dan juga permaisurinya, Dewi Durgandini. Dengan begitu, ketika masih bayi Abiyasa terpaksa kehilangan ibu.

Lakon-lakon yang melibatkan Abiyasa:
  • Abiyasa lahir
  • Wahmuka-Arimuka
  • Abiyasa Krama (Abiyasa Kawin)
  • Abiyasa Maguru
  • Abiyasa Boyong
  • Abiyasa Dadi Ratu
  • Seta Ngraman
  • Jumenengan Parikesit
  • Abiyasa Moksa
 
ABIYASA, sebagai Begawan atau pertapa, Wayang Kulit Purwa gagrak Yogyakarta.


 
ABIYASA, sebagai raja Astina bergelar Prabu Krisnadwipayana.
Gambar grafis Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta.

 
PRABU KRESNADWIPAYANA, Wayang Kulit gagrak Yogyakarta.
Berbeda dengan gagrak Surakarta, wayang ini tidak mengenakan mahkota,
walaupun ia raja.


Abiyasa, Wayang Kulit Purwa gagrak Jawa Timur.


TIGA orang putra Abiyasa.(dari kiri ke kanan): 
Drestarasta, putra Dewi Ambika. Pandu Dewanata, putra Dewi Amabalika; 
dan Yama Widura, putra Dayang Drati.
Gambar grafis Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta.

AABIYASA semasa muda.
Wayang Kulit Purwa gagrak Yogyakarta.


BEGAWAN ABIYASA sebagai pertapa di Sata Arga atau Sapta Arga.
Gambar grafis Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta.


ABIYASA, penampilan sedang marah.
Wayang Kulit Purwa gagrak Yogyakarta. Wayang ini ditampilkan antara lain 
pada lakon Seta Ngraman. Ujud wayang ini agak mirip dengan 
wayang Bima atau Werkudara.


 
ABIYASA, gambar grafis bargaya buku komik wayang 
berdasarkan penampilan pada panggung Wayang Orang gaya Surakarta. 


BEGAWAN ABIYASA, pada penampilan dalam Wayang Golek Purwa Sunda.


{[['']]}

Abimanyu

ABIMANYU, putra kesayangan Arjuna dari salah seorang istrinya yang bernama Dewi Subadra, yang dalam pewayangan lebih dikenal dengan sebutan Wara Sembadra. Nama Abimanyu mengandung arti "kalau ia sedang marah, tak ada yang berani mendekat".
Abi atau abhi artinya dekat, manyu artinya marah.

Berbagai lakon yang melibatkan Abimanyu:
  • Abimanyu Lair (lahirnya Abimanyu)
  • Bambang Senggoto (Bambang Semboto)
  • Bambang Wijanarka
  • Abimanyu Kerem
  • Abimanyu Gendong
  • Murcalelana
  • Bima Kopek
  • Abimanyu Krama
  • Gendreh Kemasan
  • Gambir Anom
  • Wahyu Cakraningrat
  • Wahyu Widayat
  • Kitiran Petak (Kitiran Putih)
  • Mayanggana
  • Abimanyu Gugur (Baratayuda)

ABIMANYU, gambar grafis Wayang Kulit Purwa gagrak Yogyakarta.



  
ABIMANYU, Wayang Kulit Purwa gagrak Yogyakarta.
Kiri: Abimanyu Jangkahan, dan kanan: Abimanyu wanda Padasih.
 

 ABIMANYU, gambar grafis Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta
 

ABIMANYU, Wayang Kulit Purwa gagrak Cirebon.



ABIMANYU, Wayang Kulit Purwa gagrak Jawatimuran dirupakan dalam dua bentuk, yakni Abimanyu ore untuk peran-peran pada waktu remaja, dan 
Abimanyu ukel untuk peran setelah dewasa.



  Dua orang istri Abimanyu, DEWI SITI SUNDARI dan DEWI UTARI.
Gambar grafis Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta.


 ABIMANYU, dalam penampilan di Wayang Golek Purwa Sunda.






ABIMANYU, gambar grafis gaya buku komik wayang, 
berdasarkan penampilan di panggung Wayang Orang gaya Surakarta.
{[['']]}

Abilawa, Jagal

ABILAWA, JAGAL, adalah nama samaran yang digunakan oleh Bima ketika ia bersama saudara-saudaranya, para Pandawa lainnya, dan Dewi Drupadi bersembunyi di Kerajaan Wirata. Ini terjadi sesudah para Pandawa yang disertai Dewi Drupadi selesai menjalani masa pembuangan di hutan selama 12 tahun, karena kalah di meja judi. Menurut perjanjian yang telah disepakati antara pihak Pandawa dan Kurawa, sesudah masa pembuangan itu Pandawa harus bersembunyi dan menyamar selama satu tahun. Bilamana dalam waktu setahun itu salah seorang di antara para Pandawa dapat ditemukan dan dikenali penyamarannya oleh Kurawa, mereka harus menjalani hukuman pembuangan di hutan selama 12 tahun lagi. Dalam penyamarannya Bima alias Abilawa bekerja sebagai penyembelih hewan ternak yang dalam bahasa Jawa disebut jagal. Ia bekerja pada seorang juru masak istana Wirata bernama Jagal Welakas. Selama setahun bersembunyi di Kerajaan Wirata, Abilawa sempat membunuh tiga orang senapati Wirata yang bernama Rajamala, Rupakenca, dan Kencakarupa. Mereka adalah ipar raja Wirata, Prabu Matswapati. Ketiga senapati Wirata yang sakti itu sebenarnya hendak meruntuhkan kewibawaan raja, untuk kemudian mengambil alih kekuasaan.

JAGAL ABILAWA, gambar grafis Wayang Kulit Purwa gagrak Yogyakarta.

 
JAGAL ABILAWA, gambar grafis Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta.


JAGAL ABILAWA, Wayang Kulit Purwa gagrak Cirebon.


JAGAL ABILAWA, gambar grafis Wayang Kulit Purwa gagrak Banyumas. 
 Dibandingkan dengan gagrak Surakarta dan Yogyakarta, yang ini rambutnya terurai lebih panjang, sampai ke kakinya.


 
ABILAWA, Wayang Kulit Purwa gagrak Jawatimuran, digambarkan dengan rambut gimbal dengan daun-daun dan ranting tersangkut di rambutnya.


{[['']]}
{[['']]}

About

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Blvckshadow - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger